Dunia Rafi

Jangan Menyerah…

Posted in CelotehAyah&Mama by wiratara on Juli 28, 2010

Beberapa hari ini entah kebetulan atau tidak, sering saya mendengar cuplikan sebuah lagu dari kelompok band D’Massiv yang berjudul “Jangan menyerah..”. Bunyinya kira-kira begini…..”syukuri apa yang ada, hidup adalah anugrah…tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik…” Sungguh indah dan menyentuh hati syairnya, membuktikan bahwa grup band ini adalah sekumpulan anak-anak muda yang peka terhadap kondisi sosial disekitarnya. Begitu jarang kita jumpai ditengah era globalisasi informasi dan transformasi budaya yang luar biasa cepat ini masih ada sekelompok artis yang masih memiliki tanggung jawab moral kepada bangsanya. Ditengah gegap gempita lagu-lagu pop cinta-cintaan dengan syair-syair yang tidak bermutu dan ditengah kemunculan kembali film-film porno dan horor dari alam kuburnya, munculnya lagu ini (walau sudah agak lama) mampu menjadi oasis bagi kita, menyejukkan hati, mengajak kita berintrospeksi lebih dalam, dan teramat dalam. Rangkaian kalimat sederhana yang ditata indah dan sarat makna, mampu mengetuk sanubari yang paling dalam, membangkitkan kepedulian terhadap sesama, bahkan terhadap hal-hal kecil yang sering kita abaikan. D’Massiv, kebaikan kecilmu hari ini mungkin tanpa kalian sadari merupakan sebuah titik balik untuk perubahan dunia menjadi lebih baik. Yuk, syukuri apa yang ada, karena hidup adalah anugerah, tetap jalani hidup ini dengan melakukan yang terbaik……

SH
BNA 2-2-2010

Q/A – Tanya jawab tentang kehidupan..

Posted in Intermezo by wiratara on Juli 28, 2010
Q: Apakah Kelemahan itu?
A: Kelemahan adalah anugerah dari Tuhan untuk menyadarkan bahwa manusia memiliki keterbatasan.

Q: Apakah Kekuatan itu?
A: Kekuatan adalah cobaan dari Tuhan untuk mengetahui sejauh mana manusia mampu bersyukur.

Q: Apakah kegagalan itu?
A: Kegagalan adalah nikmat dari Tuhan agar manusia mau terus belajar.

Q: Apakah keberhasilan itu?
A: Keberhasilan adalah godaan yang diberikan Tuhan untuk melihat apakah dia termasuk golongan orang yang beriman.

Q: Apakah rugi itu?
A: Rugi adalah apabila kita menerima terlalu banyak tetapi sedikit sekali memberi.

Q: Apakah untung itu?
A: Untung itu adalah apabila ketika kita mampu banyak memberi dari sedikit yang kita terima.

Q: Apakah Sukses itu?
A: Sukses adalah ketika kehadiran kita mampu menghadirkan senyum orang lain.

Q: Apakah Gagal itu?
A: Gagal adalah saat dimana kita diberi cobaan tetapi tetap tidak mau belajar.

Q: Apakah Hidup itu?
A: Hidup adalah penggabungan dari jasmani dan rohani untuk diselaraskan dengan alam dan penciptaan.

Q: Apakah Mati itu?
A: Mati adalah terputusnya kesempatan kita untuk menjadi makhluk yang lebih baik.

Q: Apakah Puas itu?
A: Puas adalah laksana belanga yang tidak pernah penuh diisi dengan air.

Q: Apakah Cinta itu?
A: Cinta adalah kehendak hati yang menguasai akal dan pikiran.

Q: Apakah Benci itu?
A: Benci adalah kerinduan akan cinta yang dipendam.

Q: Kapan kah ketikan ini selesai?
A: Ya, saat ini, soalnya dah jam 17.20, saatnya pulang kantor.

Note: Q/A ini dituliskan secara sporadis baik pertanyaan maupun jawabannya dalam waktu 5 menit (17.15 – 17.20). Anda berani mencoba membuat kuis trivia dan anda jawab sendiri secara spontan?

SH
BNA 2-2-2010

“Comfort Zone” a.k.a Si Zona Nyaman : A silent killer?

Posted in CelotehAyah&Mama by wiratara on Juli 28, 2010
Istilah Comfort zone a.k.a si Zona Nyaman ini tentunya sering kita dengar apabila kita menyaksikan siaran tivi “Mario Teguh” atau mengikuti seminar motivasi dengan “Andri Wongso”, “Tung Desem Waringin”, hingga seminar bisnis seperti “Hermawan Kertajaya”. Nah, apa sih sebenarnya comfort zone itu? SH akan mencoba menguraikannya berdasarkan sumber referensi dari wikipedia ditambah dengan pengalaman pribadi.

Definisi:
“Zona Nyaman adalah sebuah kondisi perilaku dimana seseorang bekerja dalam sebuah kondisi netral tanpa kecemasan, dengan hanya menggunakan seperangkat perilaku terbatas yang dipunyai untuk mencapai sebuah level kinerja yang menetap dan umumnya tanpa disertai adanya risiko” (Alasdair A. K. White “From Comfort Zone to Performance Management”).

Jadi menilik definisi ini ada beberapa kata kunci yang dapat kita cermati yaitu : “kondisi perilaku”, “seperangkat perilaku terbatas”, “kinerja tetap”, dan “tanpa risiko”. Keempat kata kunci ini adalah ruh dari zona nyaman dan keberadaannya saling kait mengait. Apabila anda saat ini merasakan adanya keempat komponen ini dalam kehidupan anda (terutama dalam bekerja), maka anda mungkin saat ini sedang berada dalam zona nyaman, atau anda mengkondisikan keadaan anda saat ini sebagai zona nyaman. Jadi unsur subyektifitas dan variabilitas individu bermain cukup besar disini. Zona nyaman untuk anda, belum tentu zona nyaman untuk saya, begitu pula sebaliknya.

Nah, terus kenapa zona nyaman disebut sillent killer? kok kayak kanker ovarium aja?
Ya, karena kenyataannya memang begitu. Menurut beberapa pemikiran, zona nyaman akan membuat kita terlena, berasyik masyuk dengan apa yang anda capai hari ini, hingga terlupa bahwa anda mungkin bisa menjadi jauh lebih baik dari sekarang bila anda berani keluar dari zona nyaman itu. Seseorang yang sukses adalah seseorang yang memiliki karakteristik berani keluar dari zona nyaman ini. Karena diluar segala kenikmatan yang diberikan, zona nyaman ini mengkondisikan seseorang hidup dan bekerja dalam keterbatasan. Seperti kasus inersia, seseorang yang sudah menetapkan zona nyamannya akan cenderung tinggal dan menetap tak berdaya didalam kotak kayu yang dia ciptakan sendiri, membelenggu kreativitas dan nyali singa yang dia miliki hingga akhirnya hanya menjadi seekor kelinci yang tidak berani keluar sarang karena takut diburu. Nah, ini lah yang saya sebut sebagai kondisi mati-nya potensi optimum individu.

So, masih pingin berlama-lama di “comfort zone” anda?? Think Twice!

Referensi: http://en.wikipedia.org/wiki/Comfort_zone

Salam,

SH, 5-2-2010
Banda

Hidup itu…

Posted in CelotehAyah&Mama by wiratara on Juli 28, 2010
Hidup itu ibarat roti, dipanggang kurang lama jadinya bantet, dipanggang kelamaan jadinya gosong.
Hidup itu ibarat mangga, diperam sebentar masih mengkal, diperam kelamaan jadinya busuk.
Hidup itu ibarat jalan, terlalu mulus dipake ngebut, terlalu rusak bikin kecelakaan.
Hidup itu ibarat makan, cuma sesendok terasa kurang, habis sebakul kekenyangan.

Kehidupan itu ibarat laut, terkadang tenang terkadang berombak.
Kehidupan itu ibarat tatasurya, semua bergerak bersama meskipun tidak dengan irama yang serupa.
Kehidupan itu ibarat jam pasir, keluar perlahan-lahan hingga suatu saat tak bersisa.
Kehidupan itu ibarat buah simalakama, dimakan ayah mati tak dimakan ibu mati.

Penghidupan itu ibarat kunci, bisa membuka pintu surga dan juga neraka, terserah anda.
Penghidupan itu ibarat kertas, bisa tetap putih atau bernoda tinta-tinta.
Penghidupan itu ibarat dahaga, puas dan tidak puas tidak jelas batasnya.
Penghidupan itu ibarat lukisan affandi, abstrak, tergantung anda menafsirkannya.

SH
Banda Aceh 2-3-10

Rakyat sejahtera Tugas Siapa??

Posted in CelotehAyah&Mama by wiratara on Juli 28, 2010

Suatu pagi di sebuah kedai kopi di sudut kota tua di ujung sumatera. Tampak dua orang pria sedang asyik duduk di kursi plastik hijau berlengan. Diantara mereka terdapat sebuah meja plastik warna kuning dengan terhampar makanan kecil onde-onde, timpan, pulot panggang dan tentunya roti samahani. Di kiri dan kanan tampak kepulan asap rokok tak henti-hentinya menyeruak mengisi ruang-ruang di kedai kopi beratap seng dan berlantai semen keras itu. Sementara di luaran, hujan rintik-rintik menari membasahi jalan dan menimbulkan irama bertitikan di atas seng kedai kopi yang sudah mulai kuyup.

Kuhentikan langkah, dan aku putuskan duduk di sebuah kursi tak jauh dari mereka. Kursi plastikku sama dengan yang mereka duduki, berwarna hijau, agak berlekuk dalam, dan juga berlengan. Kontur kursi jauh dari prinsip ergonomis dan apabila kita sudah duduk maka agak susah untuk berdiri, oleh karena itu banyak orang yang betah duduk hingga berjam-jam. Didepanku persis terdapat meja plastik yang sama, dengan hamparan makanan yang serupa. Cuma bedanya, kepulan asap rokok disini tidak sekental disebelah mereka, hanya sepoi-sepoi angin dingin yang menerbangkan asap dari kejauhan.

Kedua pria itu tampak asyik berdiskusi. “mungkin mereka sedang memperbincangkan bisnis atau hal yang serius” pikirku. samar-samar suara mereka mulai terdengar seiring dengan semakin memanasnya perbincangan diantara keduanya. Berikut adalah petikan kalimat yang sempat saya curi dengar:

Pria A: “Ah…Ndak betul itu! kesejahteraan rakyat miskin harusnya merupakan tanggung jawab negara” ujarnya berapi-api.
Pria B: “Memang benar, tetapi kan kamu tahu, negara kita kan juga sedang susah. Resesi global, kredit macet, bail out bermasalah, CAFTA, carut-marut birokrasi, yang kesemuanya merupakan pukulan bagi pemerintah.” sahutnya mencoba menenangkan.
Pria A: “Ah, omong kosong itu! sebagian besar masalah itu kan man-made, seharusnya bisa dihindari, dan bukan dijadikan kambing hitam” sungutnya ketus.
Pria B: “Iya, benar, kamu tidak salah. Tetapi tetap hal tersebut diatas merupakan sebuah alasan yang valid untuk menjustifikasi ketidakmampuan pemerintah saat ini.” sahutnya lagi.
Pria A: “Wah, kalau semua bisa dijadikan sebagai alasan pembenaran kegagalan, maka tidak perlu lagi ada pemerintah. Karena sudah pasti tidak memberikan kontribusi pada kemaslahatan masyarakat. Selalu aja ada alasan untuk ngeles.”
Pria B: “Bukan ngeles. Ini fakta. Presiden kita kan bilang, kalau bicara harus dengan fakta. Nah, alasan itu tadi adalah fakta yang tak terbantah”
Pria A: “Fakta tak berbantah atas kegagalan pemerintah??”
Pria B: “Fakta tak berbantah akan penyebab kegagalan pemerintah..”
Pria A: “Wah, kalau begitu nanti kita jadi masyarakat yang permisif dong!”
Pria B: “Bukan permisif, tetapi masyarakat yang santun dan beretika”
Pria A: “Ndak betul itu namanya, merepresi kritikan bukan solusi permasalahan”
Pria B: “Bukan represif, tetapi menaati rambu-rambu ketimuran, santun, bertatakrama”
Pria A: “Lalu kenapa makin banyak orang korupsi yang ndak pake malu??; bukannya malu adalah salah satu ciri ketimuran?!”
Pria B: “Bukan tanpa malu, tapi mengedepankan ‘asas praduga tak bersalah’; beda itu. Sebelum terbukti secara hukum, maka kita tidak bisa menyebut dia koruptor”
Pria A: “Meskipun jelas-jelas negara dirugikan dan uang masuk kantong pribadi”
Pria B: “Asas praduga tak bersalah pak, dan budaya ketimuran yang santun”
Pria A: “Wah, kalau begitu, tidak mengedepankan asas keadilan dan kepatutan dong”
Pria B: “nah, itulah risiko demokrasi dan negara hukum. Semua harus tunduk.”
Pria A: “Meskipun hukum dapat dibeli dan diperjual belikan?”
Pria B: “Nah, itu juga risiko. Risiko demokrasi dan mengedepankan asas kekeluargaan. Itu budaya ketimuran juga.”
Pria A: “Hawrakaddah! Lha kalau begini semua yang terjadi sekarang ini masih sesuai budaya ketimuran dong”
Pria B: “Lha, ya jelas lah. Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Lha begitu…”
Pria A: “Maksudnya pak?”
Pria B: “Lah, kok malah tanya saya. Saya juga ndak tahu..Wong saya bukang orang jawa..”
Pria A: “Hawrakaddah..tobaat…tobaat..”

Hujan mulai reda. Saya pun beranjak bangun meskipun badan terasa malas. tiga ribu lima ratus perak untuk segelas teh hangat dan beberapa potong kue. Saya beranjak pergi dan meninggalkan kedua orang yang masih sibuk beradu argumen. Entah mereka dipihak mana, pihak penguasa atau pihak yang sedang mencari kuasa. Entah…

Salam,

SH
BNA 2-3-2010

Dewasa dan Kedewasaan

Posted in CelotehAyah&Mama by wiratara on Juli 28, 2010
Dewasa, adalah kondisi tahapan hidup pada manusia, dimana pada fase ini seseorang dipikulkan tanggung jawab secara mandiri, baik dalam kehidupan sehari-hari, dalam kacamata warga negara dan dalam konteks hukum.
Tidak banyak parameter terukur untuk mengetahui apakah seseorang sudah dewasa atau tidak, mungkin batasan umur diatas 18 tahun adalah sesuatu yang lazim dipakai. Entah valid atau tidak, tapi itulah praktek yang ada selama ini.

Kedewasaan, adalah sebuah terminologi yang menggambarkan sosok manusia yang sudah kaffah, baik dalam hal tanggung jawab dunia maupun tanggung jawab akherat.
Kedewasaan adalah sesuatu yang jauh lebih sulit untuk diukur. Tidak ada parameter jelas yang dapat digunakan, karena kedewasaan lebih merupakan sesuatu yang abstrak dan sulit di kuantifikasi. Kedewasaan lebih merupakan sesuatu hal yang bermain di dalam domain alam pikiran yang terejawantahkan dalam sikap, perilaku dan cara memandang hidup.

Dewasa dan kedewasaan bukan merupakan sebuah paket yang melekat. Keduanya bisa dikatakan independen meskipun masih ada benang merah. Umur boleh bertambah, tapi kedewasaan belum tentu dicapai dengan sendirinya.
Kedewasaan lebih merupakan proses kerohanian kalau tidak boleh disebut proses religius dalam mencari bentuk terbaik dari manusia. Melibatkan olah pikir, olah rasa dan juga keikhlasan yang luar biasa. Kedewasaan merupakan proses evolusi dan bukan proses revolusi, karena kedewasaan umumnya tidak regresif dan cenderung progresif. Pengalaman, religiousitas, lingkungan, dan juga visi seseorang akan mampu membimbing menuju kedewasaan yang komprehensif.

Kalau saya dan anda merasa sudah cukup dewasa (baca=tua), jangan berbangga dulu bahwa saya dan anda pasti sudah mencapai kedewasaan. Mari kita sama-sama menilik perilaku kita sehari-hari, bagaimana cara kita memperlakukan sesama, bagaimana kita menempatkan diri kita yang ‘hebat’ ini ditengah-tengah orang yang menurut kita ‘kurang hebat’, apakah kita cenderung mendongak atau menunduk, bagaimanakah kita memposisikan diri kita terhadap Tuhan, dan bagaimana kita menghargai diri kita sendiri. Karena kedewasaan itu harus terus dipupuk dengan banyak berintrospeksi, Bermuhasabahlah!

Salam,

SH

Banda Aceh, 27 Mei 2010

A regret…

Posted in Intermezo by wiratara on Juli 28, 2010
10th grade
As I sat there in English class, I stared at the girl next to me. She was my so called “best friend”. I stared at her long, silky hair, and wished she was mine. But she didn’t notice me like that, and I knew it. After class, she walked up to me and asked me for the notes she had missed the day before and handed them to her. She said “thanks” and gave me a kiss on the cheek. I wanted to tell her, I want her to know that I don’t want to be just friends, I love her but I’m just too shy, and I don’t know why.

11th grade
The phone rang. On the other end, it was her. She was in tears, mumbling on and on about how her love had broke her heart. She asked me to come over because she didn’t want to be alone, so I did. As I sat next to her on the sofa, I stared at her soft eyes, wishing she was mine. After 2 hours, one Drew Barrymore movie, and three bags of chips, she decided to go to sleep. She looked at me, said “thanks” and gave me a kiss on the cheek. I want to tell her, I want her to know that I don’t want to be just friends, I love her but I’m just too shy, and I don’t know why.

Senior year
The day before prom she walked to my locker. My date is sick” she said; he’s not going to go well, I didn’t have a date, and in 7th grade, we made a promise that if neither of us had dates, we would go together just as “best friends”. So we did. Prom night, after everything was over, I was standing at her front door step. I stared at her as she smiled at me and stared at me with her crystal eyes. I want her to be mine, but she isn’t think of me like that, and I know it. Then she said “I had the best time, thanks!” and gave me a kiss on the cheek. I want to tell her, I want her to know that I don’t want to be just friends, I love her but I’m just too shy, and I don’t know why.

Graduation Day
A day passed, then a week, then a month. Before I could blink, it was graduation day. I watched as her perfect body floated like an angel up on stage to get her diploma. I wanted her to be mine, but she didn’t notice me like that, and I knew it. Before everyone went home, she came to me in her smock and hat, and cried as I hugged her. Then she lifted her head from my shoulder and said, “you’re my best friend, thanks” and gave me a kiss on the cheek. I want to tell her, I want her to know that I don’t want to be just friends, I love her but I’m just too shy, and I don’t know why.

A Few Years Later
Now I sit in the pews of the church. That girl is getting married now. I watched her say “I do” and drive off to her new life, married to another man. I wanted her to be mine, but she didn’t see me like that, and I knew it. But before she drove away, she came to me and said “you came!”. She said “thanks” and kissed me on the cheek. I want to tell her, I want her to know that I don’t want to be just friends, I love her but I’m just too shy, and I don’t know why.

Funeral
Years passed, I looked down at the coffin of a girl who used to be my “best friend”. At the service, they read a diary entry she had wrote in her high school years. This is what it read: I stare at him wishing he was mine, but he doesn’t notice me like that, and I know it. I want to tell him, I want him to know that I don’t want to be just friends, I love him but I’m just too shy, and I don’t know why. I wish he would tell me he loved me! `I wish I did too…` I thought to my self, and I cried.

Nice and touching!

Source: http://www.boardofwisdom.com/

The Cab Ride

Posted in Intermezo by wiratara on Juli 28, 2010
An Inspirational Story, Motivational Story -
By Author Unknown (submitted by Rebekah) – taken from a website

Twenty years ago, I drove a cab for a living. When I arrived at 2:30 a.m., the building was dark except for a single light in a ground floor window. Under these circumstances, many drivers would just honk once or twice, wait a minute, and then drive away. But, I had seen too many impoverished people who depended on taxis as their only means of transportation. Unless a situation smelled of danger, I always went to the door. This passenger might be someone who needs my assistance, I reasoned to myself.

So I walked to the door and knocked. “Just a minute”, answered a frail, elderly voice. I could hear something being dragged across the floor. After a long pause, the door opened. A small woman in her 80′s stood before me. She was wearing a print dress and a pillbox hat with a veil pinned on it, like somebody out of a 1940s movie. By her side was a small nylon suitcase. The apartment looked as if no one had lived in it for years. All the furniture was covered with sheets. There were no clocks on the walls, no knickknacks or utensils on the counters. In the corner was a cardboard box filled with photos and glassware.

“Would you carry my bag out to the car?” she said. I took the suitcase to the cab, then returned to assist the woman. She took my arm and we walked slowly toward the curb. She kept thanking me for my kindness.

It’s nothing”, I told her. “I just try to treat my passengers the way I would want my mother treated”.

“Oh, you’re such a good boy”, she said.

When we got in the cab, she gave me an address, then asked, “Could you drive through downtown?”

“It’s not the shortest way,” I answered quickly.

“Oh, I don’t mind,” she said. “I’m in no hurry. I’m on my way to a hospice”.

I looked in the rear-view mirror. Her eyes were glistening.

“I don’t have any family left,” she continued. “The doctor says I don’t have very long.”

I quietly reached over and shut off the meter. “What route would you like me to take?” I asked.

For the next two hours, we drove through the city. She showed me the building where she had once worked as an elevator operator. We drove through the neighborhood where she and her husband had lived when they were newlyweds. She had me pull up in front of a furniture warehouse that had once been a ballroom where she had gone dancing as a girl. Sometimes she’d ask me to slow in front of a particular building or corner and would sit staring into the darkness, saying nothing.

As the first hint of sun was creasing the horizon, she suddenly said, “I’m tired. Let’s go now.”

We drove in silence to the address she had given me. It was a low building, like a small convalescent home, with a driveway that passed under a portico. Two orderlies came out to the cab as soon as we pulled up. They were solicitous and intent, watching her every move. They must have been expecting her.

I opened the trunk and took the small suitcase to the door. The woman was already seated in a wheelchair. “How much do I owe you?” she asked, reaching into her purse.

“Nothing,” I said.

“You have to make a living,” she answered.

“There are other passengers,” I responded.

Almost without thinking, I bent and gave her a hug. She held onto me tightly. “You gave an old woman a little moment of joy,” she said. “Thank you.”

I squeezed her hand, then walked into the dim morning light. Behind me, a door shut. It was the sound of the closing of a life. I didn’t pick up any more passengers that shift. I drove aimlessly lost in thought. For the rest of that day, I could hardly talk. What if that woman had gotten an angry driver, or one who was impatient to end his shift? What if I had refused to take the run, or had honked once, then driven away?

On a quick review, I don’t think that I have done anything more important in my life. We’re conditioned to think that our lives revolve around great moments. But great moments often catch us unaware-beautifully wrapped in what others may consider a small one.

“People may not remember exactly what you did, or what you said,
but they will always remember how you made them feel”

Sekolahlah!

Posted in Intermezo by wiratara on Juli 28, 2010
Judul yang provokatif ya? Ah, mudah-mudahan tidak. Hanya ingin menyemangati anda semua untuk selalu dan selalu giat belajar.

Sekolah gratis…jalan-jalan dibayari, mengunjungi tempat-tempat baru…dan dapat ilmu serta gelar tentu sebagian besar orang mau. Saya harap teman-teman sekalian juga begitu.

Nah, berikut saya bagikan website dari penyedia beasiswa yang bisa di explore:

Beasiswa Ke Belanda (STUNED/NFP) : http://www.nesoindonesia.or.id/
Beasiswa ke Amerika (AMINEF) : http://www.aminef.or.id/
Beasiswa ke Inggris (CHEVENING) : http://www.chevening.com/ tetapi sedang di pending menunggu hasil review keuangan pemerintah inggris, lihat di http://www.britishcouncil.org/indonesia-common-chevening.htm
Beasiswa ke jepang (monbukagakusho) : http://www.id.emb-japan.go.jp/sch_rs.html
Beasiswa ke Eropa (ERASMUS MUNDUS) : http://ec.europa.eu/education/external-relation-programmes/doc72_en.htm atau http://emundus.wordpress.com/
Beasiswa ke Jerman (DAAD) : http://www.daad.de/deutschland/foerderung/stipendiendatenbank/13845.en.html
Beasiswa ke Kanada : http://www.scholarshipscanada.com/index.asp
Beasiswa ke Australia : www.adsindonesia.or.id
Database beasiswa umum : http://www.internationalscholarships.com/

Percayalah kawan, sekolah adalah investasi…meskipun tidak seperti saham dan forex, atau investasi emas, tanah, rumah dan harta tidak bergerak lainnya. Tetapi ilmu itu adalah pondasi dari kehidupan yang harus akan terus berkembang dan berkembang hingga menghasilkan luaran yang bisa saja beratus-ratus kali keuntungan dari pada investasi konvensional yang ada. Saatnya negeri ini berinvestasi pada HUMAN CAPITAL seperti yang telah dibuktikan oleh Jepang, Negara kecil yang mampu mengaduk-ngaduk isi dunia!

July 9th 2010
SH, JKT

Memoar Hati

Posted in Intermezo by wiratara on Juli 28, 2010
Bergolak, bergejolak..
Menggelegak laksana debur ombak..
Menggulung, mengular bersambung..
Tak henti mendebur dan beriak..
Menyongsong pagi dan menghantar malam..terus berulang..
Disetiap episode lakon kehidupan..

Hati manusia..
Lebih dalam dari lautan dan lebih misterius dari cerita penghantar tidur..

Hati manusia..
Tak bisa dikira dan teramat sulit diukur..
Abstrak dan surealis..
Menyirat dalam semburat..
Menanda dalam sketsa..

Hati manusia…
Ah, mungkin ada benarnya kata pepatah tua..
Dalamnya laut bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tahu..
Ya, yang tua mungkin terkadang benar..
Ditengah stigma kolot dan kekunoan..
Tetapi mungkin kali ini mereka benar…
Mungkin saja..

SH
Sebuah memoar hati,
Manado, 19 Juli 2010
11.46 WITA

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.