I am-Sterdam

I amsterdam adalah slogan atau jargon untuk kota Amsterdam. Jargon ini menggambarkan bahwa amsterdam adalah kota modern, dinamis, plural dan liberal.
Nah, untuk hal yang menyangkut modernitas, amsterdam merupakan salah satu kota yang modern di eropa; meskipun bangunannya terlihat tua, tapi fasilitasnya sangat lengkap dan canggih. Rata-rata semua bangunan publik/sekolah/kampus dilengkapi dengan peralatan standar seperti CCTV, smoke alarm, lift, tangga emergensi, wide entrance dengan sensor LDR, extension line antar kamar, full internet akses dengan kecepatan sangat memadai dsb. Cukup dan sangat modern menurut saya.
Transportasi publik menggunakan sistem kartu langganan bulanan atau kartu strip “nationale strippenkaart” untuk tiap pemakaian yang dapat dibeli bebas ditoko atau di swalayan. Moda transportasi yang bisa dipakai dengan sistem ini adalah milik GVB bisa berupa bus, tram [kereta listrik dalam kota], sneltrain, metro [subway-kereta bawah tanah]. Kartu langganan bulanan biasanya sekitar 67 euro sebulan dan diperpanjang tiap bulan dan untuk strippenkaart kecil [isi 15 strip seharga 6,90 euro dan strippenkaart panjang 45 strip seharga 20,40 euro). Kartu berlangganan enaknya bebas dipakai kapan saja dan dimana saja, tinggal ditunjukkan, dan cocok untuk anda dengan mobilitas tinggi [sering belanja dan jalan2]. Untuk strippenkaart pemakaiannya hanya tiap kali anda naek moda tersebut, dan strippenkaart akan di stempel sesuai dengan zona yang dilewati. Biasanya dipakai oleh orang yang mobilitasnya rendah alias males pergi2 seperti saya. Moda lain adalah sepeda, harga sepeda bervariasi mulai dari 100 euro [merk turki] sampai dengan seribuan euro [merk eropa]; saya membeli versi turki dan alhamdulillah tidak ada masalah.
Dinamis, ya..amsterdam adalah kota yang dinamis, anda bisa saksikan bagaimana ritme hidup orang amsterdam mencerminkan bahwa mereka bekerja dengan efisiensi yang tinggi, baik pagi, siang ataupun malam; no resource waste! mungkin itu semboyannya..dan mereka sangat tepat waktu! jam karet tidak berlaku dikota ini. Be there on time or you will be left behind! Cuman lucunya, kalau hari senin toko2 besar, bank dan beberapa kantor lainnya buka mulai jam 13.00, jadi paginya tutup. Tidak seperti di negara kita bahwa senin ya masuk pagi. Mungkin mereka menganut prinsip bahwa senin pagi adalah momen yang kurang pas untuk memulai aktivitas dikarenakan masih terbawa suasana weekend. Tapi nyatanya efektif untuk mereka.
Pluralitas. Penduduk amsterdam terdiri dari orang yang berasal dari 167 negara yang ada didunia, menjadikan amsterdam kota paling plural di dunia dalam hal keragaman etnis. Jadi anda dapat menemukan segala macam bentuk rupa dan bahasa yang ada diseluruh belahan dunia disini. Begitu kata mr. Ploegh dosen kami yang mengajarkan masalah ke-belanda-an.
Liberalitas. Saya pikir Amsterdam adalah juara dalam hal ini. Bayangkan disini pernikahan sesama jenis (Gay atau Lesbi) dilegalkan dengan konstitusi, pemakaian ganja diijinkan; bahkan dilokasi2 publik tertentu yang berijin–disini disebut coffeeshop, jadi tidak hanya jualan kopi, tapi juga mariyuana. Prostitusi dilegalkan menurut konstitusi dan dilokalisir sedemikian rupa sehingga mampu menciptakan pasar sex dan daya tarik seksual yang cukup atraktif di Belanda. Siapa tidak kenal dengan Red Light District ? Mau tahu lokasinya? Lokasi prostitusi ini tepat didepan DAM square yang dulunya merupakan pusat pemerintahan Belanda kalau saya tidak salah. Yang menarik dari prostitusi ini adalah, anda tinggal berjalan menyusuri lorong-lorong sempit dan dikanan kiri anda akan tampak ruangan persegi berdinding kaca tembus pandang dan didalamnya berisi gadis-gadis dengan bra dan celana G-string yang menggoda anda dengan melambai2 kan tangan. Wah, deg-deg-serrr….dengan jarak hanya sekitar 1 meter dari posisi kita berjalan. Hmm…anda bisa bayangkan!
Liberalisme dalam konteks lain bahwa di Belanda adalah lazim, sepasang anak muda yang belum menikah untuk tinggal bersama dalam satu rumah dan berinteraksi layaknya suami isteri [termasuk hubungan badan]. Dalam tahapan ini mereka saling mencari kecocokan, apabila cocok akan dipertimbangakan untuk enggagement dan menikah; dan kalau tidak cocok ya pisah dan cari pengganti yang lain. Sungguh pragmatisme yang menyesakkan dada saya. Dan jangan heran ya, kalau anda sedang dijalan atau didalam tram atau didalam bus atau train anda melihat sepasang anak muda dengan santainya sedang berciuman bibir dengan begitu meriah dan bergelora tanpa memperdulikan sekitarnya. Disini hal itu biasa!
Segitu dulu ya, ntar disambung tulisan lainnya.
salam,
First Snow Falls in Diemen..
Video diatas direkam oleh Ayahrafi tanggal 22-11-08, hari sabtu. Karena kebetulan libur jadinya ayah bisa mengamati perubahan cuaca menit demi menit dari dalam kamar ayah di De Key Housing, Diemen Noord.
Maklum pengalaman pertama melihat salju (ndeso bin katrok he..he..) dan ternyata betul2 dingin diluar, brr….jadinya hari ini ayah putuskan untuk dikamar aja. Hybernate status mode : ON.
Rafi mau ikut ayah maen salju???
Konferensi PPI di Den Haag: 100th Gerakan Pelajar di Luar Negeri
Tanggal 25 – 26 Oktober 2008 lalu bertempat di Museon, diadakanlah sebuah acara konferensi pelajar Indonesia di Luar Negeri (Khususnya Eropa). Acara ini digawangi oleh PPI Belanda dalam rangka merayakan 100 tahun gerakan pemuda pelajar di luar negeri dan juga memperingati 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional (1908-2008). Konferensi ini dilaksanakan selama 2 hari dan dapat diikuti bebas oleh seluruh pemuda pelajar yang ada di Belanda khususnya maupun perwakilan dari PPI Eropa lainnya; dan pada kesempatan ini juga hadir salah seorang perwakilan dari PPI Australia. Presiden SBY pun hadir dalam acara tersebut secara virtual, jadi tidak hadir langsung tetapi live via Radio Beijing siaran Indonesia. Klik disini untuk membaca dan mendengarkan kata sambutan beliau, judulnya MILIKILAH MENTAL HARUS BISA. Agak familiar dengan judulnya?? tentu saja! BERSAMA KITA BISA adalah jargon SBY waktu Pilpres 2004 yang lalu…Kami tunggu lho Pak wujud konkritnya, padahal dah hampir habis masa berlakunya, tapi kok belum BISA-BISA makmur juga kita Pak?? jangan sampai dipelesetkan lawan politik jadi BERSAMA KITA BInaSA ya pak…Kutunggu janjimu..
Ayahrafi sendiri merupakan peserta mbeling dari Amsterdam (Anggota PPI Amsterdam, tapi belum jelas statusnya) bersama dengan kru Indria, viny, dan Hana. Kehadiran kami pada awalnya untuk mengikuti dan tentu saja berkontribusi terhadap acara ini. Tetapi ternyata sebagian besar kru memiliki agenda lain yang menyebabkan terjadinya conflict of interest dan pengaburan objectives. Kami hanya mengikuti sebagian acara pada hari I, dimana Ayahrafi sempat memberanikan diri bertanya kepada narasumber waktu itu. Begini petikannya:
Ayah rafi: “Assalamualaikum, terimakasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk bertanya. Dari sepengetahuan saya, kita di Indonesia tidak pernah kekurangan kaum terpelajar, kita punya ratusan profesor, kita punya ribuan doktor, dan juga para cerdik pandai lainnya. Jadi kesimpulan saya keterpurukan kita bukan karena kekurangan orang pandai. Keterpurukan kita adalah karena kita kekurangan Cerdik pandai yang memiliki rasa malu. Menyitir pembicaraan Cak Nun tadi, bahwa kita harus menjadi garuda dan bukan menjadi tikus, saya rasa hal ini sulit dilakukan. Para pemimpin kita saat ini sudah terlanjur terlena menjadi TIKUS asalkan makan KEJU (beli dari uang korupsi), dan mereka tidak akan mau menjadi GARUDA tetapi makannya TIWUL (beli dari uang gaji yang pas-pasan). Sekarang pertanyaan saya adalah bagaimana saran dari anda semua supaya kami ini yang notabene adalah darah baru bagi Indonesia, tidak terseret dan mengikuti jejak dari pemimpin-pemimpin tanpa rasa malu tersebut. Terimakasih, wabillahitaufiq wal hidayah, wassalamualaikum wr.wb.”
(suasana sejenak hening) — sekonyong2 kemudian moderator (Bapak dari Ranesi) berbicara : “Prof. Anwar mungkin mau menjawab?
Prof. Anwar Nasution: ” Ya, KAU itu mau jadi apa! itu yang harus kamu tetapkan dari sekarang. Jangan KAU tanya orang lain. KAU itu lah yang harus memutuskan…bla..bla..(dengan logat batak kental)”
HS Dillon : ” Saya pikir kembali lagi kepembicaraan terdahulu, jadi kita harus memiliki integritas pangan….bla..bla..bla…(Dengan logat ke arab-araban atau india persis kayak di film Mohabattein).
Emha Ainun Najib : “Jadi budaya malu adalah sesuatu yang…bla…bla…(maaf jawabannya panjang dan Ayahrafi lupa merekamnya, pokoknya beliau menjawab dari pendekatan budaya, maklum lah Budayawan”
Pokoknya intinya saya masih bingung, karena jawabannya seolah terdengar formalitas bagi saya, ingin rasanya mendebat lebih lanjut, tetapi dikarenakan keterbatasan waktu dan tidak diijinkan jadinya saya kekang nafsu liar saya untuk berdiskusi panas dengan panelis sekelas Prof. Anwar, Dr. HS Dillon dan Cak Nun. Hmm…
Catatan: Dari ketiga panelis, diskusi yang mereka tampilkan dihadapan kami, tampak sekali polarisasi begitu nyata, mereka seolah-olah mengemban misi lain yang terselubung daripada misi untuk hadir sebagai narasumber dan memberikan masukan dan solusi dari permasalahan yang dihadapi pemuda pelajar di luar negeri. Asumsi saya, ada hubungannya dengan 2009 pasti! Bahkan pidato Pak SBY pun juga secara samar mengarah kepada, Pilihlah saya 2009, karena kita pasti BISA! (huss….ha..ha…ha…ha…)
lihat juga berita lainnya di DetikNews.com
MADURODAM: Taman Mini Belanda Indah (TMBI)
Waaahhh…Judul yang aneh..se-aneh yang nulis mungkin ya..
Tapi faktanya memang begitu…mau tahu?? makanya baca ya…
Hari itu Sabtu 25/Okt/2008, Nawaitu-nya sebenarnya ikut Konferensi Pemuda Pelajar Indonesia (PPI) Belanda dalam rangka 100 tahun Kebangkitan Nasional di Museon Den Haag. Tetapi karena commander in chief dan teman2 ngeyel minta jalan2, ya udah, cuman ikutan 1/4 sesi dari jam 13.00 – 16.00. Selepas itu kami cabut…dengan tujuan MADURODAM!
Setelah sekitar 10 menit meneliti peta jalur tram dan bus di depan museon, akhirnya kesimpulan kami bulat. JALAN KAKI AJA!…nekat bener, padahal gak tahu ke arah mana dan sejauh apa…dasar orang nekat, gak gentar dan gak ragu untuk melangkahkan kaki-kaki kecil kami melahap meter demi meter jalanan di Den Haag. Akhirnya hati sedikit lega, commander in chief melihat sebuah rambu yang menunjuk ke arah Madurodam. Cuman gak ada keterangan jarak. Ya udahlah…minimal tidak salah arah.

Setelah jalan kurang lebih hampir 45 menit, mampir sana mampir sini, dan tentu saja foto2 dong…oia, kami menemukan sebuah monumen berupa beberapa orang belanda berdiri dan dibawahnya adalah peta INDONESIA!…selidik punya selidik, patung itu adalah patung tentara Belanda yang meninggal selama peperangan di Indonesia dan di beberapa negara di Asia. Di depan patung itu berderet bunga2 segar yang sengaja diletakkan mungkin oleh keluarga mereka. Hmmm…
Setelah sejenak mengabadikan moment mejeng di entrance madurodam, kami segera beranjak ke bagian tiket, hmmm…lumayan juga harganya 13.75 euro/orang dengan lama kunjungan tidak dibatasi ampe tutup jam 20.00 lewat. Yah, mahal dikit, sekali-kali untuk cerita anak cucu.
Begitu masuk, wah…ternyata memang betul2 kecil…mungkin hanya sekitar 1 atau 2 hektar saja, jadi tidak ada apa-apanya dengan TMII. So BRAVO Indonesia! bisa membuat taman mini dengan ukuran jumbo!…Madurodam hanya sebuah lapangan berbentuk petak (square), dengan ditengahnya berisi miniatur gedung2 landmark dari masing2 kota di Belanda. Saat masuk kita akan diberi sebuah buku kecil yang berisi petunjuk nama dari bangunan sesuai dengan nomornya. Jadi, bagi turis yang hanya singgah tidak akan bingung.
Sesaat setelah masuk, kami lihat sebuah kereta mini sedang berkeliling penuh sesak dengan penumpang anak-anak maupun dewasa. Cuman karena perut keroncongan akhirnya kami memutuskan makan dulu. Menu sore ini Patat (kentang goreng) dan pie apel…lumayan lah untuk ganjal perut. Setelah makan akhirnya kami menyeruak masuk kedalam kerumunan pengunjung lain dan berpose sana-sini, potret sana sini seperti orang kesetanan. Cuek ah, gak kenal ini, pikir kami.
Setelah sekitar sejam keliling-keliling gak tentu arah, akhirnya sekitar jam 19.00 WB (Waktu belanda) kami memutuskan untuk ngacir pulang ke Amsterdam. Padahal menurut info dari petugas karcis, jam 20.00 WB ada pertunjukan sinar laser…wah, nyesel juga sih. Cuman ada anggota kru yang ngeyel minta pulang ya akhirnya kami memutuskan pulang.
Yah, malam itu kami sampai kembali di De Key (Flat kami) sekitar pukul 24.00 WB. Petualangan yang cukup menyenangkan!
See you in other episode..
Diemen, 10-11-08
Ayahrafi
Amsterdam Under Attack!
Assalamualaikum,
Amsterdam Under Attack!
Hari selasa minggu yang lalu (4-11), cuaca di Amsterdam begitu tidak bersahabatnya, mulai dari malam sebelumnya (3-11), langit sudah menandakan aura yang kurang bersahabat, langit begitu gelap tersabut kabut yang cukup tebal. Ya, malam itu saya berharap semoga keesokan hari cuaca akan lebih bersahabat.
Ternyata harapan tinggal harapan, alih2 cuaca bersahabat, yang ada kabut semakin tebal, dan diiringi rintik-rintik tipis hujan yang dihembus angin. Oia, sekedar informasi, di Amsterdam atau Netherland dan mungkin juga sebagian besar Eropa, hujan disini tidak selebat hujan di Indonesia, yang cukup dahsyat dan melumpuhkan aktivitas. Alih2 naik sepeda, naik mobilpun terkadang kita enggan keluar. Di Amsterdam hujan tidak seberapa lebat, tetapi acapkali disertai angin yang cukup kencang dan lumayan membuat kaki dan tangan ini beku dan badan menggigil kedinginan..brrr..br…
Pagi itu saya berangkat bersepeda dengan jarak pandang hanya sekitar 15-20 meter, mana saya nggak tahu kenapa lampu sepeda saya dinamo-nya gak mau nempel ma roda. Alhasil saya naik sepeda ditemani mas ketar dan mas ketir, dan dengan doa yang khusyuk semoga Alloh berkenan memberiku keselamatan. Alhamdulillah, kabut yang tebal, jarak pandang terbatas (walaupun saya sudah memiliki 2 mata tambahan), dan jalanan yang licin tidak menggentarkan hati saya untuk memacu sepeda turki seharga 99 euro saya ngebut menyerut aspal dengan kecepatan 120 mph…he..he..nggak ding. Walhasil sampailah saya ke Kampus KIT dengan tidak kurang suatu apa.
Siang itu saya putuskan pergi ke Dappen Markt (pasar murah) tepat dibelakang kampus untuk cari lampu sepeda tambahan yang bisa dibongkar pasang. Kata si Tadashi, kawan saya dari jepang harganya 3 euro untuk dua pasang lampu (jangan dibayangkan lampu besar ya, lampunya sak uprit, sekecil uang kepingan 100 rupiah jaman dulu yang warna perak). Setelah tengok kanan dan tengok kiri, akhirnya saya menemukan sebuah “gerai” atau dasaran penjual perkakas sepeda. Akhirnya setelah nying nyong tanya sana sini, saya putuskan membeli sepasang lampu built up seharga 3.5 euro (yang ini gedhean dikit, seukuran mata kucing sepeda). Lumayanlah untuk keselamatan.
Sore hari selepas kuliah, ternyata kabut itu tak kunjung reda, cuman alhamdulillah sudah tidak ada lagi rintik-rintik hujan dan juga saya sudah punya lampu! what a nice ride! dan waktu mau pulang saya cek lagi dinamo sepeda saya, karena jengkel, akhirnya saya bengkokkan aja pegangan dinamonya biar nempel ke ban, ajaib, ternyata lampunya nyala! Tahu gini dari tadi pagi udah saya bengkokkan. Cuman kalau mau matikan, ya harus diluruskan lagi…manual ceritanya. Dasar sepeda murah! Harga menentukan kualitas!
Akhirnya saya pulang dengan riang dan jepret sana jepret sini dengan kamera Sony Cybershot DSC-W55 teman setia dikala susah. Hasilnya anda bisa lihat hasil jepretannya di artikel ini.
So, hari itu memang betul2 Amsterdam under attack, tapi bukan oleh teroris, bukan oleh zionis israel, bukan pula oleh rudal Korut dan nuklir Amerika, tapi serangan oleh Kabut.
Diemen, 10-11-08
Ayahrafi
Holland, Dutch, atau The Netherland?
Assalamualaikum,
Gimana keadaan Holland? Aman?
Wah, pasti sudah dering kita dengar, baca atau lihat ketika orang pulang dari liburan atau sekolah di Belanda, kemudian sanak family bertanya dengan kalimat diatas, Holland yang dimaksud pastilah merujuk pada negara Belanda. Tapi tahukah anda, bahwa sebenarnya Holland adalah nama propinsi di Belanda? dan bukan keseluruhan dari Belanda. Saya yakin hanya sedikit yang tahu, saya juga pada awalnya bingung. Istilah Holland menurut wiki : Holland is a region in the western part of the Netherlands. A maritime and economic power in the 17th century, Holland today consists of the Dutch provinces of North Holland and South Holland. Dalam bahasa belanda disebut Noord Holland dan Zuid Holland, nah kalau amsterdam itu masuknya ke Noord Holland, termasuk Diemen tempat sekarang saya tinggal.
Nah, kalau Dutch itu artinya etnis/suku asli Belanda. Suku ini juga sebagian mendiami Belgia, dan terdapat pula keturunannya yang bermigrasi ke negara-negara seperti Kanada, Afrika Selatan, Amerika Serikat dan Australia. Mungkin di Indonesia juga ada, kan 350 tahun mereka menjajah kita. Nah, kalau anda berkunjung ke Belanda, sempatkan anda berkunjung ke museum2 disini, anda akan terkejut karena sebagian isinya adalah barang-barang dari Indonesia! apakah ini tergolong pencurian?? gak jelas pasti, cuman mereka membawa barang2 tersebut saat masa penjajahan. hmmm…kisah yang memilukan…
Kembali ke istilah diatas, nah kalau The Netherland adalah kata yang tepat untuk menyebut Belanda dalam bahasa inggris. Tapi jangan pula dirancukan dengan The Netherland Antilles, yaitu gabungan dari beberapa pulau yang sebenarnya terpisah dari Belanda, tetapi memiliki riwayat menjadi koloni Belanda. Sejak beberapa waktu lalu melaksanakan referendum untuk menentukan keputusan apakan akan menjadi bagian otonomi dari Kerajaan Belanda atau terpisah.
So, kalimat yang benar adalah: Gimana keadaan ananda di Netherland? Aman?……Inggih Pakdhe, kawulo sae kemawon..matursembah nuwun..
Wassalam,
Ayahrafi
Diemen, 5 November 2008
Daylight Saving….
Apaan tuh? itulah pertamakali respons saya saat mendengar kata itu. Selidik punya selidik ternyata Daylight saving adalah sistem penambahan 1 jam dimuka yang berlaku selama masa summer (musim panas). Kurang lebih 2 minggu yang lalu, saya mendapat sebuah e-mail dari rinia sahebdin, sekretaris di kampus bahwa mulai tanggal 26 Oktober jam 03.00 am saya harus memundurkan jam saya satu jam menjadi 02.00 am; atau kalau tak sempat dan ngantuk dia sarankan sewaktu bangun agar saya segera memundurkan jam saya 1 jam lebih lambat. Hal ini dikarenakan sudah memasuki Winter time dan Daylight saving untuk tahun ini sudah berakhir. Mmm…ngikut aja ah, lagi pula saya diuntungkan sekali jadinya bisa tidur lebih lama.
Ide dari Daylight saving pertama kali dikemukakan oleh Benjamin Franklin dan tujuan dari Daylight saving (atau dikenal dengan Summer time) ini adalah untuk memanfaatkan sinar matahari dengan lebih baik. Maksudnya, dengan waktu “day” atau terang yang lebih lama, maka orang2 akan dapat menikmati summer lebih lama, selain itu juga terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa dengan Daylight saving dapat menghemat pemakaian listrik. Untuk negara-negara di ekuator, termasuk Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina dsb tidak perlu diberlakukan Daylight saving.
Berikut adalah jadwal Daylight saving di US dan EU.
United States |
European Union |
||||
|
|
|
||||
| Year | DST Begins at 2 a.m. |
DST Ends at 2 a.m. |
![]() |
Summertime period begins at 1 a.m. UT |
Summertime period ends at 1 a.m. UT |
| 2004 | April 4 | October 31 | ![]() |
March 28 | October 31 |
| 2005 | April 3 | October 30 | ![]() |
March 27 | October 30 |
| 2006 | April 2 | October 29 | ![]() |
March 26 | October 29 |
| 2007 | March 11 | November 4 | ![]() |
March 25 | October 28 |
| 2008 | March 9 | November 2 | ![]() |
March 30 | October 26 |
| 2009 | March 8 | November 1 | ![]() |
March 29 | October 25 |
| 2010 | March 14 | November 7 | ![]() |
March 28 | October 31 |
|
March 13
|
November 6
|
![]() |
March 27
|
October 30
|
|
|
US calculator valid 1976-2099; EU 1996-2099. Change with up/down key. |
|||||
Diemen, 5 November 2008
Ayahrafi
Thanks Oriental….
Di negeri orang? Pasti kangen masakan indonesia…Makanan negeri sendiri selalu yang terbaik!
Penduduk belanda sebagian besar mengkonsumsi roti sebagai makanan pokoknya, dengan kombinasi keju, sayuran dan buah. Rotinya pun berbeda karena mereka menggunakan whole grain, saya sebenarnya tidak tahu apa bedanya, tapi yang jelas seratnya agak kasar dan rasanya benar-benar tawar. Beda banget dengan roti tawar yang terkadang saya makan dirumah.
Hari pertama saya masak gaga mie goreng, karena itu yang saya bawa dari rumah, ditambah dengan roti yang didapet dari pesawat. Untungnya puasa, jadi ya makan seadanya. Pagi harinya, sahur juga masih dengan gaga mie, kemudian agak siang kami jalan2 dan belanja di Albert Heinz untuk pertama kalinya. Tidak terlalu jauh, cuman 10 menit jalan kaki dari flat. Disana kami dapet kentang dan juga roti whole grain yang dimaksudkan diatas. Disana saya juga belanja sayuran dan buah.
Malam kedua ini kami diundang Amar untuk gabung dengan komunitas PPME (Persatuan Persaudaraan Muslim Eropa) Al Ikhlas Amsterdam untuk ikut acara buka puasa bersama. Alhamdulillah, makanannya lengkap dan aduhai. Dan lebih untung lagi, saya disangoni makanan untuk sahur, wuiiih………
Malam Ketiga saya buka dengan kentang panggang dan blue band margarin. Menu yang aneh tapi cukup untuk mengenyangkan. Paginya seperti biasa gaga mie dan nasi dari beras sisa yang dikasih Dewi via si Francis. Lumayanlah..
Hari ke-empat ini ngampus, siangnya ada makan bersama penyambutan..tebak dimana? Di Restoran Indonesia! usut punya usut ternyata Course Coordinatornya (Prisca Zwanikken) penggila makanan Indonesia (Ayah dan Ibunya dulu tinggal di Indonesia jaman penjajahan, dia biasa dimasakin ibunya, sayur lodeh, opor ayam, sate, serundeng, dan masakan jawa lainnya)
Hari kelima kami memutuskan untuk mengembara mencari “toko Oriental” yang didengung-dengungkan Dewi. Kata dia, disana ada jual barang2 dari Indo, mulai dari indomie sampe tahu dan tempe. Dengan bekal info dari amar kami berlima (Saya, indria, wenita, viny dan Tadashi dari Jepang) sampai juga di Oriental. Wuah..senangnya..ketemu banyak orang indo..dan yang penting lagi ketemu beras pandan, tahu, tempe, cabe rawit, bawang dan semuanya…asyikk…home sweet home..akhirnya saya hanya bisa berucap….Thanks Oriental..










tinggalkan komentar