Dunia Rafi

Rakyat sejahtera Tugas Siapa??

Posted in CelotehAyah&Mama by wiratara on Juli 28, 2010

Suatu pagi di sebuah kedai kopi di sudut kota tua di ujung sumatera. Tampak dua orang pria sedang asyik duduk di kursi plastik hijau berlengan. Diantara mereka terdapat sebuah meja plastik warna kuning dengan terhampar makanan kecil onde-onde, timpan, pulot panggang dan tentunya roti samahani. Di kiri dan kanan tampak kepulan asap rokok tak henti-hentinya menyeruak mengisi ruang-ruang di kedai kopi beratap seng dan berlantai semen keras itu. Sementara di luaran, hujan rintik-rintik menari membasahi jalan dan menimbulkan irama bertitikan di atas seng kedai kopi yang sudah mulai kuyup.

Kuhentikan langkah, dan aku putuskan duduk di sebuah kursi tak jauh dari mereka. Kursi plastikku sama dengan yang mereka duduki, berwarna hijau, agak berlekuk dalam, dan juga berlengan. Kontur kursi jauh dari prinsip ergonomis dan apabila kita sudah duduk maka agak susah untuk berdiri, oleh karena itu banyak orang yang betah duduk hingga berjam-jam. Didepanku persis terdapat meja plastik yang sama, dengan hamparan makanan yang serupa. Cuma bedanya, kepulan asap rokok disini tidak sekental disebelah mereka, hanya sepoi-sepoi angin dingin yang menerbangkan asap dari kejauhan.

Kedua pria itu tampak asyik berdiskusi. “mungkin mereka sedang memperbincangkan bisnis atau hal yang serius” pikirku. samar-samar suara mereka mulai terdengar seiring dengan semakin memanasnya perbincangan diantara keduanya. Berikut adalah petikan kalimat yang sempat saya curi dengar:

Pria A: “Ah…Ndak betul itu! kesejahteraan rakyat miskin harusnya merupakan tanggung jawab negara” ujarnya berapi-api.
Pria B: “Memang benar, tetapi kan kamu tahu, negara kita kan juga sedang susah. Resesi global, kredit macet, bail out bermasalah, CAFTA, carut-marut birokrasi, yang kesemuanya merupakan pukulan bagi pemerintah.” sahutnya mencoba menenangkan.
Pria A: “Ah, omong kosong itu! sebagian besar masalah itu kan man-made, seharusnya bisa dihindari, dan bukan dijadikan kambing hitam” sungutnya ketus.
Pria B: “Iya, benar, kamu tidak salah. Tetapi tetap hal tersebut diatas merupakan sebuah alasan yang valid untuk menjustifikasi ketidakmampuan pemerintah saat ini.” sahutnya lagi.
Pria A: “Wah, kalau semua bisa dijadikan sebagai alasan pembenaran kegagalan, maka tidak perlu lagi ada pemerintah. Karena sudah pasti tidak memberikan kontribusi pada kemaslahatan masyarakat. Selalu aja ada alasan untuk ngeles.”
Pria B: “Bukan ngeles. Ini fakta. Presiden kita kan bilang, kalau bicara harus dengan fakta. Nah, alasan itu tadi adalah fakta yang tak terbantah”
Pria A: “Fakta tak berbantah atas kegagalan pemerintah??”
Pria B: “Fakta tak berbantah akan penyebab kegagalan pemerintah..”
Pria A: “Wah, kalau begitu nanti kita jadi masyarakat yang permisif dong!”
Pria B: “Bukan permisif, tetapi masyarakat yang santun dan beretika”
Pria A: “Ndak betul itu namanya, merepresi kritikan bukan solusi permasalahan”
Pria B: “Bukan represif, tetapi menaati rambu-rambu ketimuran, santun, bertatakrama”
Pria A: “Lalu kenapa makin banyak orang korupsi yang ndak pake malu??; bukannya malu adalah salah satu ciri ketimuran?!”
Pria B: “Bukan tanpa malu, tapi mengedepankan ‘asas praduga tak bersalah’; beda itu. Sebelum terbukti secara hukum, maka kita tidak bisa menyebut dia koruptor”
Pria A: “Meskipun jelas-jelas negara dirugikan dan uang masuk kantong pribadi”
Pria B: “Asas praduga tak bersalah pak, dan budaya ketimuran yang santun”
Pria A: “Wah, kalau begitu, tidak mengedepankan asas keadilan dan kepatutan dong”
Pria B: “nah, itulah risiko demokrasi dan negara hukum. Semua harus tunduk.”
Pria A: “Meskipun hukum dapat dibeli dan diperjual belikan?”
Pria B: “Nah, itu juga risiko. Risiko demokrasi dan mengedepankan asas kekeluargaan. Itu budaya ketimuran juga.”
Pria A: “Hawrakaddah! Lha kalau begini semua yang terjadi sekarang ini masih sesuai budaya ketimuran dong”
Pria B: “Lha, ya jelas lah. Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Lha begitu…”
Pria A: “Maksudnya pak?”
Pria B: “Lah, kok malah tanya saya. Saya juga ndak tahu..Wong saya bukang orang jawa..”
Pria A: “Hawrakaddah..tobaat…tobaat..”

Hujan mulai reda. Saya pun beranjak bangun meskipun badan terasa malas. tiga ribu lima ratus perak untuk segelas teh hangat dan beberapa potong kue. Saya beranjak pergi dan meninggalkan kedua orang yang masih sibuk beradu argumen. Entah mereka dipihak mana, pihak penguasa atau pihak yang sedang mencari kuasa. Entah…

Salam,

SH
BNA 2-3-2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: