Dunia Rafi

Dewasa dan Kedewasaan

Posted in CelotehAyah&Mama by wiratara on Juli 28, 2010
Dewasa, adalah kondisi tahapan hidup pada manusia, dimana pada fase ini seseorang dipikulkan tanggung jawab secara mandiri, baik dalam kehidupan sehari-hari, dalam kacamata warga negara dan dalam konteks hukum.
Tidak banyak parameter terukur untuk mengetahui apakah seseorang sudah dewasa atau tidak, mungkin batasan umur diatas 18 tahun adalah sesuatu yang lazim dipakai. Entah valid atau tidak, tapi itulah praktek yang ada selama ini.

Kedewasaan, adalah sebuah terminologi yang menggambarkan sosok manusia yang sudah kaffah, baik dalam hal tanggung jawab dunia maupun tanggung jawab akherat.
Kedewasaan adalah sesuatu yang jauh lebih sulit untuk diukur. Tidak ada parameter jelas yang dapat digunakan, karena kedewasaan lebih merupakan sesuatu yang abstrak dan sulit di kuantifikasi. Kedewasaan lebih merupakan sesuatu hal yang bermain di dalam domain alam pikiran yang terejawantahkan dalam sikap, perilaku dan cara memandang hidup.

Dewasa dan kedewasaan bukan merupakan sebuah paket yang melekat. Keduanya bisa dikatakan independen meskipun masih ada benang merah. Umur boleh bertambah, tapi kedewasaan belum tentu dicapai dengan sendirinya.
Kedewasaan lebih merupakan proses kerohanian kalau tidak boleh disebut proses religius dalam mencari bentuk terbaik dari manusia. Melibatkan olah pikir, olah rasa dan juga keikhlasan yang luar biasa. Kedewasaan merupakan proses evolusi dan bukan proses revolusi, karena kedewasaan umumnya tidak regresif dan cenderung progresif. Pengalaman, religiousitas, lingkungan, dan juga visi seseorang akan mampu membimbing menuju kedewasaan yang komprehensif.

Kalau saya dan anda merasa sudah cukup dewasa (baca=tua), jangan berbangga dulu bahwa saya dan anda pasti sudah mencapai kedewasaan. Mari kita sama-sama menilik perilaku kita sehari-hari, bagaimana cara kita memperlakukan sesama, bagaimana kita menempatkan diri kita yang ‘hebat’ ini ditengah-tengah orang yang menurut kita ‘kurang hebat’, apakah kita cenderung mendongak atau menunduk, bagaimanakah kita memposisikan diri kita terhadap Tuhan, dan bagaimana kita menghargai diri kita sendiri. Karena kedewasaan itu harus terus dipupuk dengan banyak berintrospeksi, Bermuhasabahlah!

Salam,

SH

Banda Aceh, 27 Mei 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: