Dunia Rafi

H1N1 mulai memakan korban

Posted in DuniaRafi by wiratara on Juli 26, 2009

Hari ini saat saya streaming metro tivi, ada sebuah berita yang walaupun tidak mengejutkan tapi cukup memprihatinkan. Ya, berita bahwa H1N1 telah meminta korban pertamanya di Indonesia. Menurut berita lain yang dilansir di Media Indonesia bahwa korban meninggal adalah seorang bocah perempuan berumur 6 tahun di Jakarta. Cuma ada yang kurang dari berita ini, bahwa tidak dielaborasi apakah bocah ini memiliki kontak dengan orang yang pernah datang dari Luar negeri ataukah pernah melakukan perjalanan ke luar negeri atau ke wilayah-wilayah dengan kasus konfirmasi H1N1. Kalau memang ada riwayat tersebut, masih dapat diasumsikan bahwa kasus H1N1 masih terlokalisir, tetapi apabila tidak ada riwayat tersebut, maka bisa di ‘andai-andaikan’ bahwa kasus ini sudah tersebar lebih merata/meluas di Indonesia.

Data dari WHO GAR Pandemic H1N1 tertanggal 6 juli 2009 menunjukkan bahwa kasus kumulatif di Indonesia 20 kasus dengan 12 kasus konfirmasi H1N1. Data surveilans ini termasuk sangat lamban dibanding dengan kasus H5N1 yang diupdate hampir mingguan meskipun kini sudah mulai melambat dikarenakan jumlah kasus yang semakin berkurang (lihat disini update H5N1 1 july 2009).

Kalau anda lihat dari data H5N1 yang ditampilkan, tidak mengherankan bahwa Indonesia menduduki peringkat pertama baik dalam jumlah kasus (141) maupun jumlah korban meninggal (115) dengan Case Fatality Rate/CFR mencapai 81.5% alias tertinggi/terganas di DUNIA!.

Menurut update hari ini (27/7/09) yang dirilis Depkes di Indonesia sudah terdapat 400 kasus positif H1N1 yang tersebar di 15 propinsi. Wah, luar biasa cepat perkembangannya. Dengan 1 korban meninggal, berari CFR = 2-3 per 1000 kasus.

Seperti yang telah di dengung-dengungkan oleh Departemen Kesehatan melalui Menkes Dr. Fadillah Supari bahwa ‘kita’ telah siap dengan pandemi H1N1 karena salah satu alasannya kita pernah 2 kali melakukan simulasi pandemi H5N1 atau lebih dikenal dengan Flu Burung. Alasan yang menurut saya semi logis. Kenapa demikian?? ya, karena simulasi adalah suatu keadaan yang dibuat dengan skenario, sementara kondisi riil pandemi adalah ‘unpredictable’, sesuatu bisa berubah dari menit ke menit, tidak jelas arah dan kemana akan menuju. Bercermin kepada kasus H5N1 diatas, maka setidaknya kesiapsiagaan pandemik harus terus ditingkatkan dalam tataran operasional disetiap level.

Dunia pernah mengalami pandemi ‘flu spanyol’  pada tahun 1918 dan hal ini tidak dapat dipandang remeh.

Seperti dalam tulisan saya terdahulu tentang ancaman pandemi H1N1 (yang kini sudah terjadi) bukan tidak mungkin dengan kondisi sekarang kita akan menjadi negara yang cukup parah terimbas. Naudzubillah! Mudah2an Alloh selalu melindungi kita semua dan memberikan pemimpin-pemimpin kita kekuatan dan kejernihan hati dalam menentukan kebijakan yang terbaik bagi warga negaranya.

Update 29/7/2009: WHO merilis update dari perkembangan kasus H1N1 per 27 juli 2009 disini dengan jumlah kasus positif 134,503 dan kematian 816 yang setara dengan CFR = 0.6% atau 6 kematian dari 1000 kasus.

Salam sehat,

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. doni said, on Juli 27, 2009 at 4:19 am

    yat, kalo mau melakukan perjalanan jarak jauh pakai pesawat, katakan dari jakarta ke oklahoma, pecegahan terhadap H1N1 gimana ya??

  2. wiratara said, on Juli 27, 2009 at 6:27 am

    Mas Doni yang gantheng,

    Secara garis besar pencegahan dapat dilihat di https://wiratara.wordpress.com/2009/04/. Tetapi yang agak sulit ketika kita sedang dipesawat atau disarana transportasi/umum lainnya kita tidak pernah tahu apakah ada yang sedang sakit atau tidak. Nah, H1N1 ini layaknya seperti virus flu lainnya, menyebar melalui partikel2 kecil di udara yang sudah terkontaminasi virus akibat bersin, batuk yang terhirup oleh kita ataupun juga melalui kontak dengan leleran (cairan) ingus atau cairan yang keluar saat pasien batuk/bersin yang menempel pada benda2 seperti door handle, sandaran tangan, meja makan lipat dipesawat, wastafel dll yang kita pegang terus kemudian secara tidak sadar kita memegang hidung kita. Upayakan untuk selalu mencuci tangan sesering mungkin, kalau perlu bawa antiseptik (antis, dll). Nah, kalau disebelah doni ada yang kira2 mencurigakan (demam tinggi, batuk, pilek) mohon diinformasikan untuk menghubungi kru kabin dan minta tolong ditutup dengan tisu atau sapu tangan bila batuk/bersin. Dan jangan sering2 menyentuh hidung dengan tangan. OK. salam buat si kecil dan mamanya ya…

  3. wiratara said, on Juli 27, 2009 at 11:10 pm

    Oia, tulisan yang berwarna biru dan bergaris bawah adalah links yang bisa diklik untuk verifikasi kebenaran tulisan (cara lain untuk menampilkan referensi)..tq


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: