Dunia Rafi

Isteriku dan permintaan itu..

Ditulis dalam CelotehAyah&Mama oleh wiratara pada Juli 29, 2009

Beberapa hari ini isteriku terus mengulang-ulang permintaan yang sama setiap kali aku telepon…bahkan akhir-akhir ini dengan nada ancaman!! wah, ngeri sekali, kok pake ancam mengancam kayak teror bom..

Bukan!…dia bukan minta Blackberry Javelin…Salah lagi!..dia tidak minta dibelikan Jam tangan Esprit atau CK…..

Terus apa…apa yang kiranya bisa membuat isteriku begitu gusar dan terus menerus menerorku hingga memberikan deadline besok harus sudah terpenuhi?? …permintaan isteriku adalah *********************(sensor)

Yah, tapi itulah isteriku. Kadang lucu, geli dan bercampur kasihan. Tapi satu yang aku mulai salut..tumben isteriku mau ditawari ikut lomba pidato…

“WHAT A BREAKTHROUGH!!!” (teriak sambil membayangkan wajah Tung Desem Waringin sang motivator keuangan ‘kapitalis’)…

“Boleh deh ma, hari ini permintaan mama akan ayah turuti dengan senang hati”…ucapku lirih mengakhiri tulisan ini dengan sebuah senyuman kecil…

 

Diemen, 29 juli 2008

Wish me all the best…!!

Ditulis dalam DuniaRafi oleh wiratara pada Juli 27, 2009

Malam ini aku begadang lagi — ya, mungkin itulah tag line yang tepat untuk tulisan ini. Betapa tidak, aku harus bangun pagi2 jam 4 subuh untuk memulai hari baru dengan sebuah ‘tes tertulis’ yang mungkin merupakan salah satu dari ‘babak baru’ dalam kehidupan dan dalam karirku. Mengingat pengalaman-pengalaman lampau aku tidak bisa terbangun meski jam weker sudah di set, akhirnya aku memutuskan untuk tidak tidur saja malam ini (cuman tadi sore jam 8-11 p.m. udah lumayan tidur bentar).

Syukur yang tak terperi –ya, itu mungkin adalah tag line yang kedua. Why? Kenapa? karena setelah sekian lama tiada terdengar kabar, tiba2 saja kemarin pagi isteriku menelepon “Mas, tadi ada orang dari perwakilan kantor *** menelepon, menanyakan apakah bisa ‘written test’ online besok tanggal 28 jam 9.00-11.00 pagi; mereka minta konfirmasi via e-mail sekarang!”..meski saat telepon berbunyi aku baru saja bisa tertidur dua jam (3.30 a.m. – 5.30 a.m.), namun cukup menjadi ‘energizer’ untuk segera menyalakan komputer dan membuka e-mail yahoo-ku. Wah, lamaran yang sudah aku kirimkan 1,5 bulan yang lalu dan aku pikir sudah ditolak ternyata ceritanya belum selesai. Alhamdulillah…

Nervous — Ya, itulah perasaanku saat ini. Walau kemarin sempat kontak dengan kawan yang kerja disana dan diberikan sedikit arahan, tetapi tetap aja masih nervous. Sama kayak waktu mau UMPTN atau mau ujian ko-ass di bagian-bagian besar (khususnya Obs-gyn yang sempat tak lulus..hiks..).

Do’a — Ya, hanya itulah penolongku saat ini. Dalam setiap do’a aku seringkali panjatkan kepada-Nya “Ya Alloh, jika ini adalah jalan yang terbaik untukku maka dekatkan dan lancarkanlah usahaku; tetapi jika menurut-Mu jalan ini bukan yang terbaik untukku maka jauhkan lah dan buatlah aku tetap sabar..”

Dear All, wish me luck and I hope the same thing to you….

 

Diemen, 28 July 2009. 01.04 a.m. after midnight

Teror BOM kemana arahmu??

Ditulis dalam DuniaRafi oleh wiratara pada Juli 26, 2009

Sudah hampir 10 hari ini kita dibombardir oleh berita mengenai kasus bom di hotel The Ritz Carlton dan J.W. Marriot di Mega Kuningan Jakarta. Entah karena sedang ‘hot’ atau memang karena media sedang kesetanan dengan kasus ini sehingga seolah-olah berita-berita penting lain non kasus bom hanya dijadikan berita sampingan dan tidak mendapatkan porsi yang cukup.

Tengok saja, bagaimana kasus lumpur lapindo menguap, kasus-kasus sengketa pemilu sudah mulai tidak dilirik, kasus-kasus gizi buruk, kasus-kasus kemiskinan, kasus sekolah digusur, dan kasus-kasus lain  yang lebih dekat dengan rakyat seolah bukan merupakan isu seksi. Ya, dampak Bom memang begitu luas. Tidak hanya memakan korban jiwa, tetapi juga mampu mengalihkan perhatian masyarakat dari isu-isu yang lebih membumi.

JELAS! Bahwa pelaku teror bom sudah mencapai maksud dan tujuannya. Mencari dan mengalihkan perhatian!

Beberapa hari yang lalu di metro tivi ditayangkan acara spesial ‘Indonesia Unite’ yang dimotori oleh teman-teman ‘twitter’, sebuah komunitas ’micro-blogging’ yang entah sampai saat ini saya masih belum tertarik gabung. Dengan slogan ‘Kami Tidak Takut!’ seolah-olah ingin menyampaikan pesan kepada pelaku teror bahwa mereka tidak mencapai tujuannya. Tapi apa lacur, berita yang begitu gencar, turunnya hunian hotel, dan juga mobilisasi ‘resource’ milyaran rupiah untuk memburu mereka merupakan bukti bahwa ‘teroris’ itu telah mencapai sebagian dari tujuannya.

Apa tujuan Bom mu? kenapa kamu selalu lolos? tidakkah kamu terdeteksi? kenapa teman-temanmu bisa dengan mudah ditangkap ’hanya’ setelah bom kau ledakkan? Apakah memang ’Nurdin M Top’ itu ada? …Ah, ratusan pertanyaan itu silih berganti merasuki otakku seolah kesetanan…aku seperti kerasukan tanda tanya..aku ’teralih’ dari tugas utamaku belajar dan menyelesaikan ‘thesis’! wahai kamu yang disebut ‘teroris’, enyahlah dari otakku!!

H1N1 mulai memakan korban

Ditulis dalam DuniaRafi oleh wiratara pada Juli 26, 2009

Hari ini saat saya streaming metro tivi, ada sebuah berita yang walaupun tidak mengejutkan tapi cukup memprihatinkan. Ya, berita bahwa H1N1 telah meminta korban pertamanya di Indonesia. Menurut berita lain yang dilansir di Media Indonesia bahwa korban meninggal adalah seorang bocah perempuan berumur 6 tahun di Jakarta. Cuma ada yang kurang dari berita ini, bahwa tidak dielaborasi apakah bocah ini memiliki kontak dengan orang yang pernah datang dari Luar negeri ataukah pernah melakukan perjalanan ke luar negeri atau ke wilayah-wilayah dengan kasus konfirmasi H1N1. Kalau memang ada riwayat tersebut, masih dapat diasumsikan bahwa kasus H1N1 masih terlokalisir, tetapi apabila tidak ada riwayat tersebut, maka bisa di ‘andai-andaikan’ bahwa kasus ini sudah tersebar lebih merata/meluas di Indonesia.

Data dari WHO GAR Pandemic H1N1 tertanggal 6 juli 2009 menunjukkan bahwa kasus kumulatif di Indonesia 20 kasus dengan 12 kasus konfirmasi H1N1. Data surveilans ini termasuk sangat lamban dibanding dengan kasus H5N1 yang diupdate hampir mingguan meskipun kini sudah mulai melambat dikarenakan jumlah kasus yang semakin berkurang (lihat disini update H5N1 1 july 2009).

Kalau anda lihat dari data H5N1 yang ditampilkan, tidak mengherankan bahwa Indonesia menduduki peringkat pertama baik dalam jumlah kasus (141) maupun jumlah korban meninggal (115) dengan Case Fatality Rate/CFR mencapai 81.5% alias tertinggi/terganas di DUNIA!.

Menurut update hari ini (27/7/09) yang dirilis Depkes di Indonesia sudah terdapat 400 kasus positif H1N1 yang tersebar di 15 propinsi. Wah, luar biasa cepat perkembangannya. Dengan 1 korban meninggal, berari CFR = 2-3 per 1000 kasus.

Seperti yang telah di dengung-dengungkan oleh Departemen Kesehatan melalui Menkes Dr. Fadillah Supari bahwa ‘kita’ telah siap dengan pandemi H1N1 karena salah satu alasannya kita pernah 2 kali melakukan simulasi pandemi H5N1 atau lebih dikenal dengan Flu Burung. Alasan yang menurut saya semi logis. Kenapa demikian?? ya, karena simulasi adalah suatu keadaan yang dibuat dengan skenario, sementara kondisi riil pandemi adalah ‘unpredictable’, sesuatu bisa berubah dari menit ke menit, tidak jelas arah dan kemana akan menuju. Bercermin kepada kasus H5N1 diatas, maka setidaknya kesiapsiagaan pandemik harus terus ditingkatkan dalam tataran operasional disetiap level.

Dunia pernah mengalami pandemi ‘flu spanyol’  pada tahun 1918 dan hal ini tidak dapat dipandang remeh.

Seperti dalam tulisan saya terdahulu tentang ancaman pandemi H1N1 (yang kini sudah terjadi) bukan tidak mungkin dengan kondisi sekarang kita akan menjadi negara yang cukup parah terimbas. Naudzubillah! Mudah2an Alloh selalu melindungi kita semua dan memberikan pemimpin-pemimpin kita kekuatan dan kejernihan hati dalam menentukan kebijakan yang terbaik bagi warga negaranya.

Update 29/7/2009: WHO merilis update dari perkembangan kasus H1N1 per 27 juli 2009 disini dengan jumlah kasus positif 134,503 dan kematian 816 yang setara dengan CFR = 0.6% atau 6 kematian dari 1000 kasus.

Salam sehat,

Selangkah Menggapai Awan

Ditulis dalam CelotehAyah&Mama oleh wiratara pada Juli 22, 2009

Pagi sudah mulai menyongsong malam disaat bulir-bulir gerimis hujan membasahi jalan setapak disamping Flat ku di sebuah kota kecil di Belanda. Ya, saat ini sudah menjelang jam 01.00 dini hari di kotaku, Diemen, Noord Holland. Dingin yang begitu menusuk seolah tidak kuperdulikan, bahkan umpatan teman-temanku di facebook yang insomnia seolah kubangku pajangkan. Hmmm…aku cuma bisa menghela nafas ini pelan.

Tak terasa sudah hampir 10 tahun aku mengenal internet. Mulai dari saat awal masuk kuliah kedokteran dulu, hingga kini aku di memasuki bangku kuliahan dibelahan dunia yang lain. Internet sudah menjadi temanku bermain, temanku berkeluh dan temanku berkisah. Kini mungkin ketergantunganku dengan dunia maya ini semakin menjadi tatkala kerinduanku akan anak semata wayangku dan isteri tercintaku begitu mendera. Browsing, blogging, blogwalking, social networking, live streaming atau bahkan hanya sekedar chatting via YM dengan obrolan-obrolan ringan yang sama sekali tidak penting menjadi pelampiasan yang cukup melegakan. Ah, entah sampai kapan duniaku terbagi antara semu dan realita..entahlah..

Tiba-tiba saja anganku melayang pada saat pertama kali aku mengenai dunia ini. Kala itu tahun 1999, saat pertama kali aku menginjak bangku kuliah. Saat itu pula sedang booming warnet yang tumbuh menjamur hingga di sudut-sudut kampung dikotaku Semarang. Sebagai informasi, aku adalah pendatang dari sebuah kota kecil bernama Gubug di Kabupaten Grobogan. Mungkin kalian bisa menemukan lokasinya di peta, cuman perlu sedikit usaha untuk mencari, minimal dengan kaca pembesar atau mikroskop elektron kalau punya.

Malam itu baru saja hujan berhenti, dan kebetulan juga aku ada janji dengan sahabat SMA-ku Adi untuk datang ketempat dia bertugas menjadi Penjaga rental internet. Ya, hari itu dia akan menjadi ‘guru’ untukku. Kurikulumnya hari itu: INTERNET!. Maklum, biar dikata orang udik, tapi nafsu kepingin go public sudah tak tertahankan. Kata orang, kalau bisa main internet, kamu bisa banyak temen dan bisa cari duit dengan gampang. Doktrin itu terus terngiang-ngiang dikepalaku, layaknya tawon kumbang yang mengebor atap rumah kost. Kebetulan jarak kost ku dengan warnet Adi tidak terlalu jauh dan cukup kutempuh dengan jalan kaki 10 menit, yah itung-itung olah raga malam sembari penghematan. Sesampainya disana, warnet tampak ramai sekali. Remaja-remaja tanggung usia belasan tahun tampak berjubal didalam bilik-bilik kecil setinggi satu meter itu. Yang tampak hanya kepala-kepala yang berhimpitan dan kadang bergoyang-goyang karena tergelak. “Ah, kenapa pula mereka itu” pikirku dalam hati. Apa gerangan yang membuat mereka tertawa hingga tergelak tak ada henti? Ah, masa bodoh! aku langsung mencari sahabatku Adi yang ternyata sedang membantu salah seorang gadis remaja (yang cukup manis..hi..hi..). Entah tombol-tombol apa yang dia tekan. “Sudah beres, nanti kalau ada masalah lagi bilang ke saya ya..” ujar Adi kalem pada gadis itu.

“Hai Yat, sudah lama?” sapanya sambil tersenyum. Lucu sekali melihat senyum temanku yang satu ini. Dua gigi atas depannya yang menonjol mirip sekali dengan gigi Bugs Bunny yang rutin nongol di Looney Toones tiap jam 4 sore di stasiun tivi swasta. “Ah, barusan..lagi sibuk?” jawabku sekenanya. “Ah, tidak..kebetulan lagi penuh..tunggu bentar lagi ya..kalau ada yang kosong nanti kamu masuk..”

Yah, mau bagaimana lagi, hasrat untuk kenalan dengan Mr. Internet sudah diubun-ubun. Akhirnya selang 30 menit dua orang gadis tanggung keluar dari bilik pojok dekat dengan kipas angin. “Nah, kau boleh pakai yang itu..” Ujar Adi sambil menunjuk ke sebuah bilik. Akhirnya aku bergegas masuk ke bilik yang cukup sempit itu, tetapi lumayanlah berhubung parasku yang cukup atletis (kurus kering maksudnya) jadi cukup ngepas. Segera ku gerak-gerakkan mouse komputer itu dan dalam sekejap layar yang tadinya gelap segera berubah menjadi biru dengan latar belakang pegunungan dan beberapa gambar-gambar kecil yang entah untuk apa gunanya. Yang jelas ada tulisannya “windows”, sama seperti dilayar komputer di SMA ku waktu ekstrakurikuler. Sejenak aku tercengang. ”Apa yang harus aku lakukan ya? ” pikirku dalam hati. Ah, setelah beberapa saat terpekur, akhirnya kuputuskan untuk bertanya. Malu bertanya sesat dijalan pikirku.

Belum sempat aku berdiri, sekonyong-konyong datang Adi menghampiri bilikku sambil senyum-senyum simpul (syialan, dikerjain aku, pikirku dalam hati). ”Lho kok belum mulai?” Suara Adi yang terdengar seolah seperti meledek. “Mulai dari hongkong!, nah itu gambar-gambar aja aku ndak ada yang ngerti gunanya!” sergahku sengit. “Hahahaha….sori…sori…aku lupa” Adi segera menimpali. “Nah, kalau mau “browsing”, tekan gambar “e” ini, lalu ketikkan “www.google.com” baru kamu masukkan kata kunci apa yang kamu cari..” Entah setan apa yang merasuki Adi malam itu, dia terus nerocos tanpa henti menjelaskan dengan kata-kata yang tidak aku mengerti. “Ngerti Kan??” Tiba-tiba suara Adi membangunkan aku yang sempat terbawa lamunan. “Hah, yang bagian mana maksudmu?” jawabku polos. “Astaghfirullah, ya yang tadi aku jelasin…!” Adi tampak sedikit jengkel. “Hmm…sebenarnya aku masih bingung, soalnya dari tadi kamu yang pegang mouse sama keyboardnya, jadinya ya aku ndak ngikutin apa yang kamu praktekin”..ucapku mengiba. “Oalah mas..mas…ya udah kita ulangin lagi..saya yang ngomong, sampeyan yang praktek” Tukas adi dengan gaya ’solo’ medhok yang dibuat-buat. Akhirnya setelah beberapa kali praktek dan pengulangan akhirnya malam itu aku bisa ”browsing” di internet. Wah, begitu gembiranya aku malam itu, seakan-akan impianku untuk menggapai impian  ‘go public’ via internet sudah didepan mata. Dan sejak hari itu, aku mulai rajin berkunjung ke warnet Adi, entah cuman beberapa menit atau bahkan beberapa jam. Alhamdulillah sedikit demi sedikit aku mulai bisa menggunakan internet dengan baik.

Ah..lucu memang kalau mengingat masa-masa itu. Dan disinilah aku sekarang ini. Bersekolah di negeri kincir angin yang informasi dan pendaftarannya aku lakukan dengan internet. Ah, beruntungnya aku sempat berkenalan dengan dunia maya ini. Sebuah dunia yang mampu membawaku melanglang buana diberbagai belahan dunia. Kini, hampir setengah hari dalam 24 jam hidupku bertumpu dan berkutat dengan layar dan tombol-tombol putih dari komputer jinjing kesayanganku. Entah hingga kapan, aku pun tak tahu. Tapi yang pasti aku kini sudah “selangkah untuk menggapai awan mimpiku”…

 

NB: Buat Adi Jaka, terimakasih sudah mengenalkanku pada dunia yang indah ini, dunia dimana batas-batas fisik bukan merupakan penghalang, dunia dimana jarak bukan lagi hambatan, dan dunia dimana impian adalah milik semua orang.

Salam,

Diemen, Netherland. 23 Juli 2009. Jam 1.34 pagi.