Editorial: ‘Ledakan’ H1N1 akan jauh lebih dahsyat dari Bom Mega Kuningan
(Tulisan ini adalah rangkaian dari seri H1N1 sebelumnya)
Akhir-akhir ini perhatian kita banyak disibukkan oleh isu terorisme berkaitan dengan insiden-insiden terror yang terus berkembang di negeri ini. Akhir-akhir ini pula sebenarnya ada sebuah pergerakan teror baru yang mulai mengusik ketentraman masyarakat kita. Ya, teror H1N1!
H1N1 disukai atau tidak dan disadari atau tidak telah menyebar dengan leluasa ke berbagai penjuru dunia, dan diprediksikan bahwa ledakan akan terjadi saat memasuki musim gugur[1]. Data yang dirilis WHO, jumlah kasus terbaru per 21 Agustus 2009 adalah sebanyak 182,166 kasus dengan total kematian 1,799 orang sejak penemuan kasus pertama di bulan April 2009 [2]. Dari kalkulasi angka-angka tersebut didapatkan Case Fatality Rate (CFR) saat ini adalah 0.98% (atau dibulatkan 1%). Estimasi WHO akan skenario wabah H1N1 menunjukkan bahwa dengan 33% attack rate akan ada kurang lebih 2 Milyar penduduk dunia akan terinfeksi oleh virus ini dengan berbagai spektrum dalam kurun waktu 2 tahun [1,3]. Dengan CFR yang ada saat ini dapat diprediksikan bahwa sekitar 20,000,000 penduduk bumi akan meninggal dunia karena virus ini.
Situasi di Indonesia juga tak kalah mengkhawatirkan dengan perkembangan dari hari ke hari yang cukup pesat. Rilis terbaru dari Depkes menunjukkan bahwa sampai tanggal 20 Agustus 2009 terdapat 948 kasus positif (confirmed/konfirmasi) yang tersebar di 24 propinsi dengan jumlah kasus meninggal yang masih simpang siur (3 atau 4 orang) [4,5]. Hal yang lebih mengejutkan lagi adalah bahwa separuh (48%) dari penderita H1N1 di Indonesia tidak pernah berpergian keluar negeri [6].
Hal ini menunjukkan bahwa infeksi virus H1N1 ini bukan hanya dapatan dari luar tetapi sudah menyebar dikalangan masyarakat kita.
Dengan menggunakan skenario wabah WHO, dengan total penduduk kita saat ini sekitar 230,632,700 [7] dengan attack rate 33% maka diestimasikan akan ada 76,877,566 orang yang terinfeksi virus ini, dan estimasi kasus asimptomatik 25% (19,219,392) dan simptomatik 75% (57,658,174). Dengan 2% kasus simptomatik yang memerlukan rawat inap/hospitalized (1,153,163) dan dengan 5% kematian dari jumlah kasus hospitalized maka estimasinya akan ada 57,658 orang meninggal dunia akibat H1N1 pandemi di Indonesia. Rumus ini bukan rumus baku, penulis menggabungkan estimasi attack rate dari WHO dan kalkulasi prosentasi kasus a/simptomatik, rawat inap dan kematian dari CDC [1,8]. Belum ada kalkulasi mengenai proporsi korban menurut profil demografi seperti pada model skenario wabah H5N1, tetapi data-data yang ada menunjukkan bahwa anak-anak dan dewasa muda adalah golongan paling rentan [8]. Meskipun hitung-hitungan ini hanya model matematis saja dan masih banyak diperdebatkan, tetapi mungkin dapat dijadikan pertimbangan dalam perencanaan mitigasi wabah/bencana.
Tetap sehat dan selalu waspada..
SH
Ams-NL
Referensi:
- WHO predicts ‘explosion’ of swine flu cases. Available from: http://news.yahoo.com/s/ap/20090821/ap_on_re_as/as_asia_swine_flu
- Pandemic (H1N1) 2009 – update 62 (revised 21 August 2009). Available from: http://www.who.int/csr/don/2009_08_21/en/index.html
- WHO maintains 2 billion estimate for likely H1N1 cases. Available from: http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/news/fullstory_87742.html
- Tambahan 18 Kasus Baru Positif Influenza A H1N1. Available from: http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=3533
- 41 Kasus Baru Flu A-H1N1, Total Kasus 812 Kasus. Available from: http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/08/11/21373437/41.Kasus.Baru.Flu.A-H1N1..Total.Kasus.812.Kasus
- 48 Persen Penderita Flu Babi Tidak Pernah Ke Luar Negeri . Available from: http://www.penyakitmenular.info/def_menu.asp?menuID=27&menuType=1&SubID=2&DetId=382
- Population Projection by Age Group and Sex
Year 2008-2009. Available from: http://www.datastatistik-indonesia.com/proyeksi/index.php?option=com_proyeksi&task=show&Itemid=941 - CDC. Swine Flu: Worst case scenario. Available from: http://cosmos.bcst.yahoo.com/up/player/popup/index.php?cl=15217123
Lihat juga referensi:
1. Global Alert and Response: Pandemic (H1N1) 2009. Available from: http://www.who.int/csr/disease/swineflu/en/index.html
2. Call to Action. Available from: http://www.who.int/csr/resources/publications/swineflu/20090817_call_to_action_en.pdf
H1N1 (Swine Flu) Kebal Tamiflu?
Pagi ini saat membuka email di Yahoo ada sebuah berita menarik. Bukan sebuah kejutan sebenarnya, tapi justifikasi dari prediksi banyak orang. Ya, berita di Yahoo itu melansir pernyataan para ahli dari PAHO bahwa telah ditemukan kasus virus H1N1 resisten (kebal) terhadap tamiflu di beberapa negara (US, Canada, Jepang, Hongkong). Terus apa artinya? Artinya bahwa virus H1N1 telah bermutasi kembali membentuk keturunan (strain) baru yang lebih poten dan kebal terhadap ‘oseltamivir/tamiflu’.
Wah, kalau Tamiflu sudah tak mempan, obat apalagi yang bisa dipakai? Saya yakin pasti ada, cuma mungkin kuantitas dan harganya yang sulit dijangkau oleh negara2 berkembang. Dalam kunjungan ke kantor WHO di Jenewa, saya pernah bertanya kepada salah satu penanggungjawab penanggulangan wabah H1N1. “Bagaimana bila strain H1N1 bertemu dengan strain H5N1 (virus flu burung) didalam 1 tubuh, apakah akan memicu munculnya strain baru gabungan keduanya yang akan lebih poten, mematikan dan sangat mudah menyebar?”..hari itu sang ahli menjawab “tidak tahu, walaupun kemungkinan itu bisa jadi ada, kami sedang mencoba melakukan penelitian tentang itu”..Ah, jawaban normatif menurut saya.
Munculnya strain baru H1N1 ini diprediksikan karena pemakaian Tamiflu yang tidak berdasarkan resep, karena menurut info yang ditulis di Canada dan di Mexico Tamiflu bisa dibeli bebas. Untuk di Indonesia saya rasa kebijakan pemerintah bahwa Tamiflu tidak bisa dibeli bebas. Mudah2an strain baru ini tidak muncul di Indonesia walaupun kemungkinan itu cukup besar.
Salam sehat,
Pandemi Flu Babi (Swine Flu) sudah didepan mata..
Wah…baru 2 hari ini saya mengikuti berita mengenai Swine Flu dan ternyata sudah begitu luarbiasa.. Malu sebenarnya saya yang mengaku sebagai calon praktisi public health kok ketinggalan berita yang begini besar.. Yuk mari kita ulas sedikit masalah Swine Flu ini.
Swine Flu: Waspadalah…Waspadalah…
Swine Influenza(Swine Flu) adalah penyait saluran pernafasan pada babi yang disebabkan oleh virus influenza tipe A (H1N1) yang sering menyebabkan wabaha pada babi. Pada umumnya penyakit ini tidak terjadi pada manusia meskipun mempunyai potensi untuk ditularkan ke manusia dan pada beberapa kasus memang terjadi. Sebelumnya pernah dilaporkan adanya kasus penularan swine flu ini dari manusia ke manusia, tetapi penularannya hanya terbatas dan tidak melebihi 3 orang (1). Tapi itu dulu, lain lubuk lain belalang, lain dulu lain sekarang. Mungkin virus ini sudah bermutasi dan mencapai tahapan lanjut yang sudah cukup poten.
Saat ini CDC dan WHO telah menetapkan bahwa virus Swine Flu ini (H1N1) sangat menular dan menyebar dari satu manusia ke manusia yang lain. Bahkan WHO sudah menyatakan pandemi fase 4 (artinya sudah ada penularan dari MANUSIA ke MANUSIA, yang menetap di minimal satu negara, yang pada kasus ini adalah Mexico dan mungkin US juga) (1,3). Ingat kasus Flu Burung (H5N1) di Indonesia? Nah yang itu baru fase 3, artinya ada penularan dari HEWAN/UNGGAS ke MANUSIA tetapi belum ada bukti penularan dari MANUSIA ke MANUSIA meskipun ada beberapa kasus kluster yang terjadi di Tangerang dan Sumatera Utara. Jadi secara Fakta sudah jelas, bahwa virus H1N1 ini jauh lebih berpeluang menyebabkan pandemi global dari pada H5N1. Wah, cukup mengerikan ya.
Yuk kita bicara statistik. Kasus yang menyebabkan potensi global pandemi kali ini dimulai ketika ditemukannya kasus positif di Mexico pada seorang bocah umur 4 tahun yang tinggal didaerah di Veracuz state yang terkontaminasi oleh peternakan babi pada tanggal 2 April 2009. Kemudian dalam hitungan hari (sekarang tanggal 28 April), kasus ini sudah menyebar pada 2000 orang di Mexico dan diperkirakan lebih dari 150 diantaranya meninggal dunia (2). Bandingkan dengan kasus Flu Burung di Indonesia yang memerlukan waktu lebih dari 5 tahun untuk merenggut nyawa sejumlah tersebut. Hmm..dahsyat! Sedangkan di Amerika sendiri kasus yang tercatat sudah 50 kasus tetapi umumnya lebih ringan sehingga hanya 1 orang yang harus dirawat dan belum ada korban jiwa. Diseluruh dunia sudah tercatat 79 orang yang positif (confirmed) terserang H1N1 ini, sedang WHO mengklain sejumlah 73 orang (2,4).
Apapun angkanya, melihat dari rentang waktu, jumlah yang terinfeksi, dan jumlah korban yang meninggal (keparahan), bisa dikatakan bahwa Swine Flu ini adalah kandidat terkuat untuk menjadi global pandemi. Hal ini tentunya mengingatkan kita pada Flu Spanyol pada 1918 yang menginfeksi sekitar 500 juta orang diseluruh dunia dan mengakibatkan kematian pada 25-50 juta orang dalam kurun waktu sekitar 1 tahun. WHO bahkan menyebut bahwa FLu Spanyol ini adalah penyakit paling mematikan yang pernah ada didalam sejarah manusia (5). Wah..wah..wah..
Sepertinya kita memang harus benar2 wapada. Kemarin ramai tentang Flu Singapura, yang walaupun tidak mematikan tetapi cukup menghebohkan. Menghadapi Swine Flu ini pemerintah dan seluruh jajaran departemen dan komponen masyarakat harus bahu membahu supaya virus ini dapat dihambat masuk ke Indonesia. Dengan kondisi cuaca tropis dan hygiene dan sanitasi masyarakat kita yang masih rendah, bukan tidak mungkin Ledakan Pandemi Global Swine Flu ini yang paling parah Justru terjadi di Indonesia. Naudzubillah!
Teman2 TS Dokter, mari kita budayakan sharing informasi dengan keluarga, masyarakat sekitar, pasien, dan siapapun yang dijumpai. Sehingga mereka bisa memperoleh informasi dengan akurat dan terpercaya. Walaupun penyakit ini belum masuk ke Indonesia, alangkah baiknya kalau kita mempersiapkan diri dengan baik, katanya kalau tak kenal maka tak sayang. Mudah2an Alloh SWT selalu memberikan kita perlindungan dari segala macam marabahaya dan penyakit. Amin.
Salam Sehat,
Selamet Hidayat
———————————————————————————————-
Data teknis:
Spesifikasi Swine Flu:
Penyebab: H1N1 (Virus Influenza tipe A)
Transmisi : Babi ke manusia, manusia ke manusia via udara (droplet atau cairan lendir hidung, lendir bersin dan batuk, aerosol, etc). Droplet yang menempel pada benda-benda (meja, kursi, pegangan pintu, dll yang terkontaminasi droplet) dapat bertahan hidup selama 2 jam dan mempunyai potensi untuk menular.
Inkubasi : 1 – 7 hari baru akan mulai onset.
Tanda dan gejala: Pada umumnya serupa flu biasa, tetapi lebih progresif dan fatal dalam hitungan hari.
Gejala yang sering ditemukan adalah demam, batuk, sakit tenggorokan, sakit2 seluruh badan, sakit kepala, menggigil dan lelah. Pada beberapa kasus juga ditemukan diare dan muntah.
Terapi : CDC merekomendasikan penggunaan Oseltamivir (Tamiflu) untuk pengobatan atau pencegahan. Pemberian obat anti virus ini akan efektif apabila dimulai segera saat muncul gejala atau sebelum 2 hari setelah munculnya gejala.
Note: Pasien yang menderita Swine flu akan mempunyai potensi menularkan penyakit ini selama rentang waktu 1-7 hari setelah onset.
————————–————————–————————–—————-
Sekarang Anjuran dari CDC untuk prevensi (1):
• Tutup hidung dan mulut dengan tissu saat batuk atau bersin, buang tissu ke tempat sampah yang bertutup.
• Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sesering mungkin, terutama setelah batuk atau bersin dan setelah beraktivitas di area publik. Pembersih tangan berbahan dasar alkohol (antis, dll) juga terbukti cukup efektif.
• Hindari sering-sering menyentuh mata, hidung dan mulut, karena virus dapat menyebar melalui cara ini. Apalagi setelah tangan anda menyentuh benda2 yang kemungkinan terkontaminasi oleh virus (permukaan meja, pegangan tangga, pegangan bus, dll) Avoid touching your eyes, nose or mouth. Germs spread this way.
• Sebisa mungkin hindari kontak dengan pasien suspek/confirmed swine flu
• Jika anda sakit flu, usahakan tetap tinggal dirumah dan tidak beraktivitas di kantor atau sekolah untuk menghindari transmisi dan juga sebisa mungkin periksa ke dokter atau RS terdekat.
————————–————————–————————–—————-
Referensi:
1. CDC, Swine flu and you. URL: http://www.cdc.gov/swineflu/swineflu_you.htm
2. WHO, Swine Flu. URL: http://www.who.int/csr/disease/swineflu/en/index.html
3. WHO, Pandemic phase. URL: http://www.who.int/csr/disease/avian_influenza/phase/en/index.html
4. Yahoo, WHO raises global alert. URL: http://news.yahoo.com/s/ap/20090428/ap_on_he_me/med_swine_flu
5. The Spanish Flu. URL: http://www.nwabr.org/studentbiotech/winners/studentwork/2006/WB_SC_Rimbakusumo/hspanflu.html
Imunisasi dalam kacamata Islam
Dear Sahabat,
Sebuah kajian singkat yang cukup menarik dari syariahonline mengenai hukum Imunisasi dalam Islam. Berikut petikannya:
Assalamu alaikum wr.wb.
Bismillahirahmanirrahhim. Alhamdulillahi Rabbil Alamin. Wash-shalatu wassalamu ala Asyrabil Anbiya wal Mursalin. Wa ba’du.
Pada dasarnya Islam sangat mendorong umatnya untuk senantiasa menjaga kesehatan. Termasuk di dalamnya melakukan upaya preventif agar tidak terkena penyakit dan dan berobat manakala sakit.
Misalnya Nabi saw memberikan satu petunjuk untuk menjaga kesehatan dengan bersabda,
”Barangsiapa makan tujuh butir kurma Madinah pada pagi hari, ia tidak akan terkena pengaruh buruk sihir atau racun”
Dalam kesempatan lain, Nabi saw juga menganjurkan untuk berbekam, meminum madu, serta mengonsumsi sejumlah obat-obatan lainnya semisal habbatus sauda’ yang sangat bagus, baik sebagai upaya prefentif untuk mencegah masuknya penyakit dan sebagai bentuk terapi pengobatan.
Jadi, pada dasarnya imunisasi sebagai upaya pencegahan masuknya penyakit boleh dilakukan.
Hanya saja, sebelum imunisasi dilakukan harus diperhatikan pula apakah cara dan jenis imunisasi tersebut tidak boleh berupa unsur yang haram. Kemudian, harus dipastikan pula bahwa jenis imunisasi yang diberikan aman dan sesuai bagi mereka yang hendak diimunisasi.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalamu alaikum wr.wb.
Khitanan: Kewajiban sekaligus keselamatan – sebuah perspektif
Sebuah Video Khitanan sekaligus prosesi adat masyarakat sunda
Bagi kita umat muslim, khitan atau pemotongan sebagian dari preputium/selubung penutup penis adalah suatu kewajiban. Sebagai tanda bahwa kita sudah memasuki masa akhil baliq, pada umumnya sekitar usia 12 atau 13 tahun. Di sebagian daerah, praktek ini sudah dilakukan oleh tenaga medis dan dengan peralatan steril dan pembiusan lokal yang memadai, tentu saja dengan obat paska khitan yang mumpuni. Tetapi didaerah pedalaman, praktek ini masih sering dilaksanakan oleh dukun atau paraji sunat dengan menggunakan peralatan yang tidak steril dan teknik yang mungkin cukup berbahaya.
Mungkin sebagian dari anda sudah tahu, bahwa ada prosentase kecil anak laki-laki mengidap penyakit hemofilia, sebuah penyakit keturunan yang memiliki tanda utama sulit berhentinya perdarahan dikarenakan kelainan pada faktor pembekuan faktor VIII, sehingga darah tidak bisa menjendal dan perdarahan yang terjadi akan terus mengucur. Tindakan medis berupa ligasi/pengikatan pembuluh darah atau kauterisasi/pembakaran pembuluh darah arteri atau vena untuk menghentikan perdarahan tergantung pada tingkat keparahan. Pada anak dengan kondisi ini khitan mutlak harus dilakukan dirumah sakit dengan fasilitas ruang operasi, mengingat risiko yang ditimbulkannya cukup besar hingga dapat berujung pada kematian.
Jadi, Ayahrafi menganjurkan kepada anda semua untuk membantu menyampaikan pesan bahwa tindakan khitan harus dilakukan oleh medis ataupun paramedis; atau pada kondisi tertentu dan tidak bisa dihindari (daerah dengan budaya lokal yang cukup kuat) bisa dilakukan paraji dengan supervisi atau pengawasan dari medis ataupun paramedis. Mengingat Khitan adalah wajib hukumnya dari segi agama, tetapi keselamatan anak manusia juga merupakan hal yang utama.
Salam,
Diemen, 23-11-08
Empat Bulan Tanpa Jantung!
Malam ini saya membuka video di Yahoo mengenai seorang remaja perempuan berumur 14 tahun yang harus menjalani transplantasi jantung dua kali dalam jeda waktu kurang lebih 4 bulan untuk menyelamatkan nyawanya dari kegagalan jantung akibat kardiomegali yang cukup parah (CHF). Menakjubkan? Belum..Yang menarik dari kasus ini adalah ketika transplantasi pertama dilakukan, selang dua hari kemudian dokter yang mengawasi melihat tanda-tanda bahwa jantung yang ditransplantasikan tidak berfungsi sebagai mana dengan mestinya, untuk itulah mereka kemudian mengoperasi remaja tersebut untuk mengambil kembali jantung yang telah dipasang.
Terus? apa yang menarik dari cerita ini? Setelah jantung tadi diambil kembali karena belum mendapatkan donor yang sesuai, remaja tersebut tidak bisa langsung mendapatkan jantung pengganti. Wah, sungguh rumit. Kemudian tim dokter mencoba dengan menggunakan jantung buatan (sintetis) dengan dua katup in and out dan disambungkan dengan alat pemacu dari luar tubuh. Jadi remaja ini 100% bergantung pada jantung buatan ini selama 118 hari, hingga akhirnya dia mendapat jantung yang pas untuk ditransplantasikan pada 30 Oktober lalu. Sungguh cerita yang luar biasa. Inilah bukti bahwa kemajuan ilmu pengetahuan memang memiliki dampak positif dalam beberapa hal. Walaupun banyak juga implikasi buruk yang ditimbulkannya akibat ulah oknum-oknum tertentu.
Lalu apa hal yang ingin dilihatnya ketika pertama kali keluar dari Rumah sakit setelah 4 bulan? ….Langit….Hal yang tampaknya sepele dan terkadang tidak kita acuhkan atau terkadang tidak kita sadari keberadaannya. Saatnya mensyukuri apa yang kita dapat hari ini, siapa tahu kita tidak akan mendapatkannya lagi esok pagi…
watch the video http://cosmos.bcst.yahoo.com/up/player/popup/?rn=3906861&cl=10743505&ch=4226713&src=news
Wassalam and stay in syukur,
Diemen, 20-11-08
Deadly Drugs Cocktail: Apaan tuh?
Assalamualaikum,
Malam ini secara tak sengaja saat asyik mencari berita tentang pemilu di US, saya menemukan sebuah video yang cukup menyedihkan. Judulnya Deadly Drugs Cocktail…Apa ya kira2? Begini, drug cocktail adalah kombinasi dari beberapa obat yang dikonsumsi sekaligus, atau dikalangan medis lebih dikenal sebagai polifarmasi.
Pada prakteknya, pengobatan atau obat yang kita terima dari dokter biasanya adalah polifarmasi, jarang dokter apalagi di Indonesia hanya memberikan satu atau dua macam obat tunggal (bukan obat campuran), biasanya anda diberikan beberapa macam obat yang didalam masing2 obat tersebut terkadang terdapat lebih dari 1 zat aktif. Jadi bisa dihitung berapa macam obat (senyawa aktif) yang anda minum. Tak luput juga penulis (saya).
Dalam pengobatan di Indonesia, kita menganut terapi empiris, dan bukan terapi definitif/kausatif. Kenapa? Dikarenakan sistem pembiayaan kita yang tidak memungkinkan dilakukan terapi definitif. Karena untuk memberikan terapi definitif diperlukan diagnosa pasti, dan untuk menegakkan diagnosa pasti, diperlukan berbagai langkah mulai dari anamnesis, PF, laboratorium sederhana, X-Ray, MRI, sampai dengan kultur kuman atau laboratorium canggih seperti pemeriksaan serologi dan lain sebagainya. Tentunya pemeriksaan ini sesuai dengan keluhan atau kecurigaan penyakit, yang didalam dunia medis disebut Diagnosa Diferensial (DD) atau kasarannya Diagnosa yang Mungkin. Jadi jangan dibayangkan asal diperiksa dikarenakan kongsi dengan lab atau main mata dengan radiologi.
Jadi kalau anda saat ini pergi ke dokter umum atau klinik cuman bayar 30.000 rupiah (dispensing) anda bisa bawa pulang obat 3 atau 4 macam, maka terapi empiris lah yang anda dapat. Kalau anda mau mendapat terapi definitif atau kausatif anda bisa berdiskusi dengan dokternya dan pasti akan dengan senang hati dibantu (kalau saya lho ya..).
Nah, cerita yang saya dapat ini di Amerika, Baytown. Sebuah kota kecil di Amerika (lihat video). Seorang pemuda 21 tahun yang mengidap fibroma kistik mengalami kecanduan dan akhirnya overdosis oleh obat yang nota bene diresepkan oleh dokter yang menanganinya? aneh kan? tentu tidak. Hal ini terjadi dikarenakan pemuda tersebut mengkonsumsi kombinasi obat tersebut jauh melebihi dosis yang ditentukan. Obat tersebut adalah Soma (carisoprodol) yaitu jenis obat pelemas otot (muscle relaxan), Hydrocodone yaitu obat penghilang nyeri dan penurun panas (ibuprofen), dan Xanax (alprazolam) yang merupakan anti ansietas dan memiliki efek sedatif. Ternyata kombinasi yang cukup meriah ini menimbulkan efek adiksi yang pada cerita ini berakhir dengan overdosis dan kematian dari penderita. Adalah sebuah cerita tragis bahwa pasien meninggal bukan disebabkan oleh penyakit yang dideritanya tetapi oleh obat yang dikonsumsinya. Dalam video ini juga disebutkan bahwa disebuah klinik di York 1950 Medical Clinic, pasien dapat memperoleh obat dengan sangat mudah, bahkan pasien bisa meminta obat yang diinginkan kepada dokternya. Walaupun akhirnya klinik ini tutup setelah ditayangkan di CBS, tetapi mereka dicurigai membuka ditempat lain. Karena mungkin hal ini adalah bisnis yang cukup menguntungkan.
Saya langsung teringat dengan kondisi di Indonesia, dimana di apotik kita dapat memperoleh obat dalam golongan wajib resep secara bebas di sebagian Apotik. Tidak perlu resep, cukup menyebutkan nama atau menunjukkan bungkus kosong dari obat yang dimaksud dan…sim salabim..sekantong obat akan berpindah ke tangan anda dengan mudah. Terutama antibiotik, dan hal inilah yang mendorong terjadinya konsumsi antibiotik yang tidak terkontrol dan tentunya tidak sesuai dengan indikasi. Bahkan lebih ajaib lagi, mereka bisa membeli resep antibiotik separoh resep atau “setengah kir”. Wah, padahal antibiotik merupakan obat yang tidak bisa ditawar, karena penggunaan yang tidak sempurna menyebabkan terjadinya resistensi/kekebalan kuman. Alasanya sederhana, Penghematan mas…klasik bukan?? hari gini mikir resistensi..apaan tuh??? yang penting mah sembuh dan murah..sisanya bisa untuk makan atau bayar SPP anak…Ironis bukan, padahal kalau terjadi resistensi, maka efeknya akan kena ke semua orang. Mungkin nanti akan saya bahas tersendiri resistensi obat di posting lain. Tapi this is the real life! we have to deal with it…
Sebagian saudara kita yang lain, asyik mengkonsumsi obat2an penekan stress atau penekan ansietas dengan alasan membantu menenangkan diri atau konsentrasi. Wah, alasan apa tuh? saya ada cerita nyata..sebenarnya ini adalah bukti ketidakberdayaan saya dan kebodohan saya…tapi akan saya ceritakan sebagai pembelajaran.
Hari itu beberapa hari menjelang keberangkatan saya ke Belanda, pada suatu siang saat saya dan isteri sedang santai, tiba2 datang seorang laki2 paruh baya (50 tahunan), mengetuk rumah kami (kami tinggal dirumah dinas Puskesmas). Saya kebetulan yang membukakan pintu, orang itu kemudian menyalami saya dan memperkenalkan diri namanya Mxxxxx, dia bilang dengan agak pongah kalau saya mungkin tidak mengenal dia karena saya baru dan dia kebetulan memang belum pernah sidak ke Puskesmas kami. Agak kaget dan heran awalnya, tapi saya tanggapi biasa aja, eh, dia malah mengomentari kondisi rumah kami yang katanya tidak layak…alamakk..padahal bidan sebelah aja ngiri mau tinggal dirumah kami (bangunan baru)…Akhirnya dia bilang dia itu ketua DPRD kota. Ehm, biasa aja sih, menurut saya tidak ada yang istimewa, saya sih iya iya aja. Kemudian dia akhirnya ngaku kalau minta diresepkan sejumlah obat, yang namanya agak kurang familiar, dengan alasan obat itu diberikan Sp.PD dia menyebut dr. Kxxxx, dan kebetulan dia sedang keluar kota sehingga tidak bisa membuat resep baru.
Dia berujar kalau dr SP.PD tersebut mengijinkan dia untuk mengulang resep beberapa kali, dan waktu dia ke apotik, apotiknya menolak dengan alasan obat keras dan tidak bisa di ulang. Kemudian dia menyuguhkan secarik kertas, disitu tertulis kop dr.Dxxx seorang dokter umum yang saya kenal baik dan juga saudara isteri saya. Saya bilang kenapa nggak ke dr.Dxxx aja? Pak Mxxxx itu bilang karena rumahnya jauh. Akhirnya saya ambil resep tersebut dan saya cocokkan di ISO (buku daftar nama obat), dan salah satu obat yang dimaksud adalah obat golongan anti anxietas dan sedatif. Saya kemudian kembali lagi ke Pak Muhxxxx dan bilang, ”Pak ini obat keras, tidak boleh diulang sembarangan…”, Eh dianya malah ngeyel dan dia bilang sudah diijinin ma dr. Kxxxx Sp.PD (entah benar entah tidak). Terus dia malah cerita yang aneh2 bahwa dia meragukanlah kepemimpinan Kadis kami dan kecewa dengan kualitas bangunan rumah kami yang notabene dibiayai APBD. Wah, repot nih pikir saya, Akhirnya saya tuliskan resep yang dimaksud sambil saya bilang “Pak, ini resep saya hanya akan tuliskan satu kali ini saja, dan saya tidak akan menuliskan lagi lain kali!, kalau bapak mau minta lagi tolong datang ke Sp.PD yang bapak datangi dulu untuk periksa ulang”…Akhirnya dia pulang dengan tersenyum dan dia bilang akan perjuangkan nasib isteri saya sebagai Dokter PTT (padahal kami tak ada singgung2 masalah itu), ah itu pasti Lip service, kataku pada isteri. Tak lama kemudian sebuah mercedes putih susu meninggalkan parkiran Puskesmas kami dan meluncur entah kemana…..
Wassalam,
Diemen, Amsterdam (4 Nopember 2008)
Vaksin Bebas Thimerosal: Perlu anda tahu..
Vaksinasi atau adalah pemberian vaksin dari luar tubuh dengan tujuan untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit tertentu. Vaksinasi ini akan memberikan kekebalan aktif kepada anak tersebut berupa antibodi terhadap antigen spesifik atau imunitas; makanya program vaksinasi massal gratis ini oleh pemerintah disebut “Imunisasi”. Di Indonesia terdapat beberapa vaksin PPI (disediakan gratis oleh pemerintah via Puskesmas atau Posyandu dalam program imunisasi) dan imunisasi anjuran yang dapat diperoleh di RS atau Praktek Dokter/Dokter Anak. Vaksin PPI adalah BCG, Hep B, DPT, Polio, Campak; Sedangkan vaksin anjuran yang umum diberikan adalah HiB, MMR. Sedangkan vaksin yang lain sifatnya occasional atau tergantung keadaan misalnya Thypim-vi, TT, Influenza, Rabies, dll.
Nah, baru-baru ini dunia dihebohkan karena adanya laporan kasus bahwa thimerosal (zat penstabil vaksin) yang dipakai dalam beberapa produk vaksin yang beredar termasuk di Indonesia dapat menimbulkan autisme di kemudian hari. Sebetulnya dari beberapa review ahli, thimerosal tidak terbukti secara signifikan menyebabkan “Autisme” seperti yang dilaporkan. Dan FDA masih menganjurkan untuk pemberian vaksin yang mengandung thimerosal ini kepada bayi-bayi dan anak di Amerika mengingat manfaat yang diberikannya jauh lebih besar.
Nah, mari kita lihat beberapa vaksin yang mengandung thimerosal; hanya untuk informasi anda. Nah, kalau anda masih belum yakin keamanan thimerosal, anda bisa pilih vaksin untuk penyakit yang sama dengan jenis/produk lain yang tidak mengandung thimerosal supaya anda lebih yakin.
Salam parenting..
Tables
Table 1. Thimerosal Content of Vaccines Routinely Recommended for Children 6 Years of Age and Younger – (updated 7/18/2005*)
*Since this update, a biologics license application was approved for Rotavirus Vaccine, Tradename-RotaTeq (Merck), that is thimerosal free and never contained thimerosal.
| Vaksin | Nama dagang (Pabrikan) |
Status konsentrasi Thimerosal **(raksa/merkuri) | Tanggal disetujui bebas Thimerosal atau Thimerosal / Preservative Free (Trace Thimerosal)*** Formulation |
|---|---|---|---|
| DTaP | Infanrix (GlaxoSmithKline Biologicals) |
Free | Never contained more than a trace of thimerosal, approval date for thimerosal-free formulation 9/29/2000 |
| Daptacel (Sanofi Pasteur, Ltd) |
Free | Never contained Thimerosal | |
| Tripedia (Sanofi Pasteur, Inc) |
Trace(≤0.3 µg Hg/0.5mL dose) | 03/07/01 | |
| DTaP-HepB-IPV | Pediarix (GlaxoSmithKline Biologicals) |
Free | Never contained more than a Trace of Thimerosal, approval date for thimerosal-free formulation 1/29/2007 |
| Pneumococcal conjugate | Prevnar (Wyeth Pharmaceuticals Inc) |
Free | Never contained Thimerosal |
| Inactivated Poliovirus | IPOL (Sanofi Pasteur, SA) |
Free | Never contained Thimerosal |
| Varicella (chicken pox) | Varivax (Merck & Co, Inc) |
Free | Never contained Thimerosal |
| Mumps, measles, and rubella | M-M-R-II (Merck & Co, Inc) |
Free | Never contained Thimerosal |
| Hepatitis B | Recombivax HB (Merck & Co, Inc) |
Free | 08/27/99 |
| Engerix B (GlaxoSmithKline Biologicals) |
Free | 03/28/00, approval date for thimerosal-free formulation 1/30/2007 | |
| Haemophilus influenzae type b conjugate (Hib) | ActHIB (Sanofi Pasteur, SA) OmniHIB (GlaxoSmithKline) |
Free | Never contained Thimerosal |
| PedvaxHIB (Merck & Co, Inc) |
Free | 08/99 | |
| HibTITER, single dose (Wyeth Pharmaceuticals, Inc.)1 |
Free | Never contained Thimerosal | |
| Hib/Hepatitis B combination | Comvax (Merck & Co, Inc) |
Free | Never contained Thimerosal |
| Influenza | Fluzone (Sanofi Pasteur, Inc) |
0.01% (12.5 µg/0.25 mL dose, 25 µg/0.5 mL dose)2 | |
| Fluzone (Sanofi Pasteur, Inc)3 (no thimerosal) |
Free | 12/23/2004 | |
| Fluvirin (Novartis Vaccines and Diagnostics Ltd) |
0.01% (25 µg/0.5 mL dose) | ||
| Fluvirin (Novartis Vaccines and Diagnostics Ltd) (Preservative Free) |
Trace (<1ug Hg/0.5mL dose) | 09/28/01 | |
| Influenza, live | FluMist (MedImmune Vaccines, Inc) |
Free | Never contained Thimerosal |
** Thimerosal is approximately 50% mercury (Hg) by weight. A 0.01% solution (1 part per 10,000) of thimerosal contains 50 µg of Hg per 1 mL dose or 25 µg of Hg per 0.5 mL dose.
*** The term “trace” has been taken in this context to mean 1 microgram of mercury per dose or less.
1 HibTiITER was also manufactured in thimerosal-preservative containing multidose vials but these were no longer available after 2002.
2 Children 6 months old to less than 3 years of age receive a half-dose of vaccine, i.e., 0.25 mL; children 3 years of age and older receive 0.5 mL.
3 A trace thimerosal containing formulation of Fluzone was approved on 9/14/02 and has been replaced with the formulation without thimerosal.
Table 2: Preservatives Used in U.S. Licensed Vaccines
| Pengawet | Contoh Vaksin (Nama Dagang, Pabrikan) |
|---|---|
| Thimerosal | TT (one) Influenza (several) |
| Phenol | Typhoid Vi Polysaccharide (Typhim Vi; Sanofi Pasteur, SA) Pneumococcal Polysaccharide (Pneumovax 23; Merck & Co, Inc) |
| Benzethonium chloride (Phemerol) | Anthrax (Biothrax; BioPort Corporation) |
| 2-phenoxyethanol | DTaP (Infanrix; GlaxoSmithKline Biologicals) DTaP (Daptacel; Sanofi Pasteur, Ltd) Hepatitis A/Hepatitis B (Twinrix; GlaxoSmithKline Biologicals) IPV (IPOL; Sanofi Pasteur, SA) |
Table 3: Thimerosal and Expanded List of Vaccines – (updated 3/14/2008)
Thimerosal Content in Currently Manufactured U.S. Licensed Vaccines
| Vaccine | Trade Name | Manufacturer | Thimerosal Concentration1 | Mercury |
|---|---|---|---|---|
| Anthrax | Anthrax vaccine | BioPort Corporation | 0 | 0 |
| DTaP | Tripedia2 | Sanofi Pasteur, Inc | ≤ 0.00012% | ≤ 0.3 µg/0.5 mL dose |
| Infanrix | GlaxoSmithKline Biologicals | 0 | 0 | |
| Daptacel | Sanofi Pasteur, Ltd | 0 | 0 | |
| DTaP-HepB-IPV | Pediarix | GlaxoSmithKline Biologicals | 0 | 0 |
| DT | No Trade Name | Sanofi Pasteur, Inc | < 0.00012% (single dose) | < 0.3 µg/0.5mL dose |
| Sanofi Pasteur, Ltd3 | 0.01% | 25 µg/0.5 mL dose | ||
| Td | No Trade Name | Mass Public Health | 0.0033% | 8.3 µg/0.5 mL dose |
| Decavac | Sanofi Pasteur, Inc | ≤ 0.00012% | ≤ 0.3 µg mercury/0.5 ml dose | |
| No Trade Name | Sanofi Pasteur, Ltd | 0 | 0 | |
| Tdap | Adacel | Sanofi Pasteur, Ltd | 0 | 0 |
| Boostrix | GlaxoSmithKline Biologicals | 0 | 0 | |
| TT | No Trade Name | Sanofi Pasteur, Inc | 0.01% | 25 µg/0.5 mL dose |
| Hib | ActHIB/OmniHIB4 | Sanofi Pasteur, SA | 0 | 0 |
| HibTITER | Wyeth Pharmaceuticals, Inc. | 0 | 0 | |
| PedvaxHIB liquid | Merck & Co, Inc | 0 | 0 | |
| Hib/HepB | COMVAX5 | Merck & Co, Inc | 0 | 0 |
| Hepatitis B | Engerix-B Pediatric/adolescent Adult |
GlaxoSmithKline Biologicals | 00 | 00 |
| Recombivax HBPediatric/adolescentAdult (adolescent)Dialysis | Merck & Co, Inc | 000 | 000 | |
| Hepatitis A | Havrix | GlaxoSmithKline Biologicals | 0 | 0 |
| Vaqta | Merck & Co, Inc | 0 | 0 | |
| HepA/HepB | Twinrix | GlaxoSmithKline Biologicals | < 0.0002% | < 1 µg/1mL dose |
| IPV | IPOL | Sanofi Pasteur, SA | 0 | 0 |
| Poliovax | Sanofi Pasteur, Ltd | 0 | 0 | |
| Influenza | Afluria | CSL Limited | 0 (single dose) 0.01% (multidose) |
0/0.5 mL (single dose) 24.5 µg/0.5 mL (multidose) |
| Fluzone6 | Sanofi Pasteur, Inc | 0.01% | 25 µg/0.5 mL dose | |
| Fluvirin | Novartis Vaccines and Diagnostics Ltd | 0.01% | 25 µg/0.5 ml dose | |
| Fluzone (no thimerosal) | Sanofi Pasteur, Inc | 0 | 0 | |
| Fluvirin (Preservative Free) | Novartis Vaccines and Diagnostics Ltd | < 0.0004% | < 1 µg/0.5 mL dose | |
| Fluarix | GlaxoSmithKline Biologicals | < 0.0004% | < 1 µg/0.5 ml dose | |
| FluLaval | ID Biomedical Corporation of Quebec | 0.01% | 25 µg/0.5 ml dose | |
| Influenza, live | FluMist | MedImmune Vaccines, Inc | 0 | 0 |
| Japanese Encephalitis7 | JE-VAX | Research Foundation for Microbial Diseases of Osaka University | 0.007% | 35 µg/1.0mL dose 17.5 µg/0.5 mL dose |
| MMR | MMR-II | Merck & Co, Inc | 0 | 0 |
| Meningococcal | Menomune A, C, AC and A/C/Y/W-135 | Sanofi Pasteur, Inc | 0.01% (multidose) 0 (single dose) |
25 µg/0.5 dose 0 |
| Menactra A, C, Y and W-135 | Sanofi Pasteur, Inc | 0 | 0 | |
| Pneumococcal | Prevnar (Pneumo Conjugate) | Wyeth Pharmaceuticals Inc | 0 | 0 |
| Pneumovax 23 | Merck & Co, Inc | 0 | 0 | |
| Rabies | IMOVAX | Sanofi Pasteur, SA | 0 | 0 |
| Rabavert | Novartis Vaccines and Diagnostics | 0 | 0 | |
| Smallpox (Vaccinia), Live | ACAM2000 | Acambis, Inc. | 0 | 0 |
| Typhoid Fever | Typhim Vi | Sanofi Pasteur, SA | 0 | 0 |
| Vivotif | Berna Biotech, Ltd | 0 | 0 | |
| Varicella | Varivax | Merck & Co, Inc | 0 | 0 |
| Yellow Fever | Y-F-Vax | Sanofi Pasteur, Inc | 0 | 0 |
Table Footnotes
|
||||
dikutip dari http://www.fda.gov/CBER/vaccine/thimerosal.htm sumber lainnya thimerosal-review


tinggalkan komentar