Jangan Menyerah…
Beberapa hari ini entah kebetulan atau tidak, sering saya mendengar cuplikan sebuah lagu dari kelompok band D’Massiv yang berjudul “Jangan menyerah..”. Bunyinya kira-kira begini…..”syukuri apa yang ada, hidup adalah anugrah…tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik…” Sungguh indah dan menyentuh hati syairnya, membuktikan bahwa grup band ini adalah sekumpulan anak-anak muda yang peka terhadap kondisi sosial disekitarnya. Begitu jarang kita jumpai ditengah era globalisasi informasi dan transformasi budaya yang luar biasa cepat ini masih ada sekelompok artis yang masih memiliki tanggung jawab moral kepada bangsanya. Ditengah gegap gempita lagu-lagu pop cinta-cintaan dengan syair-syair yang tidak bermutu dan ditengah kemunculan kembali film-film porno dan horor dari alam kuburnya, munculnya lagu ini (walau sudah agak lama) mampu menjadi oasis bagi kita, menyejukkan hati, mengajak kita berintrospeksi lebih dalam, dan teramat dalam. Rangkaian kalimat sederhana yang ditata indah dan sarat makna, mampu mengetuk sanubari yang paling dalam, membangkitkan kepedulian terhadap sesama, bahkan terhadap hal-hal kecil yang sering kita abaikan. D’Massiv, kebaikan kecilmu hari ini mungkin tanpa kalian sadari merupakan sebuah titik balik untuk perubahan dunia menjadi lebih baik. Yuk, syukuri apa yang ada, karena hidup adalah anugerah, tetap jalani hidup ini dengan melakukan yang terbaik……
SH
BNA 2-2-2010
“Comfort Zone” a.k.a Si Zona Nyaman : A silent killer?
Definisi:
“Zona Nyaman adalah sebuah kondisi perilaku dimana seseorang bekerja dalam sebuah kondisi netral tanpa kecemasan, dengan hanya menggunakan seperangkat perilaku terbatas yang dipunyai untuk mencapai sebuah level kinerja yang menetap dan umumnya tanpa disertai adanya risiko” (Alasdair A. K. White “From Comfort Zone to Performance Management”).
Jadi menilik definisi ini ada beberapa kata kunci yang dapat kita cermati yaitu : “kondisi perilaku”, “seperangkat perilaku terbatas”, “kinerja tetap”, dan “tanpa risiko”. Keempat kata kunci ini adalah ruh dari zona nyaman dan keberadaannya saling kait mengait. Apabila anda saat ini merasakan adanya keempat komponen ini dalam kehidupan anda (terutama dalam bekerja), maka anda mungkin saat ini sedang berada dalam zona nyaman, atau anda mengkondisikan keadaan anda saat ini sebagai zona nyaman. Jadi unsur subyektifitas dan variabilitas individu bermain cukup besar disini. Zona nyaman untuk anda, belum tentu zona nyaman untuk saya, begitu pula sebaliknya.
Nah, terus kenapa zona nyaman disebut sillent killer? kok kayak kanker ovarium aja?
Ya, karena kenyataannya memang begitu. Menurut beberapa pemikiran, zona nyaman akan membuat kita terlena, berasyik masyuk dengan apa yang anda capai hari ini, hingga terlupa bahwa anda mungkin bisa menjadi jauh lebih baik dari sekarang bila anda berani keluar dari zona nyaman itu. Seseorang yang sukses adalah seseorang yang memiliki karakteristik berani keluar dari zona nyaman ini. Karena diluar segala kenikmatan yang diberikan, zona nyaman ini mengkondisikan seseorang hidup dan bekerja dalam keterbatasan. Seperti kasus inersia, seseorang yang sudah menetapkan zona nyamannya akan cenderung tinggal dan menetap tak berdaya didalam kotak kayu yang dia ciptakan sendiri, membelenggu kreativitas dan nyali singa yang dia miliki hingga akhirnya hanya menjadi seekor kelinci yang tidak berani keluar sarang karena takut diburu. Nah, ini lah yang saya sebut sebagai kondisi mati-nya potensi optimum individu.
So, masih pingin berlama-lama di “comfort zone” anda?? Think Twice!
Referensi: http://en.wikipedia.org/wiki/Comfort_zone
Salam,
SH, 5-2-2010
Banda
Hidup itu…
Hidup itu ibarat mangga, diperam sebentar masih mengkal, diperam kelamaan jadinya busuk.
Hidup itu ibarat jalan, terlalu mulus dipake ngebut, terlalu rusak bikin kecelakaan.
Hidup itu ibarat makan, cuma sesendok terasa kurang, habis sebakul kekenyangan.
Kehidupan itu ibarat laut, terkadang tenang terkadang berombak.
Kehidupan itu ibarat tatasurya, semua bergerak bersama meskipun tidak dengan irama yang serupa.
Kehidupan itu ibarat jam pasir, keluar perlahan-lahan hingga suatu saat tak bersisa.
Kehidupan itu ibarat buah simalakama, dimakan ayah mati tak dimakan ibu mati.
Penghidupan itu ibarat kunci, bisa membuka pintu surga dan juga neraka, terserah anda.
Penghidupan itu ibarat kertas, bisa tetap putih atau bernoda tinta-tinta.
Penghidupan itu ibarat dahaga, puas dan tidak puas tidak jelas batasnya.
Penghidupan itu ibarat lukisan affandi, abstrak, tergantung anda menafsirkannya.
SH
Banda Aceh 2-3-10
Rakyat sejahtera Tugas Siapa??
Suatu pagi di sebuah kedai kopi di sudut kota tua di ujung sumatera. Tampak dua orang pria sedang asyik duduk di kursi plastik hijau berlengan. Diantara mereka terdapat sebuah meja plastik warna kuning dengan terhampar makanan kecil onde-onde, timpan, pulot panggang dan tentunya roti samahani. Di kiri dan kanan tampak kepulan asap rokok tak henti-hentinya menyeruak mengisi ruang-ruang di kedai kopi beratap seng dan berlantai semen keras itu. Sementara di luaran, hujan rintik-rintik menari membasahi jalan dan menimbulkan irama bertitikan di atas seng kedai kopi yang sudah mulai kuyup.
Kuhentikan langkah, dan aku putuskan duduk di sebuah kursi tak jauh dari mereka. Kursi plastikku sama dengan yang mereka duduki, berwarna hijau, agak berlekuk dalam, dan juga berlengan. Kontur kursi jauh dari prinsip ergonomis dan apabila kita sudah duduk maka agak susah untuk berdiri, oleh karena itu banyak orang yang betah duduk hingga berjam-jam. Didepanku persis terdapat meja plastik yang sama, dengan hamparan makanan yang serupa. Cuma bedanya, kepulan asap rokok disini tidak sekental disebelah mereka, hanya sepoi-sepoi angin dingin yang menerbangkan asap dari kejauhan.
Kedua pria itu tampak asyik berdiskusi. “mungkin mereka sedang memperbincangkan bisnis atau hal yang serius” pikirku. samar-samar suara mereka mulai terdengar seiring dengan semakin memanasnya perbincangan diantara keduanya. Berikut adalah petikan kalimat yang sempat saya curi dengar:
Pria A: “Ah…Ndak betul itu! kesejahteraan rakyat miskin harusnya merupakan tanggung jawab negara” ujarnya berapi-api.
Pria B: “Memang benar, tetapi kan kamu tahu, negara kita kan juga sedang susah. Resesi global, kredit macet, bail out bermasalah, CAFTA, carut-marut birokrasi, yang kesemuanya merupakan pukulan bagi pemerintah.” sahutnya mencoba menenangkan.
Pria A: “Ah, omong kosong itu! sebagian besar masalah itu kan man-made, seharusnya bisa dihindari, dan bukan dijadikan kambing hitam” sungutnya ketus.
Pria B: “Iya, benar, kamu tidak salah. Tetapi tetap hal tersebut diatas merupakan sebuah alasan yang valid untuk menjustifikasi ketidakmampuan pemerintah saat ini.” sahutnya lagi.
Pria A: “Wah, kalau semua bisa dijadikan sebagai alasan pembenaran kegagalan, maka tidak perlu lagi ada pemerintah. Karena sudah pasti tidak memberikan kontribusi pada kemaslahatan masyarakat. Selalu aja ada alasan untuk ngeles.”
Pria B: “Bukan ngeles. Ini fakta. Presiden kita kan bilang, kalau bicara harus dengan fakta. Nah, alasan itu tadi adalah fakta yang tak terbantah”
Pria A: “Fakta tak berbantah atas kegagalan pemerintah??”
Pria B: “Fakta tak berbantah akan penyebab kegagalan pemerintah..”
Pria A: “Wah, kalau begitu nanti kita jadi masyarakat yang permisif dong!”
Pria B: “Bukan permisif, tetapi masyarakat yang santun dan beretika”
Pria A: “Ndak betul itu namanya, merepresi kritikan bukan solusi permasalahan”
Pria B: “Bukan represif, tetapi menaati rambu-rambu ketimuran, santun, bertatakrama”
Pria A: “Lalu kenapa makin banyak orang korupsi yang ndak pake malu??; bukannya malu adalah salah satu ciri ketimuran?!”
Pria B: “Bukan tanpa malu, tapi mengedepankan ‘asas praduga tak bersalah’; beda itu. Sebelum terbukti secara hukum, maka kita tidak bisa menyebut dia koruptor”
Pria A: “Meskipun jelas-jelas negara dirugikan dan uang masuk kantong pribadi”
Pria B: “Asas praduga tak bersalah pak, dan budaya ketimuran yang santun”
Pria A: “Wah, kalau begitu, tidak mengedepankan asas keadilan dan kepatutan dong”
Pria B: “nah, itulah risiko demokrasi dan negara hukum. Semua harus tunduk.”
Pria A: “Meskipun hukum dapat dibeli dan diperjual belikan?”
Pria B: “Nah, itu juga risiko. Risiko demokrasi dan mengedepankan asas kekeluargaan. Itu budaya ketimuran juga.”
Pria A: “Hawrakaddah! Lha kalau begini semua yang terjadi sekarang ini masih sesuai budaya ketimuran dong”
Pria B: “Lha, ya jelas lah. Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Lha begitu…”
Pria A: “Maksudnya pak?”
Pria B: “Lah, kok malah tanya saya. Saya juga ndak tahu..Wong saya bukang orang jawa..”
Pria A: “Hawrakaddah..tobaat…tobaat..”
Hujan mulai reda. Saya pun beranjak bangun meskipun badan terasa malas. tiga ribu lima ratus perak untuk segelas teh hangat dan beberapa potong kue. Saya beranjak pergi dan meninggalkan kedua orang yang masih sibuk beradu argumen. Entah mereka dipihak mana, pihak penguasa atau pihak yang sedang mencari kuasa. Entah…
Salam,
SH
BNA 2-3-2010
Dewasa dan Kedewasaan
Tidak banyak parameter terukur untuk mengetahui apakah seseorang sudah dewasa atau tidak, mungkin batasan umur diatas 18 tahun adalah sesuatu yang lazim dipakai. Entah valid atau tidak, tapi itulah praktek yang ada selama ini.
Kedewasaan, adalah sebuah terminologi yang menggambarkan sosok manusia yang sudah kaffah, baik dalam hal tanggung jawab dunia maupun tanggung jawab akherat.
Kedewasaan adalah sesuatu yang jauh lebih sulit untuk diukur. Tidak ada parameter jelas yang dapat digunakan, karena kedewasaan lebih merupakan sesuatu yang abstrak dan sulit di kuantifikasi. Kedewasaan lebih merupakan sesuatu hal yang bermain di dalam domain alam pikiran yang terejawantahkan dalam sikap, perilaku dan cara memandang hidup.
Dewasa dan kedewasaan bukan merupakan sebuah paket yang melekat. Keduanya bisa dikatakan independen meskipun masih ada benang merah. Umur boleh bertambah, tapi kedewasaan belum tentu dicapai dengan sendirinya.
Kedewasaan lebih merupakan proses kerohanian kalau tidak boleh disebut proses religius dalam mencari bentuk terbaik dari manusia. Melibatkan olah pikir, olah rasa dan juga keikhlasan yang luar biasa. Kedewasaan merupakan proses evolusi dan bukan proses revolusi, karena kedewasaan umumnya tidak regresif dan cenderung progresif. Pengalaman, religiousitas, lingkungan, dan juga visi seseorang akan mampu membimbing menuju kedewasaan yang komprehensif.
Kalau saya dan anda merasa sudah cukup dewasa (baca=tua), jangan berbangga dulu bahwa saya dan anda pasti sudah mencapai kedewasaan. Mari kita sama-sama menilik perilaku kita sehari-hari, bagaimana cara kita memperlakukan sesama, bagaimana kita menempatkan diri kita yang ‘hebat’ ini ditengah-tengah orang yang menurut kita ‘kurang hebat’, apakah kita cenderung mendongak atau menunduk, bagaimanakah kita memposisikan diri kita terhadap Tuhan, dan bagaimana kita menghargai diri kita sendiri. Karena kedewasaan itu harus terus dipupuk dengan banyak berintrospeksi, Bermuhasabahlah!
Salam,
SH
Rahasia memiliki banyak teman [dan disukai teman]
Kalau mau dengarkanlah ini, camkan! karena aku hanya akan memberitahukanmu sekali…ya, hanya sekali!
Manusia diberkahi banyak indera; penglihatan, perasa, pendengaran, pengucapan, dll. Tahukah engkau mana yang paling sedikit digunakan dalam pertemanan? ….
Teng-tong….waktu habis!
Jawabannya adalah pendengaran…
Tahukah anda, bahwa mendengar adalah pekerjaan yang mungkin membosankan bagimu tapi sangat menyenangkan bagi lawan bicaramu? bukankah itu adalah hal yang sama yang kamu inginkan dari temanmu ketika kamu berbicara?
Teman, mungkin kita terkadang lupa, bahwa kita dan dia adalah sama. Keinginan kita tiada jauh berbeda.
Teman, mendengar sebenarnya adalah pekerjaan yang asyik…dengan mendengar, kita bisa mendapat informasi secara gratis…dengan mendengar, kita bisa menyelami kepribadian seseorang…dengan mendengar kita menjadi tahu apa yang ingin dia dengar…dengan mendengar, ucapan kita akan didengar.
Hukum alam! Ya, siapa menebar benih, dia menuai panen. Jika anda sabar dan sungguh-sungguh dalam mendengar, maka sehebat itu pulalah anda akan didengar.
Dan itulah resep jitu memiliki banyak teman. Sudah saya buktikan! Dan bukankah anda menjadi teman saya karena hal itu?? Anda berani mencoba??
SH,
Kuningan, 23 Juli 2010
Aceh, Kopi dan Rokok
Tanpa terasa, sudah hampir 5 tahun saya menjejakkan kaki dan meniti hidup di Propinsi Aceh ini. Propinsi yang pernah menjadi tujuan semua mata manusia dimuka bumi, dimana torehan sejarah kelamnya tsunami yang telah meluluhlantakkan infrastruktur yang ada dan mengakibatkan ratusan ribu korban jiwa.
Aceh (khususnya kota Banda Aceh) kini telah bangkit. Hanya sedikit sisa-sisa tsunami yang masih tampak, itupun umumnya ditepi-tepi atau pesisirĀ pantai. Banda Aceh kini telah kembali disesaki oleh lautan manusia, meskipun kini tak sesesak waktu tahap rehab-rekon dimana puluhan ribu pendatang memadati setiap sudut kota guna memberikan kontribusi dalam membangun kembali kota yang porak poranda. Lalu lintas kembali normal setelah sebelumnya disesaki mobil-mobil 4 WD dengan berbagai logo NGO ataupun UN. Kehidupan masyarakat perlahan sudah mulai normal kembali, meskipun harga-harga yang melambung tinggi susah untuk diturunkan kembali.
Ada beberapa hal yang menarik apabila anda berkunjung di Kota Banda Aceh. Ya…Kedai kopi! Hampir disepanjang pinggir jalan protokol hingga ke ujung-ujung gang sempit anda akan dengan mudah sekali menemukan kedai-kedai yang menjajakan menu khas kopi Aceh. Ada beberapa tempat beken yang sering dikunjungi orang, sebut saya Kedai Kopi Ayah Solong, Cek Yuke, Black and White, Helsinki, dan yang terbaru Tower. Semuanya menjajakan menu utama yang sama, kopi hitam atau sanger, meskipun dibeberapa kedai yang diset agak modern kita dapat menemukan capuccino atau cokelat panas, bahkan hot pancake! Memang dari segi fasilitas dan kenyamanan agak kalah dari kafe-kafe sekelas Starbucks, Coffee Bean, Excelso, dll tapi dari segi fanatisme kafe-kafe ini tak kalah. Tengok saja, hampir tiap hari ratusan orang berjejal memenuhi ruangan-ruangan kedai kopi tanpa berkeluh meski udara agak panas karena ketiadaan AC. Itulah fanatisme sejati! Bisnis kafe disini menjadi ajang mendulang emas, permata dan berlian. Tak heran, Obbie Mesakh beberapa waktu yang lalu saat berkunjung ke Banda Aceh langsung mengutarakan keinginannya untuk membuka kafe disini. Hmm..mungkin profesi penyanyi sudah kurang menjanjikan karena terlalu banyak saingan..hihihihi…
Rokok. Nah, ini yang saya agak kurang suka. Walaupun saya pernah 4 tahun merokok, tapi sudah hampir 10 tahun saya tidak merokok lagi. Di Aceh, laki-laki yang tidak merokok bisa dihitung dengan jari, bahkan ada orang bilang bahwa Aceh adalah “Asbak Rokok” terbesar didunia. Memang benar adanya, kalau tidak percaya, anda bisa buktikan sendiri. Merokok di angkot, merokok diruang-ruang publik, merokok didalam gedung perkantoran nampaknya sudah menjadi budaya. “Rokok sudah menjadi bagian dari kehidupan seorang lelaki di Aceh” Itu kata teman saya. Hmmm….
Lelaki Aceh, rokok dan kopi mungkin saat ini boleh jadi adalah bagian tidak terpisahkan. Tapi saya harap suatu saat nanti budaya orang Aceh untuk Ngopi tidak lagi terkontaminasi oleh rokok. “NGOPI tanpa ROKOK, jauh lebih nikmat!” betul nggak bro???
Nostalgia romantika ‘Setia Bakti’
Beberapa menit yang lalu aku baru saja sampai di kos isteriku di Semarang setelah perjalanan 2 jam yang cukup melelahkan dari rumah orang tuaku di Gubug..
Ah, tapi ada yang berbeda..perjalanan hari ini begitu banyak menyingkap kembali memori lama yang terpendam sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu…
Aku sudah akrab dengan bau solar dan asap knalpot dari bus-bus butut jurusan purwodadi semarang sejak masih duduk dibangku kelas I SMP..Ya, maklum, sejak SMP saya terpaksa harus sudah hidup terpisah dari orang tua karena menuntut ilmu di Semarang. Sejak saat itu pula-lah aku cukup akrab dengan kernet, sopir atau bahkan abang-abang yang suka mangkal di terminal bus atau di ‘MILO’ nama pemberhentian bus didepan sekolahku.
Sore ini aku beranjak dari rumah ibuku jam 15.30 sore, diiringi tangisan puteraku yang lucu karena ingin ikut dengan ayahnya. Dengan setia bapakku yang sudah cukup berumur itu mengantarku menuju ke tempat dimana aku bisa menunggu bus jurusan semarang. Walaupun sempat bocor ban dijalan, akhirnya aku sampai juga di simpang tiga “Pertelon” gubug. Dari sinilah perjalanan bersejarah itu dimulai.
…”Semarang…semarang….kosong..kosong….” teriak kondektur bus Setia Bakti jurusan Blora-Semarang dengan sigap menghampiriku yang sedang turun dari boncengan sepeda motor…
“Kosong Pak? ada Kursi?” Sergahku penuh tanya..
“Banyak Pak, masuk aja….” Ujar sang kondektur berapi-api..”Masuk dari depan aja pak..banyak kursi kosong..” tukasnya lagi penuh keyakinan.
“Ah akhirnya dapat kursi” pikirku polos…
“KAMPRET!”, umpatku dalam hati sesaat setelah aku menaiki pintu bus ternyata beberapa orang sudah tampak bergelantungan seperti kawan di ragunan :p…
“Ya sudahlah, dari pada harus menunggu lebih lama lagi” gumamku sambil melangkah gontai sembari merengkuh pegangan diatap bus..
Bus mulai berjalan pelan..tampak bukan hanya aku yang terkecoh..beberapa bapak-bapak dan ibu-ibu juga tampaknya terkecoh oleh ulah kondektur yang dengan muka gila-nya bilang kalau kursi masih banyak kosong…”Ah, tenang, bukan hanya aku kok yang ketipu” gumamku dalam hati mengibur diri..
“krek..krek..ngik..ngik…” Terdegar bunyi-bunyian dari badan bus yang sudah penuh luka dan compang camping…menandakan bahwa bus ini sudah uzur dan terlalu keras dipaksa bekerja…”Ah, kalau bisa bicara, mungkin bus ini sudah menjerit minta dibangku cadangkan..” pikirku.
Sejenak berdiri, bus perlahan berhenti dan masuklah beberapa pelajar SMU sambil bercanda ria..”Ah, mirip sekali dengan aku dulu…” Sesungging senyum mulai merekah dibibirku yang menurut orang-orang imut, lucu dan ‘mengenaskan’. Tiba-tiba saja sekelebat memori tempoe doeloe merasuk mengharu biru pikiranku..membuat ku ‘trance’..kesurupan oleh memori saat aku sekolah dulu..Tersenyum-senyum, tersipu malu dan terkadang memandang nanar…mungkin orang-orang yang berdiri di sekitarku menganggap aku stress atau salah minum obat cacing…tapi ‘who cares??’..aku sedang kesetanan…kesurupan memori romantika.
Selang 15 menit aku berdiri, kondektur itu datang lagi dan menarik ongkos bus. “Nggaron Pak!” ucapku sambil menyodorkan uang 5 ribu lusuh yang ku tukar dari uang hasil jualan ibu di toko hari ini. Perlahan tapi pasti, kondektur itu menyodorkan kembali uang seribuan yang jauh tak kalah lusuh kepadaku. “Alhamdulillah masih dapet balikan” ujarku dalam hati. Bus pun berjalan kembali dan aku pun mulai kesurupan lagi.
“Pak…Pak…duduk disana..” tiba-tiba suara kondektur bus Setia Bakti itu menmbuyarkan lamunanku..
“O….i..iya…” jawabku seraya berjalan menuju kursi yang dimaksud..
“Ah..akhirnya duduk juga”…gumamku penuh syukur..
Aku duduk di kursi ke -8 deretan belakang sopir, tepat di samping lorong (‘isle’ bahasa pramugarinya)
Disamping kananku tepat duduk seorang remaja tanggung yang tampak gelisah sambil memegang sebuah kertas amplop coklat yang sudah tidak asing lagi bagiku..ya..kertas hasil rontgent foto Thorax bertuliskan inisial “RJ” atau mungkin Rawat Jalan maksudnya. Tampak sebuah kop PKU Muhammadiyah Gubug. Di sebelahnya lagi didekat jendela ada seorang gadis tanggung juga yang kelihatan asyik dengan lamunannya. Di bagian kiri diseberang lorong tampak seorang gadis ABG yang sibuk mendengarkan MP3 via handphone nokia nya…entah, mungkin biar nampak keren atau mungkin tak tahan bunyi bising bus yang seperti bunyi mesin gilingan padi ayahku dulu..
Walaupun sudah terduduk, kelebat bayangan memori masa lalu itu terus menyergapku….menggoda dan mencumbu kesadaranku…”Ah, lebih baik aku nikmati saja saat ini…”Akhirnya aku menyerah. Bayangan Awang, Hengky dan beberapa karibku dulu saat SMP terus berkelebat. “Ah, teman-temanku, andainya engkau disini bersamaku hari ini, mungkin kita sudah akan berperang kata saling bercerita tentang nostalgia masa lalu…” kenangku..
Bus terus melaju menerjang aspal panas diiring dengan suara lirih …. “Bapak-bapak ibu-ibu siapa yang mau bantu..tolonglah bantu aku…yang tak laku-laku” ..sayup-sayup terdengar suara anak pengamen bernyanyi dengan nada C=Fals sambil menggenggam ‘kecrek’ made in ‘dhewe’ dari tutup botol coca cola. Alih-alih irama melayu seperti lagu yang dinyanyikan..bunyi tutup botol yang beradu bersimfoni dengan suara fals anak umur 10 tahunan itu menghasilkan sebuah orkestra sederhana tetapi cukup mengenaskan…istilahnya “biar Ancur yang penting Nekat…’Jas Duit!’ seperti tag line NIKE”
Ah, kusodorkan uang seribuan lusuh kembalian dari bapak kondektur tadi kepadanya…”Terimakasih Pak…” ucapnya lirih.
Bus terus melaju…gemuruh suara mesin diesel tua beradu dengan riuh rendah suara penumpang yang mungkin sedang menceritakan nostalgia yang sama dengan yang aku nikmati hari ini menghantarkanku hingga tempat pemberhentian terakhir tujuanku…menghantarkanku pada ujung dari nostalgia romantika Setia Bakti hari ini…
SH
Semarang 7-10-09
Deposito berbunga 1000%
Judul yang aneh ya? mungkin anda fikir ayah rafi sudah mulai sinting kelamaan tinggal di ‘londo’..
Atau mungkin otaknya korsleting gara-gara kelamaan nulis thesis..
Atau mungkin pula ‘hipoglikemia’ berat gara-gara puasa, jadinya ngelantur..
Ternyata tidak sobat! Ayahrafi masih sehat2 aja tuh…setidaknya itu klaim yang saya declare..
Entah mungkin kalau kunjung ke Sp.KJ akan keluar diagnosa F berapa (mudah2an bukan F.20)…
Dimulai dari mana ya? hmm.. (mode berpikir :ON)
***
Sahabat,
Kadang disaat saya sendiri, terbaring ditempat tidur dimalam hari..
Banyak hal yang terlintas..kadang bayangan yang mengundang senyum, kadang bayangan yang membuat miris..
Ah, apa yang akan terjadi nanti? Ah, akankah aku mampu menjalankan tugasku sebagai ayah dengan baik?
Ah, akankah aku mampu mencapai apa yang kucita-citakan untukku, untuk keluargaku dan untuk ummat?
Ah, apakah aku mampu…apakah aku bisa?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus membombardirku laksana peluru-peluru yang memberondong rumah Muzahri yang menewaskan Ibrahim…(rumah yang mungkin saja isinya kosong..Wallohualam)
Sahabat,
Kadang ada masa-masa saya krisis percaya diri..
Krisis yang menerpa laksana resesi global ulah Amerika yang menjadi bencana dunia..
Krisis percaya diri yang terkadang membuat saya lupa…
Lupa bahwa “Tuhan adalah sang Maha Rencana..”
Lupa bahwa “Ketika manusia dilahirkan, kitab kisah hidupnya sudah selesai dituliskan, tinta-tintanya sudah mengering, dan buku-buku itu telah ditutup”
Lupa bahwa sebenarnya tugas saya adalah hanya berusaha dan berserah..
Sahabat,
Saya mungkin terkadang terpedaya dengan manifesto kapitalisme..
Manifesto perhitungan 5+5=10..
Manifesto yang membuat orang berlomba-lomba untuk kaya dengan pengeluaran seminim mungkin..
Manifesto yang terbukti fragil..rapuh..begitu rapuh..
Manifesto yang telah terbukti gagal secara mengglobal..
Sahabat,
Malu saya memproklamirkan diri sebagai muslim..
Namun kehidupan saya masih jauh dari ukuran muslim yang baik..
Masih jauh dari tatanan yang diwahyukan sang Khalik..
Masih jauh dari tatanan yang dicontohkan sang Kekasih Tuhan..
Malu saya…teramat malu..
Sahabat,
Di tivi, internet, koran, majalah, hinggu selebaran-selebaran kertas buram yang berhambur dipinggir jalan..
Sering kita temui istilah “jurus cepat kaya modal dengkul”; “jadi kaya dalam 30 hari (selain ngepet)” hingga ke pertanyaan-pertanyaan retorik “Mau Kaya??” (kaya monyet maksudnya) atau “Bosan jadi orang miskin melulu??” (udah tahu pake nanya)..
Inti dari semuanya adalah mengajarkan kapitalisme atau terkadang hanya menjual mimpi kosong..
Sahabat,
Seorang penceramah muda di televisi sering berbicara tentang sedekah..
Hingga saking seringnya, maka “sedekah” itu menjadi ‘brand’ miliknya..
Ada yang unik dari penceramah ini..kenapa?
Karena dia menggunakan matematika yang menyimpang dari kewajaran..
Dia tidak menganut prinsip 10-1=9..
Tapi dia menganut 10-1=19…Apa pasal?? kenapa bisa??
Ya, karena setiap 1 bagian yang kita sedekahkan, maka Tuhan akan menggantinya 10x lipat..
Tidak ada istilah merugi dalam sedekah…karena itu adalah janji-Nya..
Sahabat,
Dikalau menabung atau mendepositokan uang di Bank kita pasti selalu berhati-hati..
Berapa bunga/bagi hasilnya?? Dijamin pemerintah atau tidak?? itulah mungkin dua pertanyaan yang sering terlontar..
Kalau kita bisa mendepositokan uang dengan bunga/bagi hasil 8%/tahun dengan penjaminan LPS..
Lalu kenapa kita (saya) masih ragu untuk mendepositokan uang dengan bunga 1000% dengan penjaminnya adalah Tuhan secara langsung?
Lagi-lagi ini adalah sebuah retorika…
Tidak perlu dijawab…cukup direnungkan..
Yuuk…mari kita renungkan sama-sama..
salam,
SH
Ams-NL
25-9-2009
2 comments