Dunia Rafi

Konferensi PPI di Den Haag: 100th Gerakan Pelajar di Luar Negeri

Posted in Nederland, The by wiratara on November 21, 2008

poster20300

 

Tanggal 25 – 26 Oktober 2008 lalu bertempat di Museon, diadakanlah sebuah acara konferensi pelajar Indonesia di Luar Negeri (Khususnya Eropa). Acara ini digawangi oleh PPI Belanda dalam rangka merayakan 100 tahun gerakan pemuda pelajar di luar negeri dan juga memperingati 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional (1908-2008). Konferensi ini dilaksanakan selama 2 hari dan dapat diikuti bebas oleh seluruh pemuda pelajar yang ada di Belanda khususnya maupun perwakilan dari PPI Eropa lainnya; dan pada kesempatan ini juga hadir salah seorang perwakilan dari PPI Australia. Presiden SBY pun hadir dalam acara tersebut secara virtual, jadi tidak hadir langsung tetapi live via Radio Beijing siaran Indonesia. Klik disini untuk membaca dan mendengarkan kata sambutan beliau, judulnya MILIKILAH MENTAL HARUS BISA. Agak familiar dengan judulnya?? tentu saja! BERSAMA KITA BISA adalah jargon SBY waktu Pilpres 2004 yang lalu…Kami tunggu lho Pak wujud konkritnya, padahal dah hampir habis masa berlakunya, tapi kok belum BISA-BISA makmur juga kita Pak?? jangan sampai dipelesetkan lawan politik jadi BERSAMA KITA BInaSA ya pak…Kutunggu janjimu..

 

dsc02832

 

Ayahrafi sendiri merupakan peserta mbeling dari Amsterdam (Anggota PPI Amsterdam, tapi belum jelas statusnya) bersama dengan kru Indria, viny, dan Hana. Kehadiran kami pada awalnya untuk mengikuti dan tentu saja berkontribusi terhadap acara ini. Tetapi ternyata sebagian besar kru memiliki agenda lain yang menyebabkan terjadinya conflict of interest dan pengaburan objectives. Kami hanya mengikuti sebagian acara pada hari I, dimana Ayahrafi sempat memberanikan diri bertanya kepada narasumber waktu itu. Begini petikannya:

Ayah rafi: “Assalamualaikum, terimakasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk bertanya. Dari sepengetahuan saya, kita di Indonesia tidak pernah kekurangan kaum terpelajar, kita punya ratusan profesor, kita punya ribuan doktor, dan juga para cerdik pandai lainnya. Jadi kesimpulan saya keterpurukan kita bukan karena kekurangan orang pandai. Keterpurukan kita adalah karena kita kekurangan Cerdik pandai yang memiliki rasa malu. Menyitir pembicaraan Cak Nun tadi, bahwa kita harus menjadi garuda dan bukan menjadi tikus, saya rasa hal ini sulit dilakukan. Para pemimpin kita saat ini sudah terlanjur terlena menjadi TIKUS asalkan makan KEJU (beli dari uang korupsi), dan mereka tidak akan mau menjadi GARUDA tetapi makannya TIWUL (beli dari uang gaji yang pas-pasan). Sekarang pertanyaan saya adalah bagaimana saran dari anda semua supaya kami ini yang notabene adalah darah baru bagi Indonesia, tidak terseret dan mengikuti jejak dari pemimpin-pemimpin tanpa rasa malu tersebut. Terimakasih, wabillahitaufiq wal hidayah, wassalamualaikum wr.wb.”

 

panelis

 

(suasana sejenak hening) — sekonyong2 kemudian moderator (Bapak dari Ranesi) berbicara : “Prof. Anwar mungkin mau menjawab?

Prof. Anwar Nasution: ” Ya, KAU itu mau jadi apa! itu yang harus kamu tetapkan dari sekarang. Jangan KAU tanya orang lain. KAU itu lah yang harus memutuskan…bla..bla..(dengan logat batak kental)”

HS Dillon : ” Saya pikir kembali lagi kepembicaraan terdahulu, jadi kita harus memiliki integritas pangan….bla..bla..bla…(Dengan logat ke arab-araban atau india persis kayak di film Mohabattein).

Emha Ainun Najib : “Jadi budaya malu adalah sesuatu yang…bla…bla…(maaf jawabannya panjang dan Ayahrafi lupa merekamnya, pokoknya beliau menjawab dari pendekatan budaya, maklum lah Budayawan”

Pokoknya intinya saya masih bingung, karena jawabannya seolah terdengar formalitas bagi saya, ingin rasanya mendebat lebih lanjut, tetapi dikarenakan keterbatasan waktu dan tidak diijinkan jadinya saya kekang nafsu liar saya untuk berdiskusi panas dengan panelis sekelas Prof. Anwar, Dr. HS Dillon dan Cak Nun. Hmm…

Catatan: Dari ketiga panelis, diskusi yang mereka tampilkan dihadapan kami, tampak sekali polarisasi begitu nyata, mereka seolah-olah mengemban misi lain yang terselubung daripada misi untuk hadir sebagai narasumber dan memberikan masukan dan solusi dari permasalahan yang dihadapi pemuda pelajar di luar negeri. Asumsi saya, ada hubungannya dengan 2009 pasti! Bahkan pidato Pak SBY pun juga secara samar mengarah kepada, Pilihlah saya 2009, karena kita pasti BISA! (huss….ha..ha…ha…ha…)

lihat juga berita lainnya di DetikNews.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: