Nostalgia romantika ‘Setia Bakti’
Beberapa menit yang lalu aku baru saja sampai di kos isteriku di Semarang setelah perjalanan 2 jam yang cukup melelahkan dari rumah orang tuaku di Gubug..
Ah, tapi ada yang berbeda..perjalanan hari ini begitu banyak menyingkap kembali memori lama yang terpendam sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu…
Aku sudah akrab dengan bau solar dan asap knalpot dari bus-bus butut jurusan purwodadi semarang sejak masih duduk dibangku kelas I SMP..Ya, maklum, sejak SMP saya terpaksa harus sudah hidup terpisah dari orang tua karena menuntut ilmu di Semarang. Sejak saat itu pula-lah aku cukup akrab dengan kernet, sopir atau bahkan abang-abang yang suka mangkal di terminal bus atau di ‘MILO’ nama pemberhentian bus didepan sekolahku.
Sore ini aku beranjak dari rumah ibuku jam 15.30 sore, diiringi tangisan puteraku yang lucu karena ingin ikut dengan ayahnya. Dengan setia bapakku yang sudah cukup berumur itu mengantarku menuju ke tempat dimana aku bisa menunggu bus jurusan semarang. Walaupun sempat bocor ban dijalan, akhirnya aku sampai juga di simpang tiga “Pertelon” gubug. Dari sinilah perjalanan bersejarah itu dimulai.
…”Semarang…semarang….kosong..kosong….” teriak kondektur bus Setia Bakti jurusan Blora-Semarang dengan sigap menghampiriku yang sedang turun dari boncengan sepeda motor…
“Kosong Pak? ada Kursi?” Sergahku penuh tanya..
“Banyak Pak, masuk aja….” Ujar sang kondektur berapi-api..”Masuk dari depan aja pak..banyak kursi kosong..” tukasnya lagi penuh keyakinan.
“Ah akhirnya dapat kursi” pikirku polos…
“KAMPRET!”, umpatku dalam hati sesaat setelah aku menaiki pintu bus ternyata beberapa orang sudah tampak bergelantungan seperti kawan di ragunan :p…
“Ya sudahlah, dari pada harus menunggu lebih lama lagi” gumamku sambil melangkah gontai sembari merengkuh pegangan diatap bus..
Bus mulai berjalan pelan..tampak bukan hanya aku yang terkecoh..beberapa bapak-bapak dan ibu-ibu juga tampaknya terkecoh oleh ulah kondektur yang dengan muka gila-nya bilang kalau kursi masih banyak kosong…”Ah, tenang, bukan hanya aku kok yang ketipu” gumamku dalam hati mengibur diri..
“krek..krek..ngik..ngik…” Terdegar bunyi-bunyian dari badan bus yang sudah penuh luka dan compang camping…menandakan bahwa bus ini sudah uzur dan terlalu keras dipaksa bekerja…”Ah, kalau bisa bicara, mungkin bus ini sudah menjerit minta dibangku cadangkan..” pikirku.
Sejenak berdiri, bus perlahan berhenti dan masuklah beberapa pelajar SMU sambil bercanda ria..”Ah, mirip sekali dengan aku dulu…” Sesungging senyum mulai merekah dibibirku yang menurut orang-orang imut, lucu dan ‘mengenaskan’. Tiba-tiba saja sekelebat memori tempoe doeloe merasuk mengharu biru pikiranku..membuat ku ‘trance’..kesurupan oleh memori saat aku sekolah dulu..Tersenyum-senyum, tersipu malu dan terkadang memandang nanar…mungkin orang-orang yang berdiri di sekitarku menganggap aku stress atau salah minum obat cacing…tapi ‘who cares??’..aku sedang kesetanan…kesurupan memori romantika.
Selang 15 menit aku berdiri, kondektur itu datang lagi dan menarik ongkos bus. “Nggaron Pak!” ucapku sambil menyodorkan uang 5 ribu lusuh yang ku tukar dari uang hasil jualan ibu di toko hari ini. Perlahan tapi pasti, kondektur itu menyodorkan kembali uang seribuan yang jauh tak kalah lusuh kepadaku. “Alhamdulillah masih dapet balikan” ujarku dalam hati. Bus pun berjalan kembali dan aku pun mulai kesurupan lagi.
“Pak…Pak…duduk disana..” tiba-tiba suara kondektur bus Setia Bakti itu menmbuyarkan lamunanku..
“O….i..iya…” jawabku seraya berjalan menuju kursi yang dimaksud..
“Ah..akhirnya duduk juga”…gumamku penuh syukur..
Aku duduk di kursi ke -8 deretan belakang sopir, tepat di samping lorong (‘isle’ bahasa pramugarinya)
Disamping kananku tepat duduk seorang remaja tanggung yang tampak gelisah sambil memegang sebuah kertas amplop coklat yang sudah tidak asing lagi bagiku..ya..kertas hasil rontgent foto Thorax bertuliskan inisial “RJ” atau mungkin Rawat Jalan maksudnya. Tampak sebuah kop PKU Muhammadiyah Gubug. Di sebelahnya lagi didekat jendela ada seorang gadis tanggung juga yang kelihatan asyik dengan lamunannya. Di bagian kiri diseberang lorong tampak seorang gadis ABG yang sibuk mendengarkan MP3 via handphone nokia nya…entah, mungkin biar nampak keren atau mungkin tak tahan bunyi bising bus yang seperti bunyi mesin gilingan padi ayahku dulu..
Walaupun sudah terduduk, kelebat bayangan memori masa lalu itu terus menyergapku….menggoda dan mencumbu kesadaranku…”Ah, lebih baik aku nikmati saja saat ini…”Akhirnya aku menyerah. Bayangan Awang, Hengky dan beberapa karibku dulu saat SMP terus berkelebat. “Ah, teman-temanku, andainya engkau disini bersamaku hari ini, mungkin kita sudah akan berperang kata saling bercerita tentang nostalgia masa lalu…” kenangku..
Bus terus melaju menerjang aspal panas diiring dengan suara lirih …. “Bapak-bapak ibu-ibu siapa yang mau bantu..tolonglah bantu aku…yang tak laku-laku” ..sayup-sayup terdengar suara anak pengamen bernyanyi dengan nada C=Fals sambil menggenggam ‘kecrek’ made in ‘dhewe’ dari tutup botol coca cola. Alih-alih irama melayu seperti lagu yang dinyanyikan..bunyi tutup botol yang beradu bersimfoni dengan suara fals anak umur 10 tahunan itu menghasilkan sebuah orkestra sederhana tetapi cukup mengenaskan…istilahnya “biar Ancur yang penting Nekat…’Jas Duit!’ seperti tag line NIKE”
Ah, kusodorkan uang seribuan lusuh kembalian dari bapak kondektur tadi kepadanya…”Terimakasih Pak…” ucapnya lirih.
Bus terus melaju…gemuruh suara mesin diesel tua beradu dengan riuh rendah suara penumpang yang mungkin sedang menceritakan nostalgia yang sama dengan yang aku nikmati hari ini menghantarkanku hingga tempat pemberhentian terakhir tujuanku…menghantarkanku pada ujung dari nostalgia romantika Setia Bakti hari ini…
SH
Semarang 7-10-09
Deposito berbunga 1000%
Judul yang aneh ya? mungkin anda fikir ayah rafi sudah mulai sinting kelamaan tinggal di ‘londo’..
Atau mungkin otaknya korsleting gara-gara kelamaan nulis thesis..
Atau mungkin pula ‘hipoglikemia’ berat gara-gara puasa, jadinya ngelantur..
Ternyata tidak sobat! Ayahrafi masih sehat2 aja tuh…setidaknya itu klaim yang saya declare..
Entah mungkin kalau kunjung ke Sp.KJ akan keluar diagnosa F berapa (mudah2an bukan F.20)…
Dimulai dari mana ya? hmm.. (mode berpikir :ON)
***
Sahabat,
Kadang disaat saya sendiri, terbaring ditempat tidur dimalam hari..
Banyak hal yang terlintas..kadang bayangan yang mengundang senyum, kadang bayangan yang membuat miris..
Ah, apa yang akan terjadi nanti? Ah, akankah aku mampu menjalankan tugasku sebagai ayah dengan baik?
Ah, akankah aku mampu mencapai apa yang kucita-citakan untukku, untuk keluargaku dan untuk ummat?
Ah, apakah aku mampu…apakah aku bisa?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus membombardirku laksana peluru-peluru yang memberondong rumah Muzahri yang menewaskan Ibrahim…(rumah yang mungkin saja isinya kosong..Wallohualam)
Sahabat,
Kadang ada masa-masa saya krisis percaya diri..
Krisis yang menerpa laksana resesi global ulah Amerika yang menjadi bencana dunia..
Krisis percaya diri yang terkadang membuat saya lupa…
Lupa bahwa “Tuhan adalah sang Maha Rencana..”
Lupa bahwa “Ketika manusia dilahirkan, kitab kisah hidupnya sudah selesai dituliskan, tinta-tintanya sudah mengering, dan buku-buku itu telah ditutup”
Lupa bahwa sebenarnya tugas saya adalah hanya berusaha dan berserah..
Sahabat,
Saya mungkin terkadang terpedaya dengan manifesto kapitalisme..
Manifesto perhitungan 5+5=10..
Manifesto yang membuat orang berlomba-lomba untuk kaya dengan pengeluaran seminim mungkin..
Manifesto yang terbukti fragil..rapuh..begitu rapuh..
Manifesto yang telah terbukti gagal secara mengglobal..
Sahabat,
Malu saya memproklamirkan diri sebagai muslim..
Namun kehidupan saya masih jauh dari ukuran muslim yang baik..
Masih jauh dari tatanan yang diwahyukan sang Khalik..
Masih jauh dari tatanan yang dicontohkan sang Kekasih Tuhan..
Malu saya…teramat malu..
Sahabat,
Di tivi, internet, koran, majalah, hinggu selebaran-selebaran kertas buram yang berhambur dipinggir jalan..
Sering kita temui istilah “jurus cepat kaya modal dengkul”; “jadi kaya dalam 30 hari (selain ngepet)” hingga ke pertanyaan-pertanyaan retorik “Mau Kaya??” (kaya monyet maksudnya) atau “Bosan jadi orang miskin melulu??” (udah tahu pake nanya)..
Inti dari semuanya adalah mengajarkan kapitalisme atau terkadang hanya menjual mimpi kosong..
Sahabat,
Seorang penceramah muda di televisi sering berbicara tentang sedekah..
Hingga saking seringnya, maka “sedekah” itu menjadi ‘brand’ miliknya..
Ada yang unik dari penceramah ini..kenapa?
Karena dia menggunakan matematika yang menyimpang dari kewajaran..
Dia tidak menganut prinsip 10-1=9..
Tapi dia menganut 10-1=19…Apa pasal?? kenapa bisa??
Ya, karena setiap 1 bagian yang kita sedekahkan, maka Tuhan akan menggantinya 10x lipat..
Tidak ada istilah merugi dalam sedekah…karena itu adalah janji-Nya..
Sahabat,
Dikalau menabung atau mendepositokan uang di Bank kita pasti selalu berhati-hati..
Berapa bunga/bagi hasilnya?? Dijamin pemerintah atau tidak?? itulah mungkin dua pertanyaan yang sering terlontar..
Kalau kita bisa mendepositokan uang dengan bunga/bagi hasil 8%/tahun dengan penjaminan LPS..
Lalu kenapa kita (saya) masih ragu untuk mendepositokan uang dengan bunga 1000% dengan penjaminnya adalah Tuhan secara langsung?
Lagi-lagi ini adalah sebuah retorika…
Tidak perlu dijawab…cukup direnungkan..
Yuuk…mari kita renungkan sama-sama..
salam,
SH
Ams-NL
25-9-2009
Isteriku dan permintaan itu..
Beberapa hari ini isteriku terus mengulang-ulang permintaan yang sama setiap kali aku telepon…bahkan akhir-akhir ini dengan nada ancaman!! wah, ngeri sekali, kok pake ancam mengancam kayak teror bom..
Bukan!…dia bukan minta Blackberry Javelin…Salah lagi!..dia tidak minta dibelikan Jam tangan Esprit atau CK…..
Terus apa…apa yang kiranya bisa membuat isteriku begitu gusar dan terus menerus menerorku hingga memberikan deadline besok harus sudah terpenuhi?? …permintaan isteriku adalah *********************(sensor)
Yah, tapi itulah isteriku. Kadang lucu, geli dan bercampur kasihan. Tapi satu yang aku mulai salut..tumben isteriku mau ditawari ikut lomba pidato…
“WHAT A BREAKTHROUGH!!!” (teriak sambil membayangkan wajah Tung Desem Waringin sang motivator keuangan ‘kapitalis’)…
“Boleh deh ma, hari ini permintaan mama akan ayah turuti dengan senang hati”…ucapku lirih mengakhiri tulisan ini dengan sebuah senyuman kecil…
Diemen, 29 juli 2008
Ada apa dengan “Pak” ?
Assalam,
Alkisah ada rombongan koas dari Univ negeri di SMG sedang stase luar di RSU PWT, mereka berempat (YY,RP,KY,YW) tiba dari semarang dan begitu amazed dengan kamar koas yang…tiiiitt..(sensor)..seperti kandang ayam. Akhirnya ya dengan segera cancut tali wondo, menyapu, mengepel, membersihkan ruangan yang sungguh begitu berantakan…sungguh tidak pernah kami bayangkan sebelumnya kalau di ruangan ini pernah tinggal yang namanya “manusia”…
Akhirnya malam itu ruangan sudah bisa “ditiduri” juga, walaupun sebagian teman2 lebih memilih tidur di UGD, saya memilihi tidur dibelakang. Konon kabarnya juga alasan sebagian teman (cewek) tidak mau tidur diruangan itu karena tepat diruang sebelah kami ada penunggu nya (hantu cewek) yang suka nongol kalau malam…tidak cuman satu dua koas…rata2 mengaku pernah “diceritai” temennya yang di’weruhi’ oknum gentayangan ini. Yah, meskipun dengan ngeri2 sedap, akhirnya pules juga….(saya waktu koas memang agak mbeling, suka tidur dikamar2 koas yang katanya angker…padahal maksudnya kalau saya tidur disitu nggak ada yang berani cari buat bangunin..hi..hi..)
Suatu pagi dikala itu, surya bersinar begitu cerah, tapi ada yang lain hari ini…semua koas pada ribut menyiapkan laporan pagi..(koas Univ swasta di jakarta), kami yang baru datang hanya bengong2 aja sambil geli2 enggak melihat tingkah mereka yang lucu..(suer..kasihan betul lihat koas UNIV swasta..seperti anak ayam kehilangan induknya..gak ada yang ngajarin..walhasil ya..jadi sasaran kemarahan senior kalau ditanya gak bisa jawab). Nah, setelah ditunggu2 akhirnya, senior Obsgyn datang juga, dan satu persatu koas2 itu pun bernyanyi dengan gemeteran…fiuhh..
Akhirnya tiba giliran anak2 itu ditanya…dan seperti biasa kalau mereka tidak bisa jawab..senior itu tanya ke koas yang lain”…nah kebetulan yang ditanya saya. Karena kebetulan tahu jawabannya ya akhirnya saya jawab…tetapi seketika muka senior obsgyn itu terlihat gusar…apa pasal? ternyata usut punya usut waktu jawab saya bilangnya “Pak” dan bukan “Dok”…wualllahhhhh….terus senior itu bilang “Kamu pasti dari U***p! bla..bla..bla..@#$***#@….” habis sudah pikir saya dalam hati…baru beberapa hari sudah kena damprat..Akhirnya setelah laporan pagi saya beranikan diri menghadap ke beliau untuk minta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan lagi yang serupa…..
Hahaha…lucu memang..makanya saya terkadang masih suka geli2 sendiri kalau mengingatnya…yah, namanya juga manusia, besar dan tumbuh dari pengalaman dan kesalahan..cuman kadang saya terpikir, begitu jauhkah bedanya “Pak” dengan “Dok”??
Padahal bagi saya yang orang jawa, “Pak” atau “Bapak” adalah panggilan bagi sosok yang saya anggap layak dihormati, mengayomi, dan penuh wibawa…sama halnya seperti “Bu” atau “Ibu”..bukankah kedudukan ibu dan bapak adalah mulia dan dimuliakan??
Wallohu’alam bisshowab.
Apakah itu Cinta??
Cinta…
Kata yang sederhana, tetapi begitu banyak dipuja, diagungkan, dan terkadang diumbar berlebih2an.. Tapi apakah semua itu adalah cinta? atau hanyalah nafsu?
Entah… Sampai hari ini terkadang saya masih belum begitu mengerti Apakah cinta itu adalah suatu perasaan tunggal yang nyata.. Ataukah cinta adalah kesatuan dari berbagai perasaan, pengalaman, kesabaran dan keselarasan..
Mungkin.. Cinta adalah sebuah hasil akhir.. Tapi mungkin juga cinta adalah sebuah proses.. Dan mungkin juga cinta adalah sebuah bekal, input ataupun prasyarat..
Mengevaluasi cinta.. Adalah mengevaluasi input, proses dan output.. Kesatuan integral dari proyek ‘penyatuan hati’.. Bukan hanya fragmentasi yang terkadang membingungkan dan mengaburkan.. Penilaian secara ‘Kaffah’ kalau menurut Islam…
Cinta yang berdasar nafsu tidak akan kekal.. Satu tahun? satu bulan? atau bahkan mungkin hitungan hari.. Karena cinta dan nafsu memang tidak ditakdirkan untuk bersatu..
Cinta yang sejati merupakan sebuah proses metamorfosa.. Lihatlah siklus kupu2…dari telur..menjadi ulat..terkungkung didalam kepompong..baru kemudian menjadi kupu2 dan terbang.. Proses yang panjang dan melelahkan…tak jarang banyak telur yang tidak menetas..banyak ulat yang mati…atau banyak kepompong yang kering… Tetapi itulah hidup…dan itulah Cinta…
Cool Outside..Burn Inside! (Dilagukan kayak iklan U C 1000)
Hah!
Hari ini pelajaran resolusi konflik lagi..
Mungkin dah yang keberapa kali saya ikut training/kuliah tentang bab ini..
Sampe2 hari ini saya speechless…alias mbisu…
Cuman ada sesuatu yang tiba2 terlintas dibenak ini..
teringat beberapa tahun yang lalu…ya..beberapa tahun yang lalu..
Rikolo jaman semono, saya masih seorang fresh graduate, sedang “gaya-gayanya”..maklum “dokter” baru lulus…ilmu tak seberapa…yang penting “nggaya”..
Jiwa muda, ilmu yang pas-pasan, ditambah kumpul dg beberapa orang dg sifat yang sama…wuahhh…jadilah! maksudnya, jadilah tak karu2an..
Saat itu saya adalah pribadi yang emosional, terkadang suka asal2an, terlebih dalam memperlakukan orang…mulai dari kawan sekerja, sopir dikantor, hingga klien tempat saya kerja pernah jadi pelampiasan kemarahan saya…akibatnya..yah..penah hampir baku hantam ma sopir di medan, ampe sopirnya ngambek mau tinggalin mobilnya disono…wah, pokoknya bisa dibilang blo’on banget dah saya waktu itu..
Cuman satu yang saya acungi jempol pada diri saya sendiri..(ngelem ndas sepur)..dan sampai saat ini selalu saya jaga…saya orang yang “straight forward”…makanya terkadang itu yang menjadi masalahnya.
Saya cenderung suka bilang apa adanya..suka..tak suka…benci..atau bahkan terang2an berkonfrontasi dengan lawan…itu mungkin bisa jadi kelemahan atau mungkin kelebihan saya…entah..
Yang jelas saya merasa nyaman saat itu…kalau saat ini, mungkin tetap masih sama cuman agak terkontrol..
Saya banyak melakukan observasi…dalam lingkungan keluarga….kantor…atau pergaulan sehari-hari..
Saya banyak menemukan fakta yang cukup membuat saya terusik..bahwa “mulut manis itu seringkali berbisa!”…banyak orang yang didepan nya manis, selalu “iya pak/bu”..”inggih pak/bu”..”sendiko pak/bu”….tapi dibelakang berputar 180 derajat sambil bilang “sontoloyo!”..”demit wedok”…”nenek sihir”…”kuntil anak”…”kuntil ibu”…”kuntil bapak” dbs-lah. Terus dimana yang salah?? saya istilahkan “cool outside, burn inside!” (english asal2an…sing penting ngerti maksudnya)
Menurut saya yang salah ya..orang2 ini tidak mau jujur pada dirinya sendiri!
Nalarnya, kalau sama diri sendiri aja tidak mau jujur, bagaimana dengan sama orang lain…
Pada prinsipnya dalam menghadapi konflik, anda harus bisa memposisikan dengan tepat..apakah anda akan aktif dan menghadapi konflik tsb atau pasif dengan menghindar? terserah anda pastinya, tak ada yang benar dan tak ada yang salah, yang membedakan ya tentu outputnya..apakah konflik itu selesai atau mejadi fenomena bola salju..
Nah, saya cukup yakin bahwa manusia bisa dan harus berubah!..bertransformasi menjadi lebih baik adalah wajib. Tinggalkan yang buruk2, bawalah yang baik2 (tapi jangan dipake alasan nyuri sendal di masjid ya..). Saya selalu berusaha untuk itu, meski hasilnya belum maksimal tapi setidaknya saya sudah berusaha.
Bagaimana dengan anda??


leave a comment