Dunia Rafi

Deadly Drugs Cocktail: Apaan tuh?

Posted in General healths by wiratara on November 4, 2008

Assalamualaikum,

 

Malam ini secara tak sengaja saat asyik mencari berita tentang pemilu di US, saya menemukan sebuah video yang cukup menyedihkan. Judulnya Deadly Drugs Cocktail…Apa ya kira2? Begini, drug cocktail adalah kombinasi dari beberapa obat yang dikonsumsi sekaligus, atau dikalangan medis lebih dikenal sebagai polifarmasi.

 

Pada prakteknya, pengobatan atau obat yang kita terima dari dokter biasanya adalah polifarmasi, jarang dokter apalagi di Indonesia hanya memberikan satu atau dua macam obat tunggal (bukan obat campuran), biasanya anda diberikan beberapa macam obat yang didalam masing2 obat tersebut terkadang terdapat lebih dari 1 zat aktif. Jadi bisa dihitung berapa macam obat (senyawa aktif) yang anda minum. Tak luput juga penulis (saya).

 

Dalam pengobatan di Indonesia, kita menganut terapi empiris, dan bukan terapi definitif/kausatif. Kenapa? Dikarenakan sistem pembiayaan kita yang tidak memungkinkan dilakukan terapi definitif. Karena untuk memberikan terapi definitif diperlukan diagnosa pasti, dan untuk menegakkan diagnosa pasti, diperlukan berbagai langkah mulai dari anamnesis, PF, laboratorium sederhana, X-Ray, MRI, sampai dengan kultur kuman atau laboratorium canggih seperti pemeriksaan serologi dan lain sebagainya. Tentunya pemeriksaan ini sesuai dengan keluhan atau kecurigaan penyakit, yang didalam dunia medis disebut Diagnosa Diferensial (DD) atau kasarannya Diagnosa yang Mungkin. Jadi jangan dibayangkan asal diperiksa dikarenakan kongsi dengan lab atau main mata dengan radiologi.

Jadi kalau anda saat ini pergi ke dokter umum atau klinik cuman bayar 30.000 rupiah (dispensing) anda bisa bawa pulang obat 3 atau 4 macam, maka terapi empiris lah yang anda dapat. Kalau anda mau mendapat terapi definitif atau kausatif anda bisa berdiskusi dengan dokternya dan pasti akan dengan senang hati dibantu (kalau saya lho ya..).

drugsNah, cerita yang saya dapat ini di Amerika, Baytown. Sebuah kota kecil di Amerika (lihat video). Seorang pemuda 21 tahun yang mengidap fibroma kistik mengalami kecanduan dan akhirnya overdosis oleh obat yang nota bene diresepkan oleh dokter yang menanganinya? aneh kan? tentu tidak. Hal ini terjadi dikarenakan pemuda tersebut mengkonsumsi kombinasi obat tersebut jauh melebihi dosis yang ditentukan. Obat tersebut adalah Soma (carisoprodol) yaitu jenis obat pelemas otot (muscle relaxan), Hydrocodone yaitu obat penghilang nyeri dan penurun panas (ibuprofen), dan Xanax (alprazolam) yang merupakan anti ansietas dan memiliki efek sedatif. Ternyata kombinasi yang cukup meriah ini menimbulkan efek adiksi yang pada cerita ini berakhir dengan overdosis dan kematian dari penderita. Adalah sebuah cerita tragis bahwa pasien meninggal bukan disebabkan oleh penyakit yang dideritanya tetapi oleh obat yang dikonsumsinya. Dalam video ini juga disebutkan bahwa disebuah klinik di York 1950 Medical Clinic, pasien dapat memperoleh obat dengan sangat mudah, bahkan pasien bisa meminta obat yang diinginkan kepada dokternya. Walaupun akhirnya klinik ini tutup setelah ditayangkan di CBS, tetapi mereka dicurigai membuka ditempat lain. Karena mungkin hal ini adalah bisnis yang cukup menguntungkan.

 

Saya langsung teringat dengan kondisi di Indonesia, dimana di apotik kita dapat memperoleh obat dalam golongan wajib resep secara bebas di sebagian Apotik. Tidak perlu resep, cukup menyebutkan nama atau menunjukkan bungkus kosong dari obat yang dimaksud dan…sim salabim..sekantong obat akan berpindah ke tangan anda dengan mudah. Terutama antibiotik, dan hal inilah yang mendorong terjadinya konsumsi antibiotik yang tidak terkontrol dan tentunya tidak sesuai dengan indikasi. Bahkan lebih ajaib lagi, mereka bisa membeli resep antibiotik separoh resep atau “setengah kir”. Wah, padahal antibiotik merupakan obat yang tidak bisa ditawar, karena penggunaan yang tidak sempurna menyebabkan terjadinya resistensi/kekebalan kuman. Alasanya sederhana, Penghematan mas…klasik bukan?? hari gini mikir resistensi..apaan tuh??? yang penting mah sembuh dan murah..sisanya bisa untuk makan atau bayar SPP anak…Ironis bukan, padahal kalau terjadi resistensi, maka efeknya akan kena ke semua orang. Mungkin nanti akan saya bahas tersendiri resistensi obat di posting lain. Tapi this is the real life! we have to deal with it…

 

Sebagian saudara kita yang lain, asyik mengkonsumsi obat2an penekan stress atau penekan ansietas dengan alasan membantu menenangkan diri atau konsentrasi. Wah, alasan apa tuh? saya ada cerita nyata..sebenarnya ini adalah bukti ketidakberdayaan saya dan kebodohan saya…tapi akan saya ceritakan sebagai pembelajaran.

 

Hari itu beberapa hari menjelang keberangkatan saya ke Belanda, pada suatu siang saat saya dan isteri sedang santai, tiba2 datang seorang laki2 paruh baya (50 tahunan), mengetuk rumah kami (kami tinggal dirumah dinas Puskesmas). Saya kebetulan yang membukakan pintu, orang itu kemudian menyalami saya dan memperkenalkan diri namanya Mxxxxx, dia bilang dengan agak pongah kalau saya mungkin tidak mengenal dia karena saya baru dan dia kebetulan memang belum pernah sidak ke Puskesmas kami. Agak kaget dan heran awalnya, tapi saya tanggapi biasa aja, eh, dia malah mengomentari kondisi rumah kami yang katanya tidak layak…alamakk..padahal bidan sebelah aja ngiri mau tinggal dirumah kami (bangunan baru)…Akhirnya dia bilang dia itu ketua DPRD kota. Ehm, biasa aja sih, menurut saya tidak ada yang istimewa, saya sih iya iya aja. Kemudian dia akhirnya ngaku kalau minta diresepkan sejumlah obat, yang namanya agak kurang familiar, dengan alasan obat itu diberikan Sp.PD dia menyebut dr. Kxxxx, dan kebetulan dia sedang keluar kota sehingga tidak bisa membuat resep baru.

 

Dia berujar kalau dr SP.PD tersebut mengijinkan dia untuk mengulang resep beberapa kali, dan waktu dia ke apotik, apotiknya menolak dengan alasan obat keras dan tidak bisa di ulang. Kemudian dia menyuguhkan secarik kertas, disitu tertulis kop dr.Dxxx seorang dokter umum yang saya kenal baik dan juga saudara isteri saya. Saya bilang kenapa nggak ke dr.Dxxx aja? Pak Mxxxx itu bilang karena rumahnya jauh. Akhirnya saya ambil resep tersebut dan saya cocokkan di ISO (buku daftar nama obat), dan salah satu obat yang dimaksud adalah obat golongan anti anxietas dan sedatif. Saya kemudian kembali lagi ke Pak Muhxxxx dan bilang, “Pak ini obat keras, tidak boleh diulang sembarangan…”, Eh dianya malah ngeyel dan dia bilang sudah diijinin ma dr. Kxxxx Sp.PD (entah benar entah tidak). Terus dia malah cerita yang aneh2 bahwa dia meragukanlah kepemimpinan Kadis kami dan kecewa dengan kualitas bangunan rumah kami yang notabene dibiayai APBD. Wah, repot nih pikir saya, Akhirnya saya tuliskan resep yang dimaksud sambil saya bilang “Pak, ini resep saya hanya akan tuliskan satu kali ini saja, dan saya tidak akan menuliskan lagi lain kali!, kalau bapak mau minta lagi tolong datang ke Sp.PD yang bapak datangi dulu untuk periksa ulang”…Akhirnya dia pulang dengan tersenyum dan dia bilang akan perjuangkan nasib isteri saya sebagai Dokter PTT (padahal kami tak ada singgung2 masalah itu), ah itu pasti Lip service, kataku pada isteri. Tak lama kemudian sebuah mercedes putih susu meninggalkan parkiran Puskesmas kami dan meluncur entah kemana…..

 

Wassalam,

 

Diemen, Amsterdam (4 Nopember 2008)

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Rini Indriany said, on Juni 11, 2009 at 8:52 am

    Assalamu’alaikum

    Dok, Fibroma haruskah di operasi?

    Trims…

    Wassalam…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: