Dunia Rafi

Muhammad Rafi Althaf Wiratara

Posted in DuniaRafi by wiratara on September 13, 2007

 lirikan-maut

Halo teman semua…inilah foto kami…

Nama kami “Muhammad Rafi Althaf Wiratara”, panjang ya…tapi kata ayah dan mama ini adalah rangkaian doa ayah dan mama untuk rafi…

Artinya kata mama dan ayah sbb:

Muhammad = mengikuti nama nabi Muhammad SAW, Rafi [arabic] = Maha Tinggi, Althaf [arabic] = Lemah Lembut, Wirartara [sanskert] = Gagah pemberani….wah doanya lengkap ya…mudah-mudahan terkabul..amin..

Silahkan browsing ke blog rafi ya…dan sangat dianjurkan untuk mengisi komentar!

Note: Most of the contents are in Bahasa Indonesia version, but if you want to read this blog in the other languages (english, french, dutch, japanese, chinese), please look at the right-side bar and go to ‘different languages version’ and choose what kind of language do you want. But, this is automatic translation provided by google which is sometime just a bit incomplete and confusing (ups..sorry). Have a nice surf!

Salam termanis,

~ Rafi ~

Iklan

link ke situs penyedia soal-soal CPNS

Posted in DuniaRafi by wiratara on Oktober 2, 2014

Hari ini 4 (Empat) tahun kemudian…

Posted in DuniaRafi by wiratara on Agustus 28, 2013

Assalamualaikum,

Hadew, mungkin apabila ada kejuaran blogger termalas se-dunia maya, mungkin saya adalah salah satu kandidat juara. Bayangkan, dalam waktu 1 tahun saya hanya nge-post 1 artikel! itupun artikel wajib tahunan yang sudah kucanangkan sejak di Amsterdam dulu. Artikel https://wiratara.wordpress.com/2012/08/30/hari-ini-tiga-tahun-kemudian/ adalah satu-satunya artikel yang mampu aku hasilkan.

Ya sudahlah, memang sudah begitu suratan takdir. Beberapa hari yang lalu aku sempat melihat televisi dimana seorang ayah yang menjadi tenar karena rajin memposting tentang kehidupan sehari-hari dengan seorang puterinya yang cantik. Aku kemudian menjadi super iri!. What a wonderful life they have. Tetapi jauh di lubuk hati, syukur tidak terhingga terus aku panjatkan kehadirat Allah.

Akhir tahun lalu, tepatnya delapam bulan yang lalu, tgl 28 Desember 2012, lahirlah anak kedua kami dengan selamat dan selalu dalam lindungan Allah. Setelah masa kehamilan yang sulit, dua kali masuk rumah sakit dan dirawat karena perdarahan ante partum, serta kelahiran prematur di usia 32 minggu, puteriku yang tabah lahir kedunia dengan tangis yang mengharu biru. Lega rasanya pagi itu. Jam menunjukkan pukul 08.15 WIB di ruangan bersalin RS Hermina Semarang. Puteri kami, penyambung masa depan kami, lahir dengan selamat, sempurna dan tidak kurang suatu apa. Sungguh adalah suatu berkah dari Allah yang tidak berkesudahan. Kami yang sudah bersiap untuk apapun yang akan kami hadapi di usia kehamilan itu, seolah didarati oleh jutaan nikmat yang takkan mampu kami balaskan. Puteri kecil kami alhamdulillah tidak mengalami gangguan pernafasan atau hal lain yang cukup berarti. Kami menamainya DINDA AQILA ALTHAFANI, seorang adik yang berakal dan lemah lembut. Doa kami yang mudah-mudahan diijabah.

Hal lainnya, jagoan kami Rafi tahun ini menginjak sekolah dasar. Bahagia rasanya pagi itu aku mengantarnya sampai ke lapangan upacara. Kegiatan upacara pertamakali yang diikutinya. Seperti biasa, jagoanku yang sedikit pemalu agak canggung untuk berbaur dengan rekan sebayanya. Tetapi untunglah ada kakek yang setia menunggui hingga waktu pulang dan ku jemput kembali. Puteraku tampak gagah dengan seragam putih merah, dasi dan topi. Mengingatkanku akan masa kecilku dulu.

Alhamdulillah hutang-hutang finansialku sudah terlunaskan semua. Allah memang maha pemurah. Pengabul segala doa. Ringan rasanya kini. Tidak ada lagi beban yang dulu serasa berat dan menjadi pikiran tiap malam menjelang. Kini aku mulai menghimpun untuk target selanjutnya. Ya, pensiun dini dari pekerjaanku. Bukan pensiun sepenuhnya, tetapi memasuki masa sekolah kembali dan tanpa penghasilan reguler. Masa-masa yang akan menguras pikiran, emosi dan juga finansial. Aku tengah bersiap, dan insyaAllah bisa. Jika Allah berkehendak, maka “Kun fa ya kun”. Jadi, maka jadilah!.

Tapi bukannya manusia jika alpa akan keinginan. Kodrati dan wajar. Ya Allah, kami bersyukur atas segala nikmat yang Engkau curahkan kepadaku dan kami sekeluarga. Tiada cukupnya kata syukur kami untuk membalas semuanya. Hanya doa dan ibadah kami yang sekenanya ini yang kami mampu persembahkan. Di samping amalan-amalah kecil kami yang entah apalah artinya disisi-Mu. Tapi setidaknya itulah upaya kami. Meskipun belum yang terbaik.

Ya Allah, ijinkan kami kembali memohon untuk tahun ini dan sisa tahun-tahun yang datang. Berikanlah kami selalu perlindungan dari perbuatan bathil, rasa iri dan dengki, sifat kufur, kikir dan tinggi hati. Jadikanlah kami insan kamil, insan yang memiliki tempat istimewa disisiMu. Mudahkanlah jalan hidup dan cita-cita kami. Luruskanlah bila ada yang menyimpang. Tegakkanlah apabila ada yang miring. Tunjukilah kami jalanmu yang lurus ditengah badai modernisasi, kapitalisme dan hedonisme yang marak membelenggu jiwa-jiwa muda. Jadikanlah kami manusia-manusia yang bermanfaat di dunia, dan setidaknya tidak merugikan bagi sesama. Ampunilah dosa-dosa yang telah kami perbuat, baik yang tidak disengaja, ataupun sebagian besar yang kami sengaja. Ya Allah, ampunilah dan maklumilah kami yang terlalu banyak meminta dan terlalu sedikit memberi. Karena kami sepenuhnya tahu, Engkau adalah maha pengabul doa, dari sebaik-baik pengabul doa.

Amin.

SH
28 Agustus 2013
Prasga Residence, Jl Percetakan Negara VIII no.41
Jakpus

Hari ini tiga tahun kemudian

Posted in CelotehAyah&Mama by wiratara on Agustus 30, 2012

Aloha…..sudah lama sekali saya tidak menulis di blog ini rupanya. Padahal seharusnya tidak demikian. Kemalasan adalah alasan utama kenapa hal ini terjadi. A True Procrastinator.

Tulisan ini menyambung tulisan sebelumnya ‘hari ini dua tahun kemudian‘ yang sudah diposting Agustus 2011 yang lalu. Masih di tulis di meja yang sama, kamar kost yang sama, dan dengan laptop yang sama. Bedanya, dulu waktu menulis saya berbaju lengkap, kini bertelanjang dada dengan balutan handuk basah. Alhamdulillah umur saya dipanjangkan dan tetap dilimpahkan nikmat iman, kesehatan dan kesempatan. Tentu saja dengan rizki yang alhamdulillah mencukupi bagi kami sekeluarga.

Tidak terasa sudah memasuki tahun ketiga sejak tulisan ini pertama kali kubuat di Amsterdam 2009 lalu, sebulan menjelang kepulanganku ke Indonesia. Sudah banyak lika-liku kehidupan yang saya lalui dengan keluarga kecil kami. Bersyukur tiada henti. Ya, itulah yang selalu saya ingin lakukan. Pandir rasanya, bila setelah semua ini saya tetap berkeluh kesah. Banyak sekali doa-doa saya di tahun yang lalu yang sudah dipenuhi oleh Alloh, Sang Pengabul Doa. Penentu yang terbaik. Hakim yang teradil.

Tahun ini kami juga tak kalah disirami dengan rizki oleh Alloh. Tidak melulu materi. Kesehatan, ketenangan hati. Isteriku yang sudah semakin dekat dengan kelulusan, anakku yang sudah naik ke kelas TK B dan semakin bertambah dewasa. Ganteng mirip ayahnya!. Kondisi keuangan kami yang insyaAlloh lumayan mapan. Meskipun balance tetap negatif karena belanja modal. hahaha. InsyaAlloh tahun depan bisa di ‘0’ kan ya pak NISP. Luar biasa kenikmatan yang diberikan kepada kami.

Ya Alloh, bukannya manusia kalau permintaan kami hanya berhenti disini. Masih ada setumpuk doa dan pengharapan kami untuk tahun yang akan datang. Tahun yang kami idam-idamkan engkau ridhoi mempersatukan kami sebagai keluarga yang utuh. Dengan tambahan anggota baru yang insyaAlloh Engkau berikan kesehatan, kesempurnaan dan keluhuran. Keluarga yang Sakinnah, Mawaddah dan wa Rahmah. Amin. Saya juga ingin sekolah lagi sekaligus menekuni dunia menulis yang menjadi impian indah setiap malam.

Rumah kami yang Engkau berikan mampu menjadi rumah yang membahagiakan kami. Rumah yang memberikan ketenangan dan ketenteraman. Kesederhanaan yang membawa kebahagiaan. Ilmu yang Engkau berikan kepada kami, alhamdulillah mampu menjadi ilmu yang memberikan manfaat bagi orang lain, membantu bagi yang memerlukan.

Tidak ada kata yang sanggup melukiskan semuanya selain ‘Alhamdulillah’. Kami berharap, Alloh, terus karuniakanlah kami dengan rizki-rizki-Mu. Baik yang terlihat ataupun yang tidak. Yang mampu di-indera secara fisik maupun yang tidak. Yang nyata maupun yang ghoib. Kami meminta dengan menghamba. Kami memohon dengan mengiba. Akan kasih sayang-Mu.

Ya Alloh, jikalau Engkau mengijinkan, kami berharap semoga di tahun depan, kami bisa menulis sambungan tulisan ini ditengah keluarga kecil kami. Dalam suasana yang jauh lebih baik dari kini. Dipenuhi dengan karunia dan kebahagiaan. Kami yakin ya Alloh, Engkau maha pemberi petunjuk yang Hak, penentu keputusan yang terbaik.

Terimakasih ya Alloh…Alhamdulillah…Alhamdulillah….Alhamdulillah..

Setiabudi, Kuningan

30 Agustus 2012; 20:37

Ayahrafi

Hari ini dua tahun kemudian

Posted in DuniaRafi by wiratara on Agustus 20, 2011

Sambungan dari tulisan saya setahun yang lalu https://wiratara.wordpress.com/2010/08/28/hari-ini-setahun-kemudian/

Alhamdulillah ya Alloh, hari ini sudah dua tahun sejak tulisan pertama aku goreskan tahun 2009 lalu di Amsterdam. Kini, dua tahun kemudian Engkau masih karuniakan hidup untuk menuliskan lembaran sejarah kisah hidup ini.

Dua tahun yang lalu menulis awal kisah ini dari student flat ku ditengah dinginnya malam meski waktu itu sedang summer. Setahun kemudian aku menuliskan lanjutan kisah ini dari bilik kamar kosku yang mungil dibilangan kuningan jakarta selatan, tempat yang sama dimana aku menulis kini.

Sudah banyak sekali perubahan yang perlu disyukuri. Empat bulan setelah tulisanku tahun 2010 lalu akhirnya anak dan isteriku bisa berkumpul di Semarang sebagai sebuah keluarga, dirumah mungil kami diujung kota Semarang. Rumah yang setiap dua minggu sekali baru dihuni keluarga yang seutuhnya. Hari dimana aku pulang untuk menjenguk anak dan isteriku.

Ah, sudah cukup menggembirakan kiranya perkembangan yang kami capai. Alloh kembali telah mengabulkan doa-doaku.

Kini di bulan Agustus 2011, di hari ke 21 Ramadhan 1432H, aku ingin berdoa kembali kepadamu ya Alloh. Melanjutkan dan menambahkan doa-doaku untuk tahun yang akan datang. Tahun yang insyaAlloh lebih baik bagi kami sekeluarga. Tahun dimana anyaman-anyaman cita-cita kami mulai menampakan bentuk dan wujud nyatanya.

Ya Alloh Ya Rahman Ya Rahim, terimakasih atas semua nikmat yang telah Engkau berikan, Engkau limpahkan kepada keluarga kecil kami, ibu bapak kami, sanak-saudara kami dan sahabat kami yang membaca tulisan ini.

Ya Alloh sang pembolak-balik hati, Jagalah hati sanubari kami dari kekufuran, kesombongan dan iri dengki. Karena kami tahu, kami paham, bahwa hal itu adalah pembunuh dari keimanan dan penghambaan kami kepada-Mu.

Ya Alloh Ya Robb, bagi-Mu dan hanya bagi-Mu doa dan harapan kami bertumpu.

 

SH

Kuningan, Jaksel

20 Agustus 2011/21 Ramadhan 1432 H pk.21:41

 

 

 

 

 

Hari ini setahun kemudian…

Posted in DuniaRafi by wiratara on Agustus 28, 2010

Entah kenapa, hari ini aku teringat, bahwa aku masih memiliki hutang. Mungkin bukan hutang uang, tapi hutang untuk melanjutkan tulisanku yang dulu. Ya, hari ini tepat setahun dari sejak 28/8/2009 ketika tulisan “hari ini setahun yang lalu” aku buat di ujung belahan dunia sana.

Assalamualaikum,

Hari ini setahun kemudian,

Cukup banyak yang berubah, duniaku, hidupku dan orang-orang disekelilingku,

Tidak kusangka, satu tahun mampu merubah segalanya,

Menyembuhkan luka, menyamarkan gundah, dan mewarnakan kehidupan,

Setahun yang lalu, ketika tulisan itu dibuat, aku sedang sendiri, meresapi malam di flat ku ditepi Amsterdam,

Kini setahun kemudian, ketika aku menulis lanjutan drama hidupku,

Aku masih tetap sendiri, meresapi hidupku kembali, di sebuah kost di kawasan Kuningan.

Tuhan,

Haruskah aku mengeluh? Ah saya rasa tidak perlu..

Justru aku sangat bersyukur, Engkau telah mewujudkan do’a ku setahun yang lalu..

Isteriku kini sudah bersekolah, aku sudah memiliki pekerjaan yang baik, dan kami sekeluarga di naungi dengan rahmat dan ridho-mu..

Rasanya tidak layak aku berkeluh lagi…Pandir..

Meskipun masih ada beberapa hal yang belum terwujud; bisa mewujudkan keluarga yang utuh, menemani puteraku jalan-jalan di sore hari, mendongengkannya cerita ketika malam menjelang, atau sekarang bermain tebak-tebakan kartu bergambar..

Ah, tapi itulah manusia..tidak pernah merasa puas..Mungkin hingga nyawa singgah di kerongkongan..

Tuhan,

Setahun itu ternyata tidak lama,

Tapi setahun itu sudah cukup untuk merubah segalanya..

Tuhan,

Syukur beribu syukur aku Engkau pertemukan aku kembali dengan hari ini,

Di bulan Ramadhan ini, puasa ke 18, mudah-mudahan Engkau mengijabahi do’a-do’a ku..

Janji-Mu sang pemenuh do’a..Janji yang pasti tidak pernah Engkau ingkari..

Seperti hal nya hari ini aku menjadi saksi kuasaMu atas do’a ku setahun yang lalu..

Tuhan,

Engkau boleh menyebutku sang peminta-minta..

Tapi bukanlah Engkau mengajarkan yang demikian? “Memintalah hanya kepadaKu, maka Aku akan mengabulkan?”

Tuhan,

Aku ingin menjadi sang pembelajar..

Yang memapu melihat hidup dari sisi-sisi yang belum terjamah..

Tuhan,

Engkau Sang Maha Pembuka Tabir..

Aku tidak ingin meramal masa depanku..

Aku tidak ingin bertanya kepada selain Engkau..

Aku tidak takut berjalan didalam gelap, karena bagiku gelap adalah wahana meresapi diri yang paling baik..

Seperti Gua Hira bagi Muhammad SAW..

Tuhan,

Satu episode kehidupanku kini sudah terbuka,

Episode-episode lainnya menunggu untuk Kau buka..

Tuhan,

Hari ini aku memohon dengan tulus..

Ijinkanlah aku menemui kembali hari ini setahun yang akan datang..

Dengan keadaan yang lebih baik…

Ya Alloh, kalau memang itu sudah menjadi ketetapanMu, maka pertemukanlah…

Amin.

Wassalam,

SH

28 Agustus 2010 (Setahun Kemudian)

Kuningan, Jak-Sel

SISKA KOST Pedurenan Masjid II

Jangan Menyerah…

Posted in CelotehAyah&Mama by wiratara on Juli 28, 2010

Beberapa hari ini entah kebetulan atau tidak, sering saya mendengar cuplikan sebuah lagu dari kelompok band D’Massiv yang berjudul “Jangan menyerah..”. Bunyinya kira-kira begini…..”syukuri apa yang ada, hidup adalah anugrah…tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik…” Sungguh indah dan menyentuh hati syairnya, membuktikan bahwa grup band ini adalah sekumpulan anak-anak muda yang peka terhadap kondisi sosial disekitarnya. Begitu jarang kita jumpai ditengah era globalisasi informasi dan transformasi budaya yang luar biasa cepat ini masih ada sekelompok artis yang masih memiliki tanggung jawab moral kepada bangsanya. Ditengah gegap gempita lagu-lagu pop cinta-cintaan dengan syair-syair yang tidak bermutu dan ditengah kemunculan kembali film-film porno dan horor dari alam kuburnya, munculnya lagu ini (walau sudah agak lama) mampu menjadi oasis bagi kita, menyejukkan hati, mengajak kita berintrospeksi lebih dalam, dan teramat dalam. Rangkaian kalimat sederhana yang ditata indah dan sarat makna, mampu mengetuk sanubari yang paling dalam, membangkitkan kepedulian terhadap sesama, bahkan terhadap hal-hal kecil yang sering kita abaikan. D’Massiv, kebaikan kecilmu hari ini mungkin tanpa kalian sadari merupakan sebuah titik balik untuk perubahan dunia menjadi lebih baik. Yuk, syukuri apa yang ada, karena hidup adalah anugerah, tetap jalani hidup ini dengan melakukan yang terbaik……

SH
BNA 2-2-2010

Q/A – Tanya jawab tentang kehidupan..

Posted in Intermezo by wiratara on Juli 28, 2010
Q: Apakah Kelemahan itu?
A: Kelemahan adalah anugerah dari Tuhan untuk menyadarkan bahwa manusia memiliki keterbatasan.

Q: Apakah Kekuatan itu?
A: Kekuatan adalah cobaan dari Tuhan untuk mengetahui sejauh mana manusia mampu bersyukur.

Q: Apakah kegagalan itu?
A: Kegagalan adalah nikmat dari Tuhan agar manusia mau terus belajar.

Q: Apakah keberhasilan itu?
A: Keberhasilan adalah godaan yang diberikan Tuhan untuk melihat apakah dia termasuk golongan orang yang beriman.

Q: Apakah rugi itu?
A: Rugi adalah apabila kita menerima terlalu banyak tetapi sedikit sekali memberi.

Q: Apakah untung itu?
A: Untung itu adalah apabila ketika kita mampu banyak memberi dari sedikit yang kita terima.

Q: Apakah Sukses itu?
A: Sukses adalah ketika kehadiran kita mampu menghadirkan senyum orang lain.

Q: Apakah Gagal itu?
A: Gagal adalah saat dimana kita diberi cobaan tetapi tetap tidak mau belajar.

Q: Apakah Hidup itu?
A: Hidup adalah penggabungan dari jasmani dan rohani untuk diselaraskan dengan alam dan penciptaan.

Q: Apakah Mati itu?
A: Mati adalah terputusnya kesempatan kita untuk menjadi makhluk yang lebih baik.

Q: Apakah Puas itu?
A: Puas adalah laksana belanga yang tidak pernah penuh diisi dengan air.

Q: Apakah Cinta itu?
A: Cinta adalah kehendak hati yang menguasai akal dan pikiran.

Q: Apakah Benci itu?
A: Benci adalah kerinduan akan cinta yang dipendam.

Q: Kapan kah ketikan ini selesai?
A: Ya, saat ini, soalnya dah jam 17.20, saatnya pulang kantor.

Note: Q/A ini dituliskan secara sporadis baik pertanyaan maupun jawabannya dalam waktu 5 menit (17.15 – 17.20). Anda berani mencoba membuat kuis trivia dan anda jawab sendiri secara spontan?

SH
BNA 2-2-2010

“Comfort Zone” a.k.a Si Zona Nyaman : A silent killer?

Posted in CelotehAyah&Mama by wiratara on Juli 28, 2010
Istilah Comfort zone a.k.a si Zona Nyaman ini tentunya sering kita dengar apabila kita menyaksikan siaran tivi “Mario Teguh” atau mengikuti seminar motivasi dengan “Andri Wongso”, “Tung Desem Waringin”, hingga seminar bisnis seperti “Hermawan Kertajaya”. Nah, apa sih sebenarnya comfort zone itu? SH akan mencoba menguraikannya berdasarkan sumber referensi dari wikipedia ditambah dengan pengalaman pribadi.

Definisi:
“Zona Nyaman adalah sebuah kondisi perilaku dimana seseorang bekerja dalam sebuah kondisi netral tanpa kecemasan, dengan hanya menggunakan seperangkat perilaku terbatas yang dipunyai untuk mencapai sebuah level kinerja yang menetap dan umumnya tanpa disertai adanya risiko” (Alasdair A. K. White “From Comfort Zone to Performance Management”).

Jadi menilik definisi ini ada beberapa kata kunci yang dapat kita cermati yaitu : “kondisi perilaku”, “seperangkat perilaku terbatas”, “kinerja tetap”, dan “tanpa risiko”. Keempat kata kunci ini adalah ruh dari zona nyaman dan keberadaannya saling kait mengait. Apabila anda saat ini merasakan adanya keempat komponen ini dalam kehidupan anda (terutama dalam bekerja), maka anda mungkin saat ini sedang berada dalam zona nyaman, atau anda mengkondisikan keadaan anda saat ini sebagai zona nyaman. Jadi unsur subyektifitas dan variabilitas individu bermain cukup besar disini. Zona nyaman untuk anda, belum tentu zona nyaman untuk saya, begitu pula sebaliknya.

Nah, terus kenapa zona nyaman disebut sillent killer? kok kayak kanker ovarium aja?
Ya, karena kenyataannya memang begitu. Menurut beberapa pemikiran, zona nyaman akan membuat kita terlena, berasyik masyuk dengan apa yang anda capai hari ini, hingga terlupa bahwa anda mungkin bisa menjadi jauh lebih baik dari sekarang bila anda berani keluar dari zona nyaman itu. Seseorang yang sukses adalah seseorang yang memiliki karakteristik berani keluar dari zona nyaman ini. Karena diluar segala kenikmatan yang diberikan, zona nyaman ini mengkondisikan seseorang hidup dan bekerja dalam keterbatasan. Seperti kasus inersia, seseorang yang sudah menetapkan zona nyamannya akan cenderung tinggal dan menetap tak berdaya didalam kotak kayu yang dia ciptakan sendiri, membelenggu kreativitas dan nyali singa yang dia miliki hingga akhirnya hanya menjadi seekor kelinci yang tidak berani keluar sarang karena takut diburu. Nah, ini lah yang saya sebut sebagai kondisi mati-nya potensi optimum individu.

So, masih pingin berlama-lama di “comfort zone” anda?? Think Twice!

Referensi: http://en.wikipedia.org/wiki/Comfort_zone

Salam,

SH, 5-2-2010
Banda

Hidup itu…

Posted in CelotehAyah&Mama by wiratara on Juli 28, 2010
Hidup itu ibarat roti, dipanggang kurang lama jadinya bantet, dipanggang kelamaan jadinya gosong.
Hidup itu ibarat mangga, diperam sebentar masih mengkal, diperam kelamaan jadinya busuk.
Hidup itu ibarat jalan, terlalu mulus dipake ngebut, terlalu rusak bikin kecelakaan.
Hidup itu ibarat makan, cuma sesendok terasa kurang, habis sebakul kekenyangan.

Kehidupan itu ibarat laut, terkadang tenang terkadang berombak.
Kehidupan itu ibarat tatasurya, semua bergerak bersama meskipun tidak dengan irama yang serupa.
Kehidupan itu ibarat jam pasir, keluar perlahan-lahan hingga suatu saat tak bersisa.
Kehidupan itu ibarat buah simalakama, dimakan ayah mati tak dimakan ibu mati.

Penghidupan itu ibarat kunci, bisa membuka pintu surga dan juga neraka, terserah anda.
Penghidupan itu ibarat kertas, bisa tetap putih atau bernoda tinta-tinta.
Penghidupan itu ibarat dahaga, puas dan tidak puas tidak jelas batasnya.
Penghidupan itu ibarat lukisan affandi, abstrak, tergantung anda menafsirkannya.

SH
Banda Aceh 2-3-10

Rakyat sejahtera Tugas Siapa??

Posted in CelotehAyah&Mama by wiratara on Juli 28, 2010

Suatu pagi di sebuah kedai kopi di sudut kota tua di ujung sumatera. Tampak dua orang pria sedang asyik duduk di kursi plastik hijau berlengan. Diantara mereka terdapat sebuah meja plastik warna kuning dengan terhampar makanan kecil onde-onde, timpan, pulot panggang dan tentunya roti samahani. Di kiri dan kanan tampak kepulan asap rokok tak henti-hentinya menyeruak mengisi ruang-ruang di kedai kopi beratap seng dan berlantai semen keras itu. Sementara di luaran, hujan rintik-rintik menari membasahi jalan dan menimbulkan irama bertitikan di atas seng kedai kopi yang sudah mulai kuyup.

Kuhentikan langkah, dan aku putuskan duduk di sebuah kursi tak jauh dari mereka. Kursi plastikku sama dengan yang mereka duduki, berwarna hijau, agak berlekuk dalam, dan juga berlengan. Kontur kursi jauh dari prinsip ergonomis dan apabila kita sudah duduk maka agak susah untuk berdiri, oleh karena itu banyak orang yang betah duduk hingga berjam-jam. Didepanku persis terdapat meja plastik yang sama, dengan hamparan makanan yang serupa. Cuma bedanya, kepulan asap rokok disini tidak sekental disebelah mereka, hanya sepoi-sepoi angin dingin yang menerbangkan asap dari kejauhan.

Kedua pria itu tampak asyik berdiskusi. “mungkin mereka sedang memperbincangkan bisnis atau hal yang serius” pikirku. samar-samar suara mereka mulai terdengar seiring dengan semakin memanasnya perbincangan diantara keduanya. Berikut adalah petikan kalimat yang sempat saya curi dengar:

Pria A: “Ah…Ndak betul itu! kesejahteraan rakyat miskin harusnya merupakan tanggung jawab negara” ujarnya berapi-api.
Pria B: “Memang benar, tetapi kan kamu tahu, negara kita kan juga sedang susah. Resesi global, kredit macet, bail out bermasalah, CAFTA, carut-marut birokrasi, yang kesemuanya merupakan pukulan bagi pemerintah.” sahutnya mencoba menenangkan.
Pria A: “Ah, omong kosong itu! sebagian besar masalah itu kan man-made, seharusnya bisa dihindari, dan bukan dijadikan kambing hitam” sungutnya ketus.
Pria B: “Iya, benar, kamu tidak salah. Tetapi tetap hal tersebut diatas merupakan sebuah alasan yang valid untuk menjustifikasi ketidakmampuan pemerintah saat ini.” sahutnya lagi.
Pria A: “Wah, kalau semua bisa dijadikan sebagai alasan pembenaran kegagalan, maka tidak perlu lagi ada pemerintah. Karena sudah pasti tidak memberikan kontribusi pada kemaslahatan masyarakat. Selalu aja ada alasan untuk ngeles.”
Pria B: “Bukan ngeles. Ini fakta. Presiden kita kan bilang, kalau bicara harus dengan fakta. Nah, alasan itu tadi adalah fakta yang tak terbantah”
Pria A: “Fakta tak berbantah atas kegagalan pemerintah??”
Pria B: “Fakta tak berbantah akan penyebab kegagalan pemerintah..”
Pria A: “Wah, kalau begitu nanti kita jadi masyarakat yang permisif dong!”
Pria B: “Bukan permisif, tetapi masyarakat yang santun dan beretika”
Pria A: “Ndak betul itu namanya, merepresi kritikan bukan solusi permasalahan”
Pria B: “Bukan represif, tetapi menaati rambu-rambu ketimuran, santun, bertatakrama”
Pria A: “Lalu kenapa makin banyak orang korupsi yang ndak pake malu??; bukannya malu adalah salah satu ciri ketimuran?!”
Pria B: “Bukan tanpa malu, tapi mengedepankan ‘asas praduga tak bersalah’; beda itu. Sebelum terbukti secara hukum, maka kita tidak bisa menyebut dia koruptor”
Pria A: “Meskipun jelas-jelas negara dirugikan dan uang masuk kantong pribadi”
Pria B: “Asas praduga tak bersalah pak, dan budaya ketimuran yang santun”
Pria A: “Wah, kalau begitu, tidak mengedepankan asas keadilan dan kepatutan dong”
Pria B: “nah, itulah risiko demokrasi dan negara hukum. Semua harus tunduk.”
Pria A: “Meskipun hukum dapat dibeli dan diperjual belikan?”
Pria B: “Nah, itu juga risiko. Risiko demokrasi dan mengedepankan asas kekeluargaan. Itu budaya ketimuran juga.”
Pria A: “Hawrakaddah! Lha kalau begini semua yang terjadi sekarang ini masih sesuai budaya ketimuran dong”
Pria B: “Lha, ya jelas lah. Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Lha begitu…”
Pria A: “Maksudnya pak?”
Pria B: “Lah, kok malah tanya saya. Saya juga ndak tahu..Wong saya bukang orang jawa..”
Pria A: “Hawrakaddah..tobaat…tobaat..”

Hujan mulai reda. Saya pun beranjak bangun meskipun badan terasa malas. tiga ribu lima ratus perak untuk segelas teh hangat dan beberapa potong kue. Saya beranjak pergi dan meninggalkan kedua orang yang masih sibuk beradu argumen. Entah mereka dipihak mana, pihak penguasa atau pihak yang sedang mencari kuasa. Entah…

Salam,

SH
BNA 2-3-2010