Dunia Rafi

Selangkah Menggapai Awan

Posted in CelotehAyah&Mama by wiratara on Juli 22, 2009

Pagi sudah mulai menyongsong malam disaat bulir-bulir gerimis hujan membasahi jalan setapak disamping Flat ku di sebuah kota kecil di Belanda. Ya, saat ini sudah menjelang jam 01.00 dini hari di kotaku, Diemen, Noord Holland. Dingin yang begitu menusuk seolah tidak kuperdulikan, bahkan umpatan teman-temanku di facebook yang insomnia seolah kubangku pajangkan. Hmmm…aku cuma bisa menghela nafas ini pelan.

Tak terasa sudah hampir 10 tahun aku mengenal internet. Mulai dari saat awal masuk kuliah kedokteran dulu, hingga kini aku di memasuki bangku kuliahan dibelahan dunia yang lain. Internet sudah menjadi temanku bermain, temanku berkeluh dan temanku berkisah. Kini mungkin ketergantunganku dengan dunia maya ini semakin menjadi tatkala kerinduanku akan anak semata wayangku dan isteri tercintaku begitu mendera. Browsing, blogging, blogwalking, social networking, live streaming atau bahkan hanya sekedar chatting via YM dengan obrolan-obrolan ringan yang sama sekali tidak penting menjadi pelampiasan yang cukup melegakan. Ah, entah sampai kapan duniaku terbagi antara semu dan realita..entahlah..

Tiba-tiba saja anganku melayang pada saat pertama kali aku mengenai dunia ini. Kala itu tahun 1999, saat pertama kali aku menginjak bangku kuliah. Saat itu pula sedang booming warnet yang tumbuh menjamur hingga di sudut-sudut kampung dikotaku Semarang. Sebagai informasi, aku adalah pendatang dari sebuah kota kecil bernama Gubug di Kabupaten Grobogan. Mungkin kalian bisa menemukan lokasinya di peta, cuman perlu sedikit usaha untuk mencari, minimal dengan kaca pembesar atau mikroskop elektron kalau punya.

Malam itu baru saja hujan berhenti, dan kebetulan juga aku ada janji dengan sahabat SMA-ku Adi untuk datang ketempat dia bertugas menjadi Penjaga rental internet. Ya, hari itu dia akan menjadi ‘guru’ untukku. Kurikulumnya hari itu: INTERNET!. Maklum, biar dikata orang udik, tapi nafsu kepingin go public sudah tak tertahankan. Kata orang, kalau bisa main internet, kamu bisa banyak temen dan bisa cari duit dengan gampang. Doktrin itu terus terngiang-ngiang dikepalaku, layaknya tawon kumbang yang mengebor atap rumah kost. Kebetulan jarak kost ku dengan warnet Adi tidak terlalu jauh dan cukup kutempuh dengan jalan kaki 10 menit, yah itung-itung olah raga malam sembari penghematan. Sesampainya disana, warnet tampak ramai sekali. Remaja-remaja tanggung usia belasan tahun tampak berjubal didalam bilik-bilik kecil setinggi satu meter itu. Yang tampak hanya kepala-kepala yang berhimpitan dan kadang bergoyang-goyang karena tergelak. “Ah, kenapa pula mereka itu” pikirku dalam hati. Apa gerangan yang membuat mereka tertawa hingga tergelak tak ada henti? Ah, masa bodoh! aku langsung mencari sahabatku Adi yang ternyata sedang membantu salah seorang gadis remaja (yang cukup manis..hi..hi..). Entah tombol-tombol apa yang dia tekan. “Sudah beres, nanti kalau ada masalah lagi bilang ke saya ya..” ujar Adi kalem pada gadis itu.

“Hai Yat, sudah lama?” sapanya sambil tersenyum. Lucu sekali melihat senyum temanku yang satu ini. Dua gigi atas depannya yang menonjol mirip sekali dengan gigi Bugs Bunny yang rutin nongol di Looney Toones tiap jam 4 sore di stasiun tivi swasta. “Ah, barusan..lagi sibuk?” jawabku sekenanya. “Ah, tidak..kebetulan lagi penuh..tunggu bentar lagi ya..kalau ada yang kosong nanti kamu masuk..”

Yah, mau bagaimana lagi, hasrat untuk kenalan dengan Mr. Internet sudah diubun-ubun. Akhirnya selang 30 menit dua orang gadis tanggung keluar dari bilik pojok dekat dengan kipas angin. “Nah, kau boleh pakai yang itu..” Ujar Adi sambil menunjuk ke sebuah bilik. Akhirnya aku bergegas masuk ke bilik yang cukup sempit itu, tetapi lumayanlah berhubung parasku yang cukup atletis (kurus kering maksudnya) jadi cukup ngepas. Segera ku gerak-gerakkan mouse komputer itu dan dalam sekejap layar yang tadinya gelap segera berubah menjadi biru dengan latar belakang pegunungan dan beberapa gambar-gambar kecil yang entah untuk apa gunanya. Yang jelas ada tulisannya “windows”, sama seperti dilayar komputer di SMA ku waktu ekstrakurikuler. Sejenak aku tercengang. “Apa yang harus aku lakukan ya? ” pikirku dalam hati. Ah, setelah beberapa saat terpekur, akhirnya kuputuskan untuk bertanya. Malu bertanya sesat dijalan pikirku.

Belum sempat aku berdiri, sekonyong-konyong datang Adi menghampiri bilikku sambil senyum-senyum simpul (syialan, dikerjain aku, pikirku dalam hati). “Lho kok belum mulai?” Suara Adi yang terdengar seolah seperti meledek. “Mulai dari hongkong!, nah itu gambar-gambar aja aku ndak ada yang ngerti gunanya!” sergahku sengit. “Hahahaha….sori…sori…aku lupa” Adi segera menimpali. “Nah, kalau mau “browsing”, tekan gambar “e” ini, lalu ketikkan “www.google.com” baru kamu masukkan kata kunci apa yang kamu cari..” Entah setan apa yang merasuki Adi malam itu, dia terus nerocos tanpa henti menjelaskan dengan kata-kata yang tidak aku mengerti. “Ngerti Kan??” Tiba-tiba suara Adi membangunkan aku yang sempat terbawa lamunan. “Hah, yang bagian mana maksudmu?” jawabku polos. “Astaghfirullah, ya yang tadi aku jelasin…!” Adi tampak sedikit jengkel. “Hmm…sebenarnya aku masih bingung, soalnya dari tadi kamu yang pegang mouse sama keyboardnya, jadinya ya aku ndak ngikutin apa yang kamu praktekin”..ucapku mengiba. “Oalah mas..mas…ya udah kita ulangin lagi..saya yang ngomong, sampeyan yang praktek” Tukas adi dengan gaya ‘solo’ medhok yang dibuat-buat. Akhirnya setelah beberapa kali praktek dan pengulangan akhirnya malam itu aku bisa “browsing” di internet. Wah, begitu gembiranya aku malam itu, seakan-akan impianku untuk menggapai impian  ‘go public’ via internet sudah didepan mata. Dan sejak hari itu, aku mulai rajin berkunjung ke warnet Adi, entah cuman beberapa menit atau bahkan beberapa jam. Alhamdulillah sedikit demi sedikit aku mulai bisa menggunakan internet dengan baik.

Ah..lucu memang kalau mengingat masa-masa itu. Dan disinilah aku sekarang ini. Bersekolah di negeri kincir angin yang informasi dan pendaftarannya aku lakukan dengan internet. Ah, beruntungnya aku sempat berkenalan dengan dunia maya ini. Sebuah dunia yang mampu membawaku melanglang buana diberbagai belahan dunia. Kini, hampir setengah hari dalam 24 jam hidupku bertumpu dan berkutat dengan layar dan tombol-tombol putih dari komputer jinjing kesayanganku. Entah hingga kapan, aku pun tak tahu. Tapi yang pasti aku kini sudah “selangkah untuk menggapai awan mimpiku”…

 

NB: Buat Adi Jaka, terimakasih sudah mengenalkanku pada dunia yang indah ini, dunia dimana batas-batas fisik bukan merupakan penghalang, dunia dimana jarak bukan lagi hambatan, dan dunia dimana impian adalah milik semua orang.

Salam,

Diemen, Netherland. 23 Juli 2009. Jam 1.34 pagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: