Isteriku dan permintaan itu..
Beberapa hari ini isteriku terus mengulang-ulang permintaan yang sama setiap kali aku telepon…bahkan akhir-akhir ini dengan nada ancaman!! wah, ngeri sekali, kok pake ancam mengancam kayak teror bom..
Bukan!…dia bukan minta Blackberry Javelin…Salah lagi!..dia tidak minta dibelikan Jam tangan Esprit atau CK…..
Terus apa…apa yang kiranya bisa membuat isteriku begitu gusar dan terus menerus menerorku hingga memberikan deadline besok harus sudah terpenuhi?? …permintaan isteriku adalah *********************(sensor)
Yah, tapi itulah isteriku. Kadang lucu, geli dan bercampur kasihan. Tapi satu yang aku mulai salut..tumben isteriku mau ditawari ikut lomba pidato…
“WHAT A BREAKTHROUGH!!!” (teriak sambil membayangkan wajah Tung Desem Waringin sang motivator keuangan ‘kapitalis’)…
“Boleh deh ma, hari ini permintaan mama akan ayah turuti dengan senang hati”…ucapku lirih mengakhiri tulisan ini dengan sebuah senyuman kecil…
Diemen, 29 juli 2008
Wish me all the best…!!
Malam ini aku begadang lagi — ya, mungkin itulah tag line yang tepat untuk tulisan ini. Betapa tidak, aku harus bangun pagi2 jam 4 subuh untuk memulai hari baru dengan sebuah ‘tes tertulis’ yang mungkin merupakan salah satu dari ‘babak baru’ dalam kehidupan dan dalam karirku. Mengingat pengalaman-pengalaman lampau aku tidak bisa terbangun meski jam weker sudah di set, akhirnya aku memutuskan untuk tidak tidur saja malam ini (cuman tadi sore jam 8-11 p.m. udah lumayan tidur bentar).
Syukur yang tak terperi –ya, itu mungkin adalah tag line yang kedua. Why? Kenapa? karena setelah sekian lama tiada terdengar kabar, tiba2 saja kemarin pagi isteriku menelepon “Mas, tadi ada orang dari perwakilan kantor *** menelepon, menanyakan apakah bisa ‘written test’ online besok tanggal 28 jam 9.00-11.00 pagi; mereka minta konfirmasi via e-mail sekarang!”..meski saat telepon berbunyi aku baru saja bisa tertidur dua jam (3.30 a.m. – 5.30 a.m.), namun cukup menjadi ‘energizer’ untuk segera menyalakan komputer dan membuka e-mail yahoo-ku. Wah, lamaran yang sudah aku kirimkan 1,5 bulan yang lalu dan aku pikir sudah ditolak ternyata ceritanya belum selesai. Alhamdulillah…
Nervous — Ya, itulah perasaanku saat ini. Walau kemarin sempat kontak dengan kawan yang kerja disana dan diberikan sedikit arahan, tetapi tetap aja masih nervous. Sama kayak waktu mau UMPTN atau mau ujian ko-ass di bagian-bagian besar (khususnya Obs-gyn yang sempat tak lulus..hiks..).
Do’a — Ya, hanya itulah penolongku saat ini. Dalam setiap do’a aku seringkali panjatkan kepada-Nya “Ya Alloh, jika ini adalah jalan yang terbaik untukku maka dekatkan dan lancarkanlah usahaku; tetapi jika menurut-Mu jalan ini bukan yang terbaik untukku maka jauhkan lah dan buatlah aku tetap sabar..”
Dear All, wish me luck and I hope the same thing to you….
Diemen, 28 July 2009. 01.04 a.m. after midnight
Teror BOM kemana arahmu??
Sudah hampir 10 hari ini kita dibombardir oleh berita mengenai kasus bom di hotel The Ritz Carlton dan J.W. Marriot di Mega Kuningan Jakarta. Entah karena sedang ‘hot’ atau memang karena media sedang kesetanan dengan kasus ini sehingga seolah-olah berita-berita penting lain non kasus bom hanya dijadikan berita sampingan dan tidak mendapatkan porsi yang cukup.
Tengok saja, bagaimana kasus lumpur lapindo menguap, kasus-kasus sengketa pemilu sudah mulai tidak dilirik, kasus-kasus gizi buruk, kasus-kasus kemiskinan, kasus sekolah digusur, dan kasus-kasus lain yang lebih dekat dengan rakyat seolah bukan merupakan isu seksi. Ya, dampak Bom memang begitu luas. Tidak hanya memakan korban jiwa, tetapi juga mampu mengalihkan perhatian masyarakat dari isu-isu yang lebih membumi.
JELAS! Bahwa pelaku teror bom sudah mencapai maksud dan tujuannya. Mencari dan mengalihkan perhatian!
Beberapa hari yang lalu di metro tivi ditayangkan acara spesial ‘Indonesia Unite’ yang dimotori oleh teman-teman ‘twitter’, sebuah komunitas ’micro-blogging’ yang entah sampai saat ini saya masih belum tertarik gabung. Dengan slogan ‘Kami Tidak Takut!’ seolah-olah ingin menyampaikan pesan kepada pelaku teror bahwa mereka tidak mencapai tujuannya. Tapi apa lacur, berita yang begitu gencar, turunnya hunian hotel, dan juga mobilisasi ‘resource’ milyaran rupiah untuk memburu mereka merupakan bukti bahwa ‘teroris’ itu telah mencapai sebagian dari tujuannya.
Apa tujuan Bom mu? kenapa kamu selalu lolos? tidakkah kamu terdeteksi? kenapa teman-temanmu bisa dengan mudah ditangkap ’hanya’ setelah bom kau ledakkan? Apakah memang ’Nurdin M Top’ itu ada? …Ah, ratusan pertanyaan itu silih berganti merasuki otakku seolah kesetanan…aku seperti kerasukan tanda tanya..aku ’teralih’ dari tugas utamaku belajar dan menyelesaikan ‘thesis’! wahai kamu yang disebut ‘teroris’, enyahlah dari otakku!!
H1N1 mulai memakan korban
Hari ini saat saya streaming metro tivi, ada sebuah berita yang walaupun tidak mengejutkan tapi cukup memprihatinkan. Ya, berita bahwa H1N1 telah meminta korban pertamanya di Indonesia. Menurut berita lain yang dilansir di Media Indonesia bahwa korban meninggal adalah seorang bocah perempuan berumur 6 tahun di Jakarta. Cuma ada yang kurang dari berita ini, bahwa tidak dielaborasi apakah bocah ini memiliki kontak dengan orang yang pernah datang dari Luar negeri ataukah pernah melakukan perjalanan ke luar negeri atau ke wilayah-wilayah dengan kasus konfirmasi H1N1. Kalau memang ada riwayat tersebut, masih dapat diasumsikan bahwa kasus H1N1 masih terlokalisir, tetapi apabila tidak ada riwayat tersebut, maka bisa di ‘andai-andaikan’ bahwa kasus ini sudah tersebar lebih merata/meluas di Indonesia.
Data dari WHO GAR Pandemic H1N1 tertanggal 6 juli 2009 menunjukkan bahwa kasus kumulatif di Indonesia 20 kasus dengan 12 kasus konfirmasi H1N1. Data surveilans ini termasuk sangat lamban dibanding dengan kasus H5N1 yang diupdate hampir mingguan meskipun kini sudah mulai melambat dikarenakan jumlah kasus yang semakin berkurang (lihat disini update H5N1 1 july 2009).
Kalau anda lihat dari data H5N1 yang ditampilkan, tidak mengherankan bahwa Indonesia menduduki peringkat pertama baik dalam jumlah kasus (141) maupun jumlah korban meninggal (115) dengan Case Fatality Rate/CFR mencapai 81.5% alias tertinggi/terganas di DUNIA!.
Menurut update hari ini (27/7/09) yang dirilis Depkes di Indonesia sudah terdapat 400 kasus positif H1N1 yang tersebar di 15 propinsi. Wah, luar biasa cepat perkembangannya. Dengan 1 korban meninggal, berari CFR = 2-3 per 1000 kasus.
Seperti yang telah di dengung-dengungkan oleh Departemen Kesehatan melalui Menkes Dr. Fadillah Supari bahwa ‘kita’ telah siap dengan pandemi H1N1 karena salah satu alasannya kita pernah 2 kali melakukan simulasi pandemi H5N1 atau lebih dikenal dengan Flu Burung. Alasan yang menurut saya semi logis. Kenapa demikian?? ya, karena simulasi adalah suatu keadaan yang dibuat dengan skenario, sementara kondisi riil pandemi adalah ‘unpredictable’, sesuatu bisa berubah dari menit ke menit, tidak jelas arah dan kemana akan menuju. Bercermin kepada kasus H5N1 diatas, maka setidaknya kesiapsiagaan pandemik harus terus ditingkatkan dalam tataran operasional disetiap level.
Dunia pernah mengalami pandemi ‘flu spanyol’ pada tahun 1918 dan hal ini tidak dapat dipandang remeh.
Seperti dalam tulisan saya terdahulu tentang ancaman pandemi H1N1 (yang kini sudah terjadi) bukan tidak mungkin dengan kondisi sekarang kita akan menjadi negara yang cukup parah terimbas. Naudzubillah! Mudah2an Alloh selalu melindungi kita semua dan memberikan pemimpin-pemimpin kita kekuatan dan kejernihan hati dalam menentukan kebijakan yang terbaik bagi warga negaranya.
Update 29/7/2009: WHO merilis update dari perkembangan kasus H1N1 per 27 juli 2009 disini dengan jumlah kasus positif 134,503 dan kematian 816 yang setara dengan CFR = 0.6% atau 6 kematian dari 1000 kasus.
Salam sehat,
leave a comment