Dunia Rafi

Berkat atau Kutuk ? -part I

Posted in CelotehAyah&Mama by wiratara on November 18, 2008

 fotoku

 

Setiap hari disaat kita beraktifitas tentunya banyak kejadian yang kita alami ataupun kita lihat, mungkin dikarenakan kesibukan atau mungkin dikarenakan tidak terlalu berkesan, maka dalam hitungan detik kejadian yang baru kita alami atau kita lihat tadi sudah terhapus dari ingatan kita. Pernahkah kita menyempatkan satu jam saja dalam hidup kita untuk diam sejenak, mengingat kembali kejadian yang telah kita lalui hari ini untuk kemudian kita resapi makna dibalik setiap kejadian tersebut?

Kalau belum, maka mulailah! Luangkan satu jam saja, ingat kembali dan pilih beberapa kejadian yang paling berkesan dan renungkan!

Lambaran lama itu terbuka kembali

Pagi ini saya berangkat dari Flat saya jam 8.40, dijalanan hujan gerimis turun tidak terbendung lagi memaksa saya untuk mengayuh sepeda agak pelan, serangan dingin dan tetes hujan yang membasahi kacamata membuat tubuh ini menggigil sekaligus mata berkabut. “Wah, mungkin saya akan telat hari ini” pikir saya. Semeter demi semeter saya lalui jalanan kecil membelah perkampungan diwilayah Diemen Sniep sampai akhirnya tanpa terasa “Ngiiiikk” bunyi rem sepeda saya yang basah tergencet oleh cengkeraman jemari tangan saya yang kedinginan. Akhirnya sampai juga di KIT dengan selamat.

Rupanya benar hari ini saya terlambat, 10 menit! tapi gak papa, belum satu jam ini pikir saya. Hari ini adalah pelajaran Epidemiologi yang dipandu oleh Yme Van Den Berg, Course Coordinator untuk ICHD. Lumayan menarik, cuman saat saya melihat ke kiri dan kekanan, nampak wajah teman2 mulai kelihatan tidak berminat dan sesekali terlihat mengangguk sekenanya karena terlirik oleh Yme. “Wah, lucu sekali, mereka pura2 ngerti padahal bingung”, bisik hati kecil saya yang nakal dan terus menggoda saya untuk memperhatikan teman2 saya. “Yah, maklum orang2 tua”, godanya lagi. Hmm…akhirnya jam istirahat tengah pagi pun tiba. “15 menit coffee break lalu kita berpencar menjadi dua kelas seperti biasa” seru Yme memecah keheningan, sontak senyum pun mulai terurai di bibir teman2ku, “wah, merdeka!” itu mungkin yang mereka pikirkan.

Bergegas sayapun keluar kelas dan naik ke lantai 3 untuk mengambil hasil pekerjaan writing saya untuk tema Determinant of Health atau kami menyebutnya “DoH; spellingnya De-O-Eij”. Perlahan saya buka loker saya dan sama melihat seonggok amplop putih bermotif kuning gading khas amplop KIT. Perlahan saya ulurkan tangan dan saya ambil amplop itu dengan dag-dig-dug. Setelah amplop saya buka, nilainya “52” dibawah passing grade 55..wow! fantastis sekali saya pikir, kemudian saya lihat banyak sekali komentar tertulis disana dengan bentuk hurup tidak beraturan seperti hanacaraka “wah, nampaknya hari ini kamu kalah” kata hati kecil saya tanpa ditanya. “Siapa yang kalah!?” Bentak otak saya kepada hati kecil saya..”Ya Kamu!” balas hati kecil saya tak kalah sengit. Saya pun akhirnya turun tangan melerai mereka sebelum perdebatan itu memanas. “Sudah-sudah” kita kan orang dewasa, jadi apapun hasilnya itu adalah rahmat dari Alloh, jadi harus kita syukuri..lalu perlahan2 saya membimbing mereka membaca hamdalah..Alhamdulillah…(Ayahrafi harus membuat revisi sesuai dengan saran dari penilai untuk perbaikan nilai)

Saya jadi teringat peristiwa dahulu kala, momen dimana saya harus mencari jati diri melalu pengalaman pahit, jatuh bangun, jatuh lagi untuk kemudian bangun lagi. “Jangan didramatisir mas, kayak lagu ndangdhut” tiba2 hati kecil saya kembali nyelonong. “Eiitt…hati-hati kalau bicara ya! tak cabe nanti mulut kamu!” bentak otak saya dengan paras konyol. Jadi geli kalau ingat masa-masa itu.

Masa-masa sulit

Begini ceritanya. Waktu itu tahun 1993, usia saya 12 tahun. Di usia yang sekecil ini saya sudah harus mandiri, kebetulan saya sekolah di SMP 2 Semarang sedangkan rumah saya di Desa Jeketro, Gubug, Grobogan kira2 1 jam jarak tempuh dengan mobil atau sepeda motor. Jadi mau tidak mau saya harus indekos. Yah, mau bagaimana lagi, semangat bapak saya yang STM tak tamat itu begitu membara menyekolahkan saya semampunya. Alhamdulillah otak agak encer, jadi bisa masuk SMP 2 yang waktu itu favorit (menurut kabar). Sejak hari pertama bapak meninggalkan saya di Kos Kampung Lasipin disebelah rumah petinju Sutan Rambing itu, saya mau tidak mau harus mandiri. Semua harus saya kerjakan sendiri. Bahkan satu kamar saya diisi oleh 3 orang sekaligus, 2 orang adalah anak STM. Jadi saya yang paling bungsu dan sering dibuat kalahan disana, cuman karena mbeling ya jadinya sering berantem dengan anak STM tersebut (Namanya Yoga Sutama, saya panggil Yoga) satu lagi Joko namanya, anak kampung juga. Joko tipikal orang yang unik, agak katrok dan suka meludah disembarang tempat didalam kamar. Sampai2 suatu hari sandal saya juga diludahi, karena jengkel akhirnya saya tulis pesan di kertas “Jangan meludah disembarang tempat, ttd: korban ludah”. Wah lucu sekali kalau ingat, besoknya dia agak masam, tapi sesudah itu perilaku meludahnya agak berkurang.

Di kelas I saya termasuk yang paling katrok mungkin, maklum dari desa! kerjaan saya tiap hari maen game Ding-Dong di Plaza Sri Ratu peterongan, sampe uang jatah (Rp.10.000/minggu) untuk jajan seringkali habis tak bersisa. Kalau ditanya bapak dan ibu, saya bilang untuk beli macem2, buku, penggaris, alat tulis, pokoknya ada aja alasan (kemampuan bersilat lidah inilah yang membuat ibu saya mahfum bahwa saya adalah “Palen”; atau sebutan untuk orang yang pandai ngomong dan tak mau kalah). Karena kemalasan saya akhirnya mid semester pertama saya mendapatkan ranking 42 dari 44 siswa dikelas. Juara 3! dari belakang tapinya. Wah, terang-terangan bapak dan ibu murka, saya pun diinterogasi mati2an (gimana nggak, saya lulus SD dengan NEM terbaik di sekolah 45,03 atau rata2 nilai NEM saya 9 dari 5 mata pelajaran yang diujikan), saya pun dengan tenangnya menjawab “Namanya juga adaptasi, nantikan naik sendiri” ucap saya sekenanya waktu itu. Dengan agak dongkol, bapak dan ibu akhirnya menerima juga alasan saya yang tidak masuk diakal sehat itu. Cuman, kakak saya karena kesal berkelahi dengan saya, dia mengumpat saya dan menuliskan dibalik pintu rumah bahwa “Selamet Hidayat ranking 42 dari 44 siswa, Cemplolo ya ta?” =cemplolo itu artinya “blo’on. Tulisan itu terus dibiarkan disitu sampai saya dewasa, baru setahun yang lalu tulisan itu hilang karena dicat oleh adik ipar saya tanpa sengaja. Wah, hilang deh bukti sejarah masa lalu yang kelam!. Dulu sebelum di cat, kami (saya, kakak, ibu, bapak) sering senyum2 kalau melihat tulisan dibalik balik pintu itu. Wah, Mbak Akhirnya aku bisa membuktikan kalau aku tidak Cemplolo kan?

Sebuah Titik Balik!

Tiga tahun saya jalani dengan peringkat yang jelek dan menggelikan, sampai2 karena frustasi waktu kelas dua saya sering kali nyontek waktu ujian sama Husni Maradhona, teman SD ku anak pak Kades yang kebetulan juga sekolah di SMP 2, padahal selama 6 tahun kami satu kelas waktu SD, dia selalu di peringkat 3 sedangkat saya peringkat 2 abadi dan Siti Khotimah tetangga dempet sebelah rumah saya peringkat 1 abadi juga. hmmm…saya kiranya telah menempuh jalan yang sesat waktu itu. Setelah kelas 3, akhirnya saya menemukan titik balik dalam hidup saya, hari itu ulangan bahasa inggris, dan saya mengerjakan semuanya sendiri, saat dibagikan, mengejutkan! saya mendapat nilai 10-, kenapa pake min (-) segala, karena saya ada sedikit salah tulis disalah satu jawaban. Kelas gempar! apa pasal? karena ada yang dapat nilai 10- ya itu saya. Wah, jadi bombong hati saya waktu itu dan hari itulah hari kebangkitan saya. Hari yang akan terus saya kenang sebagai titik balik, sebuah awal baru. Sejak saat itu saya berjanji kepada diri saya, apapun yang terjadi saya tidak akan nyontek lagi! saya pasti bisa! semangat itu mengantarkan saya untuk pertamakalinya dalam sejarah sekolah di SMP2 saya dapat ranking 7 alias sepuluh besar dan NEM lumayan 49, 30 (enam mata pelajaran, jadi reratanya sekitar 8,2).

Masuk SMU 1 Semarang!

Dengan semangat pantang nyontek saya jejakkan kaki saya kuat2 di bangku SMU ini. Alhamdulillah caturwulan/semester (saya lupa) pertama saya langsung menyodok ke posisi ranking 2, posisi yang kemudian runtuh saat kenaikan kelas saya cuman dapet ranking 5. Wah, kembali saya diinterogasi oleh keluarga, ngeri sekali! Hari itu saya berjanji kepada mereka bahwa saya akan belajar lebih giat lagi! Di kelas 2 saya buktikan janji saya, saya kembali bertengger di ranking 2 dibawah Dian (Dian Darmadi sekarang jadi perancang kebaya mantenan). Wah, kami memang rival abadi dari kelas I. Naik kelas III, term pertama saya menyabet ranking I, juara bersama dengan Kurniawan (si kembar yang dua2nya selalu ranking I) walaupun akhirnya term berikutnya saya harus puas diposisi ke 3 tergeser oleh Ana si ratu nyontek (ana kul di IPB bogor jalur PMDK) di posisi kedua dan Kurniawan di posisi I. Tapi untuk NEM saya tetap posisi kedua dengan hanya mengantongi 44,70 (untuk 7 mata pelajaran, jadi rerata hanya 6,4), maklum Ujian tahun 1999 untuk SMU merupakan soal uji coba dan semua SMU jeblok!

UMPTN!

Dengan bersusah payah setelah 1 tahun ikut bimbingan Neutron Jogjakarta didekat simpang MILO, akhirnya saya harus berjuang mempertaruhkan nyawa dan masa depan. Di Neutron prestasi saya biasa2 saja, skor saya hanya masuk di line up kedua, tidak pernah ke line up pertama. Untuk anda tahu, dari seluruh pelajar yang bimbel di Neutron (sekitar 500-an lebih), hanya ada kurang dari 20 orang yang masuk di line pertama, sedangkan line kedua mungkin sekitar 50-100 orang, jadi masih lumayan bisa sombong..he..he..teman2 saya rata2 di line 3 dan line 4. Karena saya selalu di line 2, oleh advisor Neutron maka saya disarankan untuk promosi mengambil jurusan yang seharusnya milik teman2 si line I, yaitu saya bisa ambil kedokteran dan semua jurusan di teknik (waktu itu paling top kedokteran dan teknik). Akhirnya saya putuskan kedokteran Undip pilihan pertama dan Teknik sipil UNS sebagai cadangan kedua, waktu itu advisor saya mengamini saja. Terimakasih pak, walaupun saya sudah lupa dengan anda, mudah2an Alloh selalu merahmati. Itupun setelah saya bertengkar mulut dengan ibu dan bapak saya karena awalnya saya kepingin masuk Teknik Pertambangan ITB, sebuah cita2 yang sudah saya gadang sejak kelas 2 SMU. Wah, keren jadi insinyur tambang, kerja dihutan, dilaut dan diluar negeri! Akhirnya kupupuskan cita2 itu demi keutuhan keluarga. Kepercayaan itu tidak saya sia2kan, dengan berbekal “ilmu penalaran” dari eyang guru di Neutron Jogjakarta, satu persatu soal saya lahap, soal hari I, saya keluar dengan penuh senyum. InsyaAlloh berhasil kata saya dalam hati. Hari kedua, giliran soal2 penjurusan IPA, wah ketar-ketir saya. Fisika saya hampir dipastikan DODOL garut! alias nge-blank! ya udah, akhirnya dipakai jurus “Gambling”, soal lainnya tidak terlalu sulit waktu itu.

Satu hari setelah UMPTN keluar kunci jawaban dan pembahasan di Koran Suara merdeka, akhirnya saya dan teman2 membeli untuk kemudian mencocokkan jawaban. Skor saya waktu itu berdasarkan pemeriksaan sendiri adalah 690. Wah, ketir2 juga, passing grade berapa ya….Ada rumor bahwa passing grade kedokteran Undip waktu itu adalah 650, wah kalau benar mungkin saya lewat. Tapi keyakinan saya waktu itu, saya tidak lewat Undip tapi saya pasti lewat UNS, makanya saya minta tolong kakak saya untuk mencari kos-kosan didekat UNS lewat kawannya, supaya nanti tidak rebutan dengan siswa baru lainnya.

Alloh Berkata Lain!

Pagi itu Minggu di pertengahan Agustus 1999, jam 5 kurang 15 menit saya sudah bangun, kemudian sholat, masak mie, dan bergegas menjemput Mas Harjo (Anak Budhe Pah, kakak sulung Bapak) yang kebetulan ketemu waktu jumatan dan mau antar saya beli koran pengumuman UMPTN. Saya bergegas menaiki Kawasaki Kaze-R menuju rumah Mas Harjo yang memang sejalan ke arah kecamatan Gubug, 7 kilo meter dari Desa Jeketro. Tampak dari kerjauhan Mas Harjo sudah duduk di Buk (Buk=bahasa jawa untuk tempat duduk berupa balok semen didepan rumah) menunggu. “Sudah lama mas” tegur saya; “nggak, baru aja”. Akhirnya setelah sedikit basa-basi kami segera meluncur ke sebuah agen koran di bawah tanggul Kali tuntang karena takut kehabisan. Benar juga, waktu kami sampai sudah berpuluh orang mengepung rumah kecil bercat hijau itu. “wah telat kita mas, dah habis mungkin” bisik saya ke Mas Harjo, “coba kita tanya dulu” ucapnya lirih. Usut punya usut ternyata koran yang ditunggu belum datang, karena pesuruh dari agen koran tersebut harus menjemput korannya langsung dari Solo naik sepeda motor. Katanya sudah berangkat dari jam 1 dini hari. Wah, jadi tambah cemas ni hati. Dag Dig Dug, bunyi jantungku seperti bedug kala lebaran kemarin. Akhirnya kami putuskan untuk menunggu. Setelah sekitar 1.5 jam nampak dari kejauhan seorang lelaki muda mengendarai sepeda motor dengan tombong dibelakang sadelnya yang berisi tumpukan koran. Akhirnya! kami berseru kegirangan..tapi jantung ini tetap tidak bisa diajak kompromi. Makin menderu seperti knalpot mobil F1 atau bunyi pesawat F-18 Hornett yang memecahkan barrier suara sehingga menimbulkan sonic boom.

Dengan sedikit berebut, akhirnya saya mendapatkan satu eksemplar koran dengan harga beberapa kali lipat dari harga normal. Kalau tidak salah, satu eksemplarnya 5000, padahal biasanya sekitar seribuan. Ya udah. Perlahan saya lihat nama dan nomor2 yang berjejer rapi layaknya semut hitam yang menunggu remah roti yang tumpah untuk diserbu. Wah, kok tidak ada, lesu dan semakin nestapa hati ini. Pasrah! ya saat itu saya hanya pasrah!…”Coba lihat lagi, sini sambil saya bantu lihatin” tiba-tiba suara Mas Harjo memecah keheningan hati saya, mengoyak lamunanku yang sudah mulai menerawang jauh membayangkan masa depan yang suram. Satu persatu koran itu kami buka, mata kami dengan ganas melahap huruf demi huruf, angka demi angka hingga akhirnya “Lha Ini Namamu!” kata Mas Harjo sedikit berteriak. ” Mana Mas?” tanyaku lirih seolah tak percaya. Dia kemudian menunjuk sebaris kata “Selamet Hidayat xxx046”. Iya! Alhamdulillah ya Alloh, ingatan saya sekilas melayang sekelebat layaknya kelelewar yang terbang mengitari malam, membayangkan betapa senangnya Bapak dan Ibu waktu mengetahui saya lulus UMPTN. “Ini lulus dimana?” suara Mas Harjo kembali memecah lamunanku, “O..gak eling aku mas?” ucapku setengah sadar, tapi yang jelas antara Undip dan UNS…mungkin UNS!” jawab saya setengah bimbang.

Akhirnya kami meluncur pulang dengan hati setengah lega (jadi ingat “setengah isi setengah kosong” – sebuah buku yang hampir saya beli waktu di Masjid Puncak Bogor, sayang waktu itu penjualnya lagi gakada ditempat). Di jalan kami sempat membuat perjanjian bahwa nanti setibanya di rumah kalau ditanya Bapak apa saya lulus saya suruh Mas Harjo bilang “Ndak tahu, keliatannya Ndak ada”…”wes pokoknya bilang gitu ya..ini kejutan” pinta saya dan Mas Harjo pun mengamini. Sesampainya dirumah, ibu langsung menghampiri, “Gimana Nang? lulus?” tanya ibu dengan antusias…”wah, kayaknya enggak Bu..” jawab saya dengan mimik sedih, sekilas terlihat raut muka Ibu berubah menjadi kecewa…tapi apa lacur, rencana sudah di set-up, dan tidak boleh gagal kejutannya. Kemudian saya pun memasuki rumah dan langsung meluncur masuk kedalam kamar dimana saya menghabiskan hampir 2 minggu untuk belajar sebelum UMPTN untuk melihat kode fakultas untuk xxx046. “Piye Jo, yayat lulus gak?” dari luar kamar terdengar suara Bapak bertanya kepada Mas Harjo. “Ora ketoke” jawab Mas Harjo sesuai skenario. Sambil membuka buku panduan UMPTN saya sembari mendengarkan obrolan Bapak dengan Mas Harjo, nampaknya Bapak juga kecewa karena saya gagal. Akhirnya ketemu! xxx046 : Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Alhamdulillah, pekik saya dalam hati. Kemudian saya keluar kamar dengan senyum simpul dan saya sodorkan buku panduan itu ke Bapak sambil berucap lirih “Pak, saya diterima di Kedokteran Undip”, “lho kata Mas Harjo gak keterima” ujar Bapak meyakinkan keraguannya. ” Gak, tadi cuman bercanda, surprise” kata saya sambil menunjukkan nama saya tertera disalah satu baris koran yang saya beli tadi. Tiba2 dengan tawa yang cukup keras Bapak merangkul saya kuat-kuat sambil tampak matanya mulai berkaca-kaca, “Alhamdulillah..Alhamdulillah” ucap Bapak berulang-ulang kemudian sekonyong-konyong Ibu datang dan sedikit terkejut dengan pemandangan yang baru saja dilihatnya. Gak keterima kok malah jingkrak-jingkrak, mungkin itu pikir ibu saya waktu itu. Bapak kemudian dengan riang memberitahukan Ibu bahwa saya diterima di Kedokteran, tak pelak Ibu pun kemudian memeluk saya erat-erat sambil berkaca-kaca. “Alhamdulillah” ucap beliau lirih.

Entah darimana skenarionya tiba-tiba Bapak setengah berlari keluar dari rumah dan selang 15 menit kemudian kembali lagi. “Dari mana Pak?” tanya ibu. “Dari rumah2 tetangga, mengabarkan kalau Yayat diterima di Kedokteran Undip”..jawab Bapak berbunga-bunga. Nampak hari itu Bapak tersenyum sangat lepas sehingga nampak giginya yang besar dan agak kehitaman karena merokok sejak sekolah STM yang tidak tamat waktu itu. Rupanya ceritanya belum berakhir, Bapak kemudian tiba-tiba meraih kunci sepeda motor setelah sebelumnya menelepon ke sanak famili mengabarkan kalau saya diterima di kedokteran. “Mau kemana Pak?” tanya saya…”Mau mengabarkan keluarga yang lain kalau kamu masuk kedokteran, soalnya kemarin pada ndak percaya kalau skor kamu bagus dan mungkin bisa diterima”…nampaknya semangat bapak sudah mengkristal seperti batu akik yang dipake Tessi Srimulat. “Ya sudah” ucap saya lirih, sembari membayangkan betapa malunya saya nanti.

Nazar itu Cambuk bagi saya

Seperti Nazar Bapak dan Ibu, kalau saya lulus kedokteran, mereka akan membuat perayaan besar-besaran. Tak tanggung-tanggung 2 ekor kambing yang lumayan besar kemudian dibeli (saya sendiri kurang tahu, dari mana uang tersebut karena setahu saya sudah hampir 1,5 tahun sejak Krismon tahun 1998, Selepan padi (penggilingan padi) milik Bapak sudah tidak beroperasi lagi karena tidak ada konsumen. Jadi hidup kami selama itu harus ditunjang dengan Hutang BRI dan sisa-sisa tanah yang ada di beberapa tempat yang lama kelamaan semakin habis. “Tapi itulah gunanya” kata Ibu waktu itu “Kalau ada uang senggang ya kita belikan tanah, nanti kalau butuh kita jual lagi”..wah, rupanya Ibu juga mengetahui hukum dasar ekonomi. Mungkin tak kalah dengan penulis Cash Flow Quadrant – Robert T Kiyosaki. Itulah pelajaran hidup dari Ibu yang saya kenang sampai kini; “Pendidikan adalah warisan dari kami untuk kalian! Ibu dan Bapak tidak punya harta untuk diwariskan, jadi dengan ilmu kalian nanti bisa cari kehidupan sendiri”. Dengan motto itulah, Ibu dan Bapak mampu bertahan ditengah sindiran orang tua tetangga-tetangga kami yang rata-rata hanya mengenyam bangku SD atau SMP, mereka sering mengejek “Buat apa anakmu disekolahkan tinggi-tinggi, nanti udah habis uang banyak, ujung-ujungnya lupa sama orangtua”…sebuah sindiran pedas. Tapi waktu itu Ibu dan Bapak menanggapi bahwa hal itu tidak akan terjadi pada anak-anak kami). Akhirnya perhelatan akbar itu digelar juga, dua ekor kambing yang dibeli (saya harus gembalakan selama 3 hari menunggu hari H) akhirnya disembelih untuk kemudian bibagikan kesanak famili dan saudara. Saya ingat malamnya diadakan tahlilan tanda syukuran saya sudah diterima dikedokteran; karena malu akhirnya saya hanya tiduran dikamar sambil mendengarkan ceramah dari Pak Haji Khayat sampai akhirnya tanpa sadar saya jatuh tertidur.

Sebuah tonggak sejarah baru dalam perjalan hidup saya mulai ditancapkan. Genderang  perlahan sudah mulai ditabuh diiringi suara pekikan nyanyian perang gadis-gadis berbaju rumbia. Ya…Medan pertempuran baru sudah menunggu didepan mata…

 

(Bersambung ke Part-2)

18-11-08

Diemen, Amsterdam

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Paulus Widjanarko said, on Januari 8, 2010 at 9:13 am

    Hi Mas Rafi,
    awalnya saya iseng mencari nama lasipin Semarang, tempat masa kecil saya tinggal, akhirnya bertemu blog ini.

    Luar biasa! salut tak terhingga, perjalanan hidup yang penuh perjuangan dan mumpuni..
    Salam kenal dan persahabatan,
    paulus

    • wiratara said, on Agustus 30, 2012 at 1:57 pm

      Terimakasih Pak Paulus. Salamd kenal juga. Pak Paulus dulu sempat tinggal di lasipin? saya dulu indekos disamping sasana pak sutan rambing. Salam sukses


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: