Dunia Rafi

Nostalgia romantika ‘Setia Bakti’

Posted in CelotehAyah&Mama by wiratara on Oktober 9, 2009

Beberapa menit yang lalu aku baru saja sampai di kos isteriku di Semarang setelah perjalanan 2 jam yang cukup melelahkan dari rumah orang tuaku di Gubug..
Ah, tapi ada yang berbeda..perjalanan hari ini begitu banyak menyingkap kembali memori lama yang terpendam sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu…

Aku sudah akrab dengan bau solar dan asap knalpot dari bus-bus butut jurusan purwodadi semarang sejak masih duduk dibangku kelas I SMP..Ya, maklum, sejak SMP saya terpaksa harus sudah hidup terpisah dari orang tua karena menuntut ilmu di Semarang. Sejak saat itu pula-lah aku cukup akrab dengan kernet, sopir atau bahkan abang-abang yang suka mangkal di terminal bus atau di ‘MILO’ nama pemberhentian bus didepan sekolahku.

Sore ini aku beranjak dari rumah ibuku jam 15.30 sore, diiringi tangisan puteraku yang lucu karena ingin ikut dengan ayahnya. Dengan setia bapakku yang sudah cukup berumur itu mengantarku menuju ke tempat dimana aku bisa menunggu bus jurusan semarang. Walaupun sempat bocor ban dijalan, akhirnya aku sampai juga di simpang tiga “Pertelon” gubug. Dari sinilah perjalanan bersejarah itu dimulai.

…”Semarang…semarang….kosong..kosong….” teriak kondektur bus Setia Bakti jurusan Blora-Semarang dengan sigap menghampiriku yang sedang turun dari boncengan sepeda motor…
“Kosong Pak? ada Kursi?” Sergahku penuh tanya..
“Banyak Pak, masuk aja….” Ujar sang kondektur berapi-api..”Masuk dari depan aja pak..banyak kursi kosong..” tukasnya lagi penuh keyakinan.
“Ah akhirnya dapat kursi” pikirku polos…
“KAMPRET!”, umpatku dalam hati sesaat setelah aku menaiki pintu bus ternyata beberapa orang sudah tampak bergelantungan seperti kawan di ragunan :p…
“Ya sudahlah, dari pada harus menunggu lebih lama lagi” gumamku sambil melangkah gontai sembari merengkuh pegangan diatap bus..

Bus mulai berjalan pelan..tampak bukan hanya aku yang terkecoh..beberapa bapak-bapak dan ibu-ibu juga tampaknya terkecoh oleh ulah kondektur yang dengan muka gila-nya bilang kalau kursi masih banyak kosong…”Ah, tenang, bukan hanya aku kok yang ketipu” gumamku dalam hati mengibur diri..
“krek..krek..ngik..ngik…” Terdegar bunyi-bunyian dari badan bus yang sudah penuh luka dan compang camping…menandakan bahwa bus ini sudah uzur dan terlalu keras dipaksa bekerja…”Ah, kalau bisa bicara, mungkin bus ini sudah menjerit minta dibangku cadangkan..” pikirku.

Sejenak berdiri, bus perlahan berhenti dan masuklah beberapa pelajar SMU sambil bercanda ria..”Ah, mirip sekali dengan aku dulu…” Sesungging senyum mulai merekah dibibirku yang menurut orang-orang imut, lucu dan ‘mengenaskan’. Tiba-tiba saja sekelebat memori tempoe doeloe merasuk mengharu biru pikiranku..membuat ku ‘trance’..kesurupan oleh memori saat aku sekolah dulu..Tersenyum-senyum, tersipu malu dan terkadang memandang nanar…mungkin orang-orang yang berdiri di sekitarku menganggap aku stress atau salah minum obat cacing…tapi ‘who cares??’..aku sedang kesetanan…kesurupan memori romantika.

Selang 15 menit aku berdiri, kondektur itu datang lagi dan menarik ongkos bus. “Nggaron Pak!” ucapku sambil menyodorkan uang 5 ribu lusuh yang ku tukar dari uang hasil jualan ibu di toko hari ini. Perlahan tapi pasti, kondektur itu menyodorkan kembali uang seribuan yang jauh tak kalah lusuh kepadaku. “Alhamdulillah masih dapet balikan” ujarku dalam hati. Bus pun berjalan kembali dan aku pun mulai kesurupan lagi.

“Pak…Pak…duduk disana..” tiba-tiba suara kondektur bus Setia Bakti itu menmbuyarkan lamunanku..
“O….i..iya…” jawabku seraya berjalan menuju kursi yang dimaksud..
“Ah..akhirnya duduk juga”…gumamku penuh syukur..
Aku duduk di kursi ke -8 deretan belakang sopir, tepat di samping lorong (‘isle’ bahasa pramugarinya)
Disamping kananku tepat duduk seorang remaja tanggung yang tampak gelisah sambil memegang sebuah kertas amplop coklat yang sudah tidak asing lagi bagiku..ya..kertas hasil rontgent foto Thorax bertuliskan inisial “RJ” atau mungkin Rawat Jalan maksudnya. Tampak sebuah kop PKU Muhammadiyah Gubug. Di sebelahnya lagi didekat jendela ada seorang gadis tanggung juga yang kelihatan asyik dengan lamunannya. Di bagian kiri diseberang lorong tampak seorang gadis ABG yang sibuk mendengarkan MP3 via handphone nokia nya…entah, mungkin biar nampak keren atau mungkin tak tahan bunyi bising bus yang seperti bunyi mesin gilingan padi ayahku dulu..

Walaupun sudah terduduk, kelebat bayangan memori masa lalu itu terus menyergapku….menggoda dan mencumbu kesadaranku…”Ah, lebih baik aku nikmati saja saat ini…”Akhirnya aku menyerah. Bayangan Awang, Hengky dan beberapa karibku dulu saat SMP terus berkelebat. “Ah, teman-temanku, andainya engkau disini bersamaku hari ini, mungkin kita sudah akan berperang kata saling bercerita tentang nostalgia masa lalu…” kenangku..

Bus terus melaju menerjang aspal panas diiring dengan suara lirih …. “Bapak-bapak ibu-ibu siapa yang mau bantu..tolonglah bantu aku…yang tak laku-laku” ..sayup-sayup terdengar suara anak pengamen bernyanyi dengan nada C=Fals sambil menggenggam ‘kecrek’ made in ‘dhewe’ dari tutup botol coca cola. Alih-alih irama melayu seperti lagu yang dinyanyikan..bunyi tutup botol yang beradu bersimfoni dengan suara fals anak umur 10 tahunan itu menghasilkan sebuah orkestra sederhana tetapi cukup mengenaskan…istilahnya “biar Ancur yang penting Nekat…’Jas Duit!’ seperti tag line NIKE”
Ah, kusodorkan uang seribuan lusuh kembalian dari bapak kondektur tadi kepadanya…”Terimakasih Pak…” ucapnya lirih.

Bus terus melaju…gemuruh suara mesin diesel tua beradu dengan riuh rendah suara penumpang yang mungkin sedang menceritakan nostalgia yang sama dengan yang aku nikmati hari ini menghantarkanku hingga tempat pemberhentian terakhir tujuanku…menghantarkanku pada ujung dari nostalgia romantika Setia Bakti hari ini…

SH
Semarang 7-10-09

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: