Dunia Rafi

Sebuah kisah dibalik “Yusuf Islam”

Posted in CelotehAyah&Mama by wiratara on November 22, 2008

 

yusuf-islam_footsteps-in-the-light_big

Sebuah kisah yang disalin dari wikipedia dan diterjemahkan sendiri. Kesalahan dalam penterjemahan adalah semata dikarenakan ketidakcakapan penulis dalam mengartikan bahasa inggris dan bukan dengan maksud disengaja.

Conversion to the Islamic faith/Berpindah ke Agama Islam

Stevens’ first real memory of Islam took place when he had left for Marrakech, Morocco, to get away, think, and write songs. He heard a voice unlike one he had ever heard before. When he asked what it was, — the Aḏhān, a ritual call for prayer by the muezzin of a mosque, –he was told “that is music for God”. Stevens said, “I thought, music for God? I’d never heard that before – I’d heard of music for money, music for fame, music for personal power, but music for God!”

Kenangan nyata pertama kali Steven tentang Islam adalah ketika Beliau bertandang ke Marrakech di Maroko dalam rangka mengasingkan diri, menulis dan mencipta lagu. Disana beliau mendengar suara seruan yang tidak pernah didengar sebelumnya, kemudian beliau menanyakan suara apakah itu gerangan–Suara Adzan, sebuah seruan yang dikumandangkan oleh seorang Muadzin di sebuah Masjid — Beliau mengira bahwa suara tersebut adalah “Musik untuk Tuhan” , Steven berkata “Saya kira itu Musik untuk Tuhan? Saya tidak pernah mendengar sebelumnya – Saya pernah mendengar musik untuk uang, musik untuk ketenaran, musik untuk kekuasaan, terkecuali musik untuk Tuhan!”

In 1976 Stevens nearly drowned off the coast of Malibu, California and shouted: “Oh God! If you save me I will work for you.” He says, right afterward, a wave appeared and carried him back to shore. The near-death experience intensified his long-held quest for spiritual truth. He had looked into “Buddhism, Zen, and I Ching, Numerology, tarot cards and Astrology“. Stevens’ brother David Gordon brought him a birthday gift from a recent trip to Jerusalem. It was a copy of the Qu’ran. Stevens took to it right away, and began to find peace with himself and began his transition to Islam.

Di tahun 1976 Stevens hampir tenggelam di pantai Malibu, California dan [saat itu] beliau berteriak: “Oh Tuhan! Jika Engkau selamatkan saya [hari ini] [maka] Saya akan bekerja untukmu.” Beliau menceritakan, tak lama kemudian sebuah ombak muncul dan menghempaskannya kembali ke bibir pantai. Pengalaman menjelang ajal ini semakin mempertebal niatnya untuk mencari kebenaran spiritual. Beliau kemudian mempelajari Buddha, Zen, I Ching, Numerology, kartu tarot dan Astrologi. Saudara laki2 Steven, David Gordon memberikannya sebuah hadiah ulang tahun yang dibeli pada saat perjalanannya ke Yerusalem. Hadiah tersebut adalah sebuah Al-Qur’an. Steven kemudian segera mengambilnya dan mulai menemukan ketenangan didalam dirinya dan mulai menjalani transisi menjadi seorang Muslim. 

 

During the time he was studying the Qur’an, he began to identify more and more with the name of Joseph, a man bought and sold in the market place, which is how he had increasingly felt, within the music business. Regarding his conversion, in his 2006 interview with Alan Yentob, he stated, “to some people, it may have seemed like an enormous jump, but for me, it was a gradual move to this.”Speaking with Rolling Stone Magazine’s Andrew Dansby, he reaffirmed this, saying, “I had found the spiritual home I’d been seeking for most of my life. And if you listen to my music and lyrics, like “Peace Train” and “On The Road To Find Out”, it clearly shows my yearning for direction and the spiritual path I was travelling.” Stevens had been seeking big answers and spiritual answers throughout his career, and now believed he had found what he had been seeking.

Selama beliau mendalami Qur’an, beliau mulai menemui nama Yusuf beberapa kali, seorang lelaki yang dibawa dan dijual dipasar, dimana beliau merasa sangat serupa dengan [dirinya didalam] industri musik. Mengenai kepindahannya menjadi muslim,  dalam sebuah wawancara engan Alan Yentob, beliau berkata, “Bagi sebagian orang, hal ini [perpindahan] mungkin terlihat sebagai sebuah lompatan yang luar biasa, tetapi bagi saya hal ini adalah sebuah tahapan biasa.  Berbicara dengan wartawan dari majalah Rolling Stones Andres Dansby, dia menyatakan kembali hal ini dengan mengatakan ” Saya telah menemukan rumah spiritual saya [islam] yang telah saya cari selama hampir seumur hidup saya. Dan jika anda mendengarkan musik dan lirik saya, seperti “Peace train” dan “On The Road To Find Out”, disana jelas terlihat upaya saya mencari arah dan jalur spiritual yang telah saya jalani. Steven telah mencari sebuah jawaban besar dan jawaban spiritual sepanjang karirnya, dan sekarang beliau percaya bahwa beliau telah menemukan apa yang telah dicarinya selama ini.

 

Stevens formally converted to the Islamic faith in 1977, and took the name Yusuf Islam in 1978. Yusuf is the Arabic rendition of the name Joseph. He stated that he “always loved the name Joseph” and was particularly drawn to the story of Joseph in the Qur’an. Although he discontinued his pop career, he was persuaded to perform one last time in December 1979, by David Essex, performing with him and Alun Davies, in UNICEF‘s Year of the Child Concert.

Steven secara resmi berpindah ke agama Islam pada tahun 1977, dan mengambil nama Yusuf Islam pada tahun 1978. Yusuf adalah versi arab dari Joseph.  Beliau mengatakan bahwa beliau sangat menyukai nama Joseph dan sangat terhanyut oleh cerita tentang Joseph didalam Al Qur’an. Meskipun beliau berhenti dari karir musik pop-nya, beliau kemudian dibujuk oleh David Essex untuk melakukan pertunjukan terakhir kalinya pada Desember 1979, ditemani oleh David Essex dan Alun Davies dalam sebuah acara Tahun Konser Anak yang diselenggarakan oleh UNICEF.

 

BRITAIN CAT STEVENS

In an arranged marriage with the assistance of his mother, Yusuf married Fauzia Mubarak Ali in September 1979, at Regent’s Park Mosque in London. It was the 1,000th such ceremony to take place at the mosque. The couple have five children.

Dalam sebuah perkawinan atas bantuan ibunya, Yusuf menikahi Fauzia Mubarak Ali pada bulan September 1979 di Masjid Regent’s Park di London. Perkawinan itu adalah perkawinan ke 1000 yang digelar di masjid tersebut. Pasangan ini dikemudian hari dikarunia 5 orang anak.

 

Sebuah cerita yang menginspirasi, menguatkan iman, dan menjadi bukti nyata, bahwa Hidayah ALLOH akan diturunkan kepada siapa saja, kapan saja, dan dimana saja.

Jazakumullahu khairan katsira.

wassalam,

 

Diemen, 22-11-08

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: