Dunia Rafi

ASI untuk puteraku….

Posted in Breast Feeding by wiratara on Agustus 28, 2009
(Ditulis untuk menyemangati sahabat-sahabatku yang sudah, sedang atau akan memiliki baby. Ini adalah kisah nyata dari penulis dan keluarga)
 

Hari Selasa 29-5-2007 pas Adzan isya jam 20.10 WIB, lahirlah putera pertama kami Muhammad Rafi Althaf Wiratara. Tangisnya memecah malam seiring dengan bunyi Adzan di RS Kesdam Banda Aceh. Anakku terlahir melalui SC dikarenakan ada sedikit penyulit saat persalinan. Selang beberapa menit, aku diijinkan melihat putera pertamaku, deg-degan, penasaran dan cemas bercampur aduk menjadi satu. Beribu pertanyaan datang silih berganti, maklum ayah baru. Alhamdulillah rafi menangis keras, fisik sempurna dan tidak ada tanda-tanda kelainan. BB=3,500 gram; PB=50 cm. Syukur dan haru, tak terasa mata ini memerah dan berkaca-kaca saat aku kumandangkan adzan ke telinga anakku. Sebuah syukur tak terperi.

Day I. Tuesday May 29th 2007
22.00 WIB – 2 hours after birth
Mungkin karena kelamaan di OK dan proses transfer dari RS ke RB tempat isteriku awalnya dirawat, sementara sang mama masih belum tersadar dari tidurnya setelah diberikan bius general karena awalnya saat diberikan spinal masih kesakitan rafi jadi sulit di-inisiasi. Wah, apa yang harus aku perbuat? teringat aku akan nasehat mbak Tami dan teman2 konselor ASI bahwa baby harus segera disusukan sebelum 1 jam pertama (inisiasi dini). Akhirnya saya coba dengan bantuan bidan setempat yang kebetulan jaga, namun usaha kami seolah sia-sia. Rafi belum bisa menghisap dengan baik dan berkali-kali gagal. Setelah kami coba berpuluh kali dengan kondisi mamanya masih tidak sadar, tetap tidak berhasil. Sedih sekali rasanya hati ini. Bingung, gelisah dan merasa berdosa. Kenapa ayah dan ibu rafi yang dokter tapi tidak bisa mempraktekan inisiasi. Tapi kami mencoba tabah. Akhirnya saya teringat, bahwa mungkin saya bisa perah ASI mamanya. Saya pun mulai memerah ASI isteriku (dia masih belum sadar), tapi mungkin anda tahu ASI pertama (kolostrum) jumlahnya tidak seberapa, hanya beberapa tetes. Tapi saya tidak menyerah, saya coba…coba dan coba..hasilnya hanya kurang dari 0,5 cc..hanya seujung sendok kecil..

23.00 WIB – 3 hours after birth
Perlahan-lahan mama rafi tersadar dari tidurnya..dan untuk pertama kali mama melihat rafi..tak bisa kulukiskan wajah isteriku saat itu, antara senang dan masih pusing karena efek sedatif..satu yang dia tanya: “Bagaimana yah, sempurna?”…”Alhamdulillah sempurna” jawabku. Perlahan kuceritakan usaha kami sebelumnya untuk inisiasi, nampak kesedihan diwajahnya, namun aku tahu, isteriku adalah pejuang yang tangguh. Malam itu kami coba kembali..kembali dan kembali….hasilnya masih tetap sama..rafi belum bisa melekat dan menghisap dengan baik..Akhirnya malam itu kami putuskan istirahat, meskipun dengan perasaan gundah..

Day II. Wednesday May 30th 2007
05.30 WIB – 9.30 hours after birth
Pagi subuh aku sudah terbangun, meskipun sebenarnya aku tidak betul-betul tidur malam itu. Akhirnya kuputuskan menelepon seorang konselor ASI yang ada di Banda Aceh, Bidan Elok namanya, seorang bidan di RSU Zainoel Abidin Banda Aceh. Beliau kebetulan pernah ikut pelatihan dengan dr. Utami Roesli Sp.A yang kami fasilitasi. Jam menunjukkan pukul 5.30 WIB, hari masih gelap, dengan sedikit ragu kuberanikan menelepon, mudah-mudahan sudah bangun pikirku. “Halo…” terdengar suara lelaki diujung telepon..”O..bu eloknya sedang shalat subuh, nanti telp lagi setengah jam” suara putera bu elok diujung telp menutup pembicaraan singkat kami.

06.00 WIB – 10 hours after birth
Setengah jam kemudian, kutelepon kembali nomor yang sama, akhirnya bu elok sudah selesai shalatnya dan kamipun berbincang dengan hangat. “Ibu, kami butuh bantuannya….” dan akupun mulai bercerita kesulitan kami secara rinci. “InsyaAlloh nanti agak siangan saya datang kesana…” ucap bu elok menyahut.

09.00 WIB – 13 hours after birth
Akhirnya bu Elok datang juga..setelah sedikit ngobrol akhirnya sesi konsultasi dan praktek pun dimulai. Kurang lebih 2 jam isteriku dan bu Elok saling bertukar pikiran, berlatih dan berlatih. Dengan sedikit cemas aku menunggui karena rafi masih belum bisa melekat dan menghisap dengan baik. Akhirnya sesi hari itu diakhiri karena bu Elok harus kembali bertugas di RS. Selesai sesi hari itu, kami terus mencoba..mencoba dan mencoba…ASI kami coba perah dan diberikan dengan sendok sementara rafi tetap dilatih melekat dan menghisap…hasilnya hampir tetap sama, tidak terlalu banyak perubahan. Alhamdulillah rafi anak yang tabah, hampir tidak terdengar tangisnya..meskipun aku dan isteriku tahu, pasti dia sangat lapar..

Day III. Thursday, May 31st 2007

Hari ini bu Elok datang agak siang, kebetulan di RS cukup ramai jadi dia menunggu sampai waktu istirahat untuk ke RB tempat isteri dirawat yang hanya berjarak kurang dari 0,5 km dari RS. Hari itu sesi diulang lagi, cuma hanya bisa dilakukan kurang dari 1 jam karena memang beliau ada kesibukan. Kebetulan hari itu ada bayi lain yang baru lahir di RB dan ingin diajari cara menyusui. Usut punya usut ternyata, kami adalah pasien pertama bu Elok di RB ini, jadi begitu mereka tahu ada konselor yang bisa mengajari cara menyusui, berita segera menyebar dari mulut ke mulut. Hari itu ada kemajuan sedikit, rafi sudah mulai bisa melekat, tetapi belum mampu menghisap dengan baik. Malam itu kami putuskan menelepon dr.Utami Roesli (kebetulan kami kenal dan beliau pernah menawarkan bantuan konsultasi jarak jauh bila memang diperlukan), hampir setengah jam kami berbincang, padahal malam itu beliau lagi praktek di jakarta..benar-benar pribadi yang baik..kami diberikan nasehat dan masukan yang cukup menguatkan kami dan isteri.

Setelah hampir 2 hari bisa dikatakan tidak minum ASI sama sekali, kulit rafi sudah mulai agak keriput, mungkin sudah mulai dehidrasi. Tapi Subhannalloh, anakku tercinta masih tetap diam, sesekali merengek karena pipis. Pipisnya pun mulai sedikit. “Ya Alloh, apa yang harus kami perbuat?” pikirku dalam hati agak cemas. Akhirnya aku putuskan setelah diskusi dengan isteri dan keluarga yang lain, kami berikan rafi susu formula. Dengan hati bimbang dan sedih tak terperi kami suapi rafi sedikit demi sedikit dengan sendok, nampak sekali dia lahap, lapar mungkin. Malam itu dua kali rafi minum sufor, tapi kami tetap tidak menyerah, terus kami coba latihan melekat dan menghisap, hasilnya sudah mulai terlihat, rafi mulai bisa melekat dengan baik dan mulai menghisap meskipun masih lemah.

Day IV. Friday, June 1st 2007

Hari ini hari libur, pagi-pagi dokter Sp.OG visite dan bilang kami sudah boleh pulang. Akhirnya kami pulang selepas jumatan. Hari ini kami janjian pertemuan ketiga dengan bu Elok agak sorean. Hari ini rafi menunjukkan progress yang luar biasa, puteraku sudah mulai melekat dengan sempurna dan menghisap dengan agak kuat. Saat bu Elok datang, beliau pun mengatakan bahwa Rafi sudah hampir berhasil menyusu dengan sempurna. Setelah 2 jam sesi dan praktek, akhirnya bu Elok pulang dan mengatakan bahwa ini adalah sesi terakhir karena Rafi nampaknya sudah bisa menyusu dengan baik dan ASI isteriku juga sudah keluar dengan baik. Sore itu juga kami putuskan menghentikan total sufor, kalau tidak salah ingat, Rafi hanya mendapatkan total kurang dari 100 cc sufor sejak hari sebelumnya. Meskipun dengan sedikit kontaminasi ini membuat jadi tidak ASI eksklusif, tapi aku tetap bangga dengan usaha keras isteri dan anakku yang sangat tabah.

Malamnya, Rafi sudah dapat menyusu dengan sempurna, Rafi terbangun beberapa kali karena pipis atau eek. Kami bangunkan dia setiap 2 jam untuk nenen. Alhamdulillah, malam itu kami begitu bersyukur.
Setelah malam itu hingga umur 6 bulan, rafi hanya mendapatkan ASI saja, kebetulan ibu mertua juga sangat mendukung karena sudah pernah diajak mengikuti seminar ASI oleh dr. Utami Roesli, bahkan sejak saat itu beliau rajin kampanye kepada teman-teman sesama ibu-ibu yang sedang atau akan punya cucu untuk memberikan ASI. Alhamdulillah, selama 6 bulan Rafi tidak pernah sakit, terkadang memang demam, tapi kami coba tidak diobati dan hanya disusukan lebih sering, dan cara ini sangat berhasil. Total rafi menyusu selama 22 bulan, itupun terputus karena mamanya harus pergi 3 minggu keluar kota untuk sebuah keperluan.

So, sahabat, memang awalnya tidak mudah. Butuh keberanian, butuh dedikasi, butuh keyakinan bahwa memberikan yang terbaik untuk bayi kita adalah kewajiban setiap orang tua. Kalau kami bisa, saya yakin anda mampu melakukannya. Bahkan saya yakin bahwa anda semua akan mampu melakukannya jauh lebih baik daripada kami.

ASI…Pasti!

Salam ASI,
Rafi, Riri (mama), Hidayat (Ayah)
Ditulis pada suatu pagi 27 Agustus 2009, Diemen, NL

NB: Bagi yang ingin memperoleh nomor telp bidan Elok di Banda Aceh, kirim e-mail aja ke am_adoctor@yahoo.com atau tulis aja di wall.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: