Dunia Rafi

Hanya ‘bagian kecil’ atau memang ‘budaya’?

Posted in CelotehAyah&Mama by wiratara on Desember 10, 2008

bendera_7772

 

Malam ini saya streaming kembali transtivi, dan acaranya pas sekali..BERITA! pucuk dicinta ulam tiba…satu persatu saya amati dan dengarkan dengan teliti berita yang disajikan.

Berita pertama adalah mengenai seorang pencuri spion mobil yang tewas di ‘dor’ oleh pemilik mobil yang dicurinya yang ternyata adalah seorang kasatreskrim berpangkat AKP. Polisi tersebut mengaku sudah melakukan penembakan sesuai ‘prosedur’, agak bingung saya bahwa ada prosedur baku untuk menembak maling kelas spion seharga 100 ribu yang melarikan diri tetapi tidak pernah ada prosedur baku menembak koruptor BLBI yang kabur dengan ratusan milyar. Mengenaskan memang, di negeri ini, nyawa seseorang hanya seharga sebuah spion mobil!

Berita kedua adalah kerusuhan di Masohi, Maluku tengah. Konflik klasik dengan aroma agama yang kental dan merupakan sebuah drama abadi di negeri ini. 40 rumah terbakar! hanya gara2 sentimen seseorang tentang agama lain…Sekali lagi bukti bahwa potensi konflik horizontal antar agama adalah salah satu potensi ‘bencana’ yang belum digarap serius. Kita terlanjur terdidik bahwa bencana adalah dikerucutkan segala sesuatu yang biasanya disebabkan oleh alam dan diluar kendali kita. Siapa bilang? Perang, anarkhi, konflik antar agama adalah juga sebuah bencana…bencana kemanusiaan…Mengenaskan memang, di negeri ini keragaman terkadang menjadi bumerang! 

Berita ketiga, di Jakarta satpol PP di jakarta memukuli warga bantaran sungai yang meminta penundaan eksekusi 850 rumah di bantaran sungai yang terkena proyek revitalisasi. Penundaan yang cukup beralasan karena mereka memegang sebuah surat dari Ketua Komisi A DPRD yang menyatakan bahwa penggusuran ditunda sampai juni 2009 menunggu anak selesai ujian.  Mengenaskan memang, dinegeri ini yang sudah dipinggir, semakin dipinggirkan!

Berita keempat, di SUMUT seorang oknum tentara AD dengan pangkat kopka tewas dihakimi massa. Dari hasil penyelidikan semua pihak bungkam, hanya ada satu informasi yang ditayangkan dari pimpinan AD setempat bahwa korban meninggal akibat di keroyok massa karena kesalahpahaman. Muncul pertanyaan dalam hati saya, kesalahpahaman seperti apa yang sanggup memicu amarah masyarakat sehingga mereka mampu brutal dan memukuli tentara berseragam lengkap hingga babak belur dan tulang belulangnya patah. Nampaknya bukan masyarakat yang saya kenal dulu, masyarakat yang santun dan cukup patuh apalagi dengan orang ‘berseragam’. Apa sebenarnya cerita dibalik layar yang coba disembunyikan? Mengenaskan memang, di negeri ini sudah tidak ada lagi kasih sayang, bahkan terhadap ‘oknum’ yang berseragam! 

Berita kelima, dari Tangerang, sepasang mahasiswa dan mahasiswi usia 18 tahun, semester I sebuah PTS ditangkap karena tuduhan menyebarluaskan gambar pronografi dengan ancaman 1 tahun penjara didepan mata. Ah, itu sih biasa! anehnya dimana? Anehnya, bahwa video yang mereka sebarkan bintang utamanya tak lain dan tak bukan adalah mereka sendiri! mereka membuat film itu secara komprehensif, mulai dari pemain, penata cahaya, kameramen dan skrip mereka kerjakan sendiri. Dan juga sampai di tingkat distribusi! Wah, saya pikir ini adalah penerapan hukum ekonomi secara salah, mungkin mereka hanya membaca separuh buku Robert T Kiyosaki atau hanya satu seri dari beberapa seri buku saku Hermawan Kertajaya sehingga keblinger. Mengenaskan memang, di negeri ini malu bukan lagi menjadi tameng diri, tetapi malu dan ke-malu-an malah dijadikan menjadi barang komoditi!

Kepercayaan diri ini semakin goyah, gundah menyergap berikut seribu tanya: Apakah ini negeriku yang dulu?? terlalu lama-kah aku tertidur sehingga terlampau banyak hal yang sudah aku lewatkan??

Sayup-sayup terdengar suara ustadz Arifin Ilham memberikan tausyiah mengenai pentingnya memahami doa yang kita ucapkan saat diantara dua duduk didalam sholat. Ternyata ‘Robbighfirli warhamni wajburni warfa’ni warzuqni wahdini wa’afini wa’fuanni’ memiliki makna yang sungguh syahdu..’Ya Allah, ampunilah kami, Dan sempurnakanlah kami, Dan kasihanilah kami, Dan Angkatlah derajat kami, Dan berilah rezeki, Dan Berilah kami petunjuk, Dan Berilah kami kesehatan, Dan Maafkanlah kami [karena terlalu banyak meminta]’

 

Amsterdam, 10-12-08

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: