Dunia Rafi

Being a Father [Ayah] is a full time job!

Posted in CelotehAyah&Mama by wiratara on Februari 21, 2008

Wah…..Judul yang mungkin terdengar asing untuk telinga sebagian besar orang…FULL TIME JOB???

29 Mei 2007 ketika si kecil saya lahir adalah sebuah awal dimana semua mindset harus dirubah menjadi “Baby Minded”……….or “Rafi Minded”…….dari yang semula Gue minded atau Couple minded…sebuah perubahan drastis dengan segala aspek ikutan yang dibawanya…yang entah disukai atau tidak, diinginkan atau tidak, tetap harus dihadapi…HARUS!

ya, sejak hari itu, kesibukan saya berubah….menjadi seorang ayah. Sebuah pilihan? Ya…menjadi seorang ayah adalah sebuah pilihan. Kenapa?? karena menjadi seorang ayah adalah sebuah pekerjaan yang tidak mudah…bukan hanya mencari nafkah dan semua urusan beres….bukan! Sebuah Esensi dari tanggung jawab yang luarbiasa harus dijabani, tidak hanya mencari nafkah saja. Semua orang bisa mencari nafkah (cukup atau tidak itu urusan lain), tetapi tidak semua bisa menjadi ayah dalam definisi saya.

Saya mendefinisikan ayah sebagai sosok yang memang bertanggungjawab penuh terhadap segala aspek yang dibutuhkan oleh keluarga. Finansial, kasih&sayang, pendidikan (formal/informal), sosial relation, dan kejayaan sebuah keluarga.

Let’s we start from the simplest thing. Berapa jam yang kita luangkan untuk keluarga dan berapa jam yang kita plot kan untuk bekerja? pernahkah terhitung oleh kita? saya berangkat jam 8.00 pulang jam 18.00 atau 10 jam. berarti saya dirumah cuman dari jam 18.00 s/d 8.00 keesokan harinya, dipotong dari jam 21.00 s/d 06.00 tidur malam, jadi cuma sisa 5 jam, dipotong lagi mandi pagi&sore dan pakai baju @30 menit, jadi tinggal 4 jam, dipotong jam makan pagi dan sore @15 menit, jadi cuman 3,5 jam. So, hanya sekitar 3,5 jam dari 24 jam yang kita punya adalah waktu untuk keluarga, itupun belum dikurangi waktu baca koran, minum kopi dan menerima tamu/menelepon…luar biasa bukan? paling tinggal sekitar 2 jam.

What a weird? kita bisa menyisihkan 10 jam (8 jam dikantor, 1 jam makan siang, 1 jam dijalan), tetapi hanya 2 jam untuk keluarga?? So, apa yang bisa kita banggakan dari hal itu! Hampir tidak ada. The Dutches said that “They don’t life to work but They work for life”. Maksudnya, bahwa “life” adalah episentrum dari semuanya…”kehidupan” bukan sebaliknya…

Saya bukan tipe orang yang setuju dengan teori Finansial Freedom yang menurut saya cenderung money oriented atau menempatkan “money/wealth” sebagai episentrum dari kehidupan, daripada sebaliknya. Sebenarnya apa yang kita cari dalam hidup? Uang? mobil? rumah? jabatan? –> tentunya Iya, tapi sebenarnya kesemuanya itu kita kejar untuk alasan apa?? —> KEBAHAGIAAN

Let’s we discuss another sample, Apa yang ada dibenak kita ketika melihat suku baduy di Sunda atau suku Dani di Irian dan Dayak di kalimantan yang masih dihutan, hidup dengan koteka dan rok dari daun alang-alang/rumbia? Kasihan? Iba? Kita mengira bahwa mereka menderita karena ke-primitifan mereka?? — Itu tentunya tidak sepenuhnya salah dan tidak juga sepenuhnya benar…maksudnya?

Kalau kita melihat dari konteks kekinian, globalisasi, parameter kemajuan sebuah peradaban, kesehatan, pendidikan, mereka pasti left far behind, tetapi kalau kita melihat dari konteks hidup dan kehidupan, tidak ada yang salah dari mereka…lihat saja, mereka bisa survive di hutan yang ganas…hidup berdamai dengan alam, dan if you see closely, you’ll see that they are enjoy with that!

Terus jadinya apanya yang salah!

yang salah adalah mindset kita (saya sebenarnya), kita terlalu lama hidup didunia pragmatis yang cenderung cepat memberikan judgement berdasar indikator2 sederhana yang padahal cukup menyesatkan. Misal, waktu saya kuliah dulu saya lihat senior saya spesialis pada punya mobil dan rumah mewah, waktu itu saya judge: PASTI ENAK (BAHAGIA) hidup mereka! which is sebenarnya setelah sekarang ini saya tahu lebih dalam ternyata tidak tuh….Guru Kimia saya yang naek CB butut dan tinggal diperkampungan sederhana saya pikir jauh lebih bahagia dari senior saya yang spesialis…buktinya…dia tetap bisa selalu tersenyum dan ramah dengan siswanya tuh…lain dengan senior spesialis saya yang banyak yang jutek dan cuek dengan mahasiswa….Padahal Mercy compared with CB…

Jadi, mindset kita yang sudah terlanjur pragmatis dan cenderung kapitalis [money oriented] harus segera kita rubah…or otherwise when we grow older we will only see ourselves stucked in the corner of our golden bed showered with jewelries but None of Happiness…Nothing. Saat ini saya jauh dari keluarg, terlalu jauh [>10.000 KM] dari rumah…saya begitu merindukan saat saya menceboki anak saya yang eek, merindukan saat saya mengejarnya untuk dipakaikan pampers, menggendongnya untuk melihat burung di atas pohon mangga didepan rumah, atau just saat mencium keningnya disaat dia tidur dimalam hari….what precious moments to be missed….Saya rela untuk membayar 1000 euro hanya untuk bisa melihat senyumnya dan menggendongnya hanya sesaat..

Saya cukup menyesali saat-saat dimana saya lebih mementingkan pekerjaan dibandingkan dengan isteri dan anak saya…saya sangat menyesali karena sudah korupsi waktu dari yang seharusnya pulang jam 5.00 sore tetapi seringkali molor jadi jam 5.30 atau bahkan 6.00 sore…disini saya banyak belajar…I will do it by the Dutch way!

08.00 – 17.00 is office time, and 17.00-….is private[family] time..That’s it! Because being a dad is not a part time job, but it is a FULL TIME job…

Amsterdam, 26 Sept 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: