Dunia Rafi

Keajaiban

Posted in CelotehAyah&Mama by wiratara on November 27, 2008

cover-kick-andy

 

By: Andi F Noya

Saya sedang dikejar deadline. Liputan harus segera rampung karena majalah segera naik cetak. Sementara saat itu saya masih “terdampar” di Pulau Biak, Papua, karena pesawat ke Serui selama seminggu fully booked. Saya panik. Saya lalu ingat Tuhan.

 

Kelihatannya cengeng. Tetapi saya tidak melihat ada jalan keluar selain memasrahkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Saya lalu bersimpuh dan berdoa. Saya memohon agar Tuhan menggunakan kuasa-Nya dengan menunjukkan keajaiban. Sebab kalau menggunakan akal manusia, saya tidak melihat ada jalan keluar. Sudah buntu.

Hari itu, akhir 1980, saya mendapat tugas liputan ke Serui. Hanya satu kali penerbangan setiap hari dari Biak ke Serui. Itupun menggunakan pesawat jenis Cessna 16 kursi. Tidak heran jika kursi selalu penuh. Lebih parah lagi, pada saat saya hendak ke Serui, kota itu sedang menyelenggarakan lomba Tilwatil Qur’an. Delegasi masing-masing daerah tumpah ruah di sana. Kursi pesawat penuh sampai seminggu kemudian.

Serui memang unik. Sebagian penduduknya berkulit putih dan berambut lurus. Sangat kontras dengan masyarakat papua yang umumnya berkulit hitam dan berambut keriting. Bagi pendatang yang baru pertama kali berkunjung ke Serui, tentu akan merasa aneh melihat ada “orang papua putih”. Sama seperti orang papua lainnya, mereka fasih berbahasa Serui. Kalaupun berbahasa Indonesia, logat papua mereka sangat kental.

Mereka yang berkulit putih ini dijuluki “Perancis” alias Peranakan Cina Serui. Dari sejarahnya, mereka memang keturunan Tionghoa. Nenek moyang mereka berasal dari daratan Cina. Para perantau ini sudah ada sejak jaman Belanda. Mereka umumnya berasal dari Tiongkok Selatan.

Para perantau merupakan pedagang yang ingin mencari kehidupan yang lebih baik. Mereka berlayar ke berbagai negara. Sebagian besar masuk melalui Laut Cina Selatan menuju Pulau Natuna. Dari sana mereka menyebar ke berbagai wilayah Nusantara. Para perantau yang masuk ke Serui umumnya para pedagang yang kalah bersaing di wilayah Makassar. Mereka lalu menyisir ke arah Maluku Selatan dan sebagian akhirnya sampai di Serui, di Pulau Yapen Waropen.

Pulau Yapen Waropen ternyata menyimpan kekayaan alam yang luar biasa. Selain jenis tumbuhan yang beraneka ragam, pulau ini banyak dihuni buaya dan burung Cendrawasih. Bersama penduduk setempat, para perantau itu lalu melakukan perburuan buaya dan Cendrawasih untuk dijual ke luar negeri melalui kapal-kapal Belanda yang singgah di sana. Kulit buaya asal Serui sangat diminati karena ukurannya yang besar dan teksturnya yang bagus.

Sebagian perantau kemudian memilih menetap dan menikah dengan perempuan lokal. Keturunan mereka inilah yang kemudian lahir berbeda dengan penduduk asli. Perpaduan darah Tiongkok dan Serui menghasilkan keturunan yang berkulit putih berambut lurus, berkulit putih berambut keriting atau berkulit sawo matang dan keriting. Unik memang.

Saya ke Serui untuk menulis cerita tentang anak-anak Perancis ini. Bagaimana awal mula nenek moyang mereka masuk ke pulau itu, termasuk keyakinan sebagian orang bahwa pada mulanya perkawinan antar perantau dan penduduk asli semata untuk kepentingan bisnis. Guna mendapatkan tenaga kerja murah, para perantau menikahi perempuan setempat. Pernikahan tersebut otomatis menjadikan sang perantau sebagai bagian dari suku di sana. Dengan status itu, dia dapat menggerakan para pemburu buaya atas nama sesama suku. Dengan begitu dia bisa mendapatkan tenaga kerja murah.

Cerita yang menarik untuk ditulis. Tapi, untuk mencapai Serui tidak mudah. Penerbangan waktu itu hanya satu kali sehari. Pilihan lain, naik perahu tradisional dengan motor tempel. Tapi itu akan memakan waktu hampir seharian di lautan. Sementara saya termasuk yang mudah mabok laut.

Dalam keadaan tertekan oleh tenggat waktu untuk menyetor laporan, malam sebelum tidur, saya bersimpuh di samping tempat tidur tempat saya menginap. Saya memohon agar dengan caranya Tuhan menunjukkan kepada saya “kekuasaan-Nya” agar saya bisa mendapatkan kursi di penerbangan hari itu.

Pagi hari, saya bergegas ke kantor maskapai penerbangan yang letaknya tepat di seberang losmen. Begitu kantor dibuka, saya berharap ada penumpang yang membatalkan penerbangan hari itu. Tapi, yang saya dapat berita buruk. Selain tidak ada penumpang yang membatalkan penerbangannya, daftar waiting list juga cukup panjang. Harapan untuk bisa terbang ke Serui hari itu kandas sudah.

Dengan perasaan galau saya kembali ke losmen. Pesawat akan berangkat dua jam lagi. Saya pasrah. Yang terpikir adalah melaporkan ke Jakarta saya gagal. Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba seorang tentara muncul di teras losmen depan kamar saya. Saya lupa pangkatnya. Tapi begitu bertemu saya, wajahnya tampak ceria. Dengan bersemangat dia memperkenalkan dirinya dan mengatakan selama ini dia mengagumi tulisan-tulisan saya.

Lalu bagaimana dia tahu saya menginap di losmen ini? Ternyata pagi itu, sesudah saya meninggalkan kantor maskapai penerbangan, terjadi “kekacauan”. Sejumlah calon penumpang yang panik karena tidak mendapatkan kursi penerbangan hari itu, memaksa untuk bisa naik pesawat. Umumnya mereka delegasi Tilwatil Qur’an yang ingin menghadiri acara pembukaan malam itu.

Petugas maskapai penerbangan mencoba menjelaskan bahwa kursi sudah penuh. Jangankan delegasi, pejabat saja dia tolak karena memang tidak ada kursi. Bahkan seorang wartawan dari Jakarta juga dia tolak. Petugas itu menyebut nama saya. Nah, pada saat itu tentara tersebut, yang berada di sana, terkejut. Dia meminta info keberadaan saya. Petugas maskapai lalu menunjuk losmen saya. Sebelumnya saya memang titip pesan jika ada kursi kosong, tolong diberi tahu. Saya menginap di losmen depan.

Setelah bercerita tentang beberapa tulisan saya, termasuk tulisan pengalaman saya berlayar dengan kapal Dewa Ruci mengarungi Laut Cina Selatan, sang tentara lalu menyerahkan tiketnya kepada saya. “Mas Andy pasti lebih membutuhkan tiket ini,” ujarnya. Dia lalu pergi setelah bersikeras menolak uang pengganti tiket.

Saya tercenung. Tidak percaya atas apa yang baru saja saya alami. Betapa cepatnya Tuhan menjawab doa saya. Ketika otak manusia tidak bisa memecahkan masalah, ketika semua cara menemui jalan buntu, hanya Dia yang mampu memberi jalan keluar. Bahkan dengan jalan yang tidak pernah kita duga sekalipun.

Taken from Kick Andy

 

salam,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: