Cool Outside..Burn Inside! (Dilagukan kayak iklan U C 1000)
Hah!
Hari ini pelajaran resolusi konflik lagi..
Mungkin dah yang keberapa kali saya ikut training/kuliah tentang bab ini..
Sampe2 hari ini saya speechless…alias mbisu…
Cuman ada sesuatu yang tiba2 terlintas dibenak ini..
teringat beberapa tahun yang lalu…ya..beberapa tahun yang lalu..
Rikolo jaman semono, saya masih seorang fresh graduate, sedang “gaya-gayanya”..maklum “dokter” baru lulus…ilmu tak seberapa…yang penting “nggaya”..
Jiwa muda, ilmu yang pas-pasan, ditambah kumpul dg beberapa orang dg sifat yang sama…wuahhh…jadilah! maksudnya, jadilah tak karu2an..
Saat itu saya adalah pribadi yang emosional, terkadang suka asal2an, terlebih dalam memperlakukan orang…mulai dari kawan sekerja, sopir dikantor, hingga klien tempat saya kerja pernah jadi pelampiasan kemarahan saya…akibatnya..yah..penah hampir baku hantam ma sopir di medan, ampe sopirnya ngambek mau tinggalin mobilnya disono…wah, pokoknya bisa dibilang blo’on banget dah saya waktu itu..
Cuman satu yang saya acungi jempol pada diri saya sendiri..(ngelem ndas sepur)..dan sampai saat ini selalu saya jaga…saya orang yang “straight forward”…makanya terkadang itu yang menjadi masalahnya.
Saya cenderung suka bilang apa adanya..suka..tak suka…benci..atau bahkan terang2an berkonfrontasi dengan lawan…itu mungkin bisa jadi kelemahan atau mungkin kelebihan saya…entah..
Yang jelas saya merasa nyaman saat itu…kalau saat ini, mungkin tetap masih sama cuman agak terkontrol..
Saya banyak melakukan observasi…dalam lingkungan keluarga….kantor…atau pergaulan sehari-hari..
Saya banyak menemukan fakta yang cukup membuat saya terusik..bahwa “mulut manis itu seringkali berbisa!”…banyak orang yang didepan nya manis, selalu “iya pak/bu”..”inggih pak/bu”..”sendiko pak/bu”….tapi dibelakang berputar 180 derajat sambil bilang “sontoloyo!”..”demit wedok”…”nenek sihir”…”kuntil anak”…”kuntil ibu”…”kuntil bapak” dbs-lah. Terus dimana yang salah?? saya istilahkan “cool outside, burn inside!” (english asal2an…sing penting ngerti maksudnya)
Menurut saya yang salah ya..orang2 ini tidak mau jujur pada dirinya sendiri!
Nalarnya, kalau sama diri sendiri aja tidak mau jujur, bagaimana dengan sama orang lain…
Pada prinsipnya dalam menghadapi konflik, anda harus bisa memposisikan dengan tepat..apakah anda akan aktif dan menghadapi konflik tsb atau pasif dengan menghindar? terserah anda pastinya, tak ada yang benar dan tak ada yang salah, yang membedakan ya tentu outputnya..apakah konflik itu selesai atau mejadi fenomena bola salju..
Nah, saya cukup yakin bahwa manusia bisa dan harus berubah!..bertransformasi menjadi lebih baik adalah wajib. Tinggalkan yang buruk2, bawalah yang baik2 (tapi jangan dipake alasan nyuri sendal di masjid ya..). Saya selalu berusaha untuk itu, meski hasilnya belum maksimal tapi setidaknya saya sudah berusaha.
Bagaimana dengan anda??
Untung atau Rugi??
Untung atau rugi???
Rumornya, kata “untung” adalah kata yang paling banyak diucapkan oleh orang jawa. Gak percaya?
Rumornya juga, kata “rugi” adalah kata yang paling banyak diucapkan oleh pedagang2 keturunan tionghoa. Gak percaya juga?
Tapi fakta berkata lain. Orang jawa yang sering “untung” nyata-nyatanya ya masih ajeg miskinnya tuh. Sedangkan saudara2 kita pedagang keturunan tionghoa yang kata mereka sering “rugi” malah jauh lebih kaya dan mapan. Sssttt…tetapi katanya walaupun gak kaya2 kali, orang jawa (karena sering merasa untung) maka hidupnya lebih nrimo dan lebih tentrem.
Batasan untung dan rugi adalah sesuatu yang absurd. Kontekstual dan subyektif. Untung menurutmu bukan berarti untung untuk yang lain, begitu pula rugi menurutmu bukan pula rugi untuk orang lain. Pengalaman masa lampau, pengetahuan, dan juga kondisi sosial banyak berperan dalam hal ini.
Mungkin perlu dilakukan survey atau studi eksploratori mengenai apakah persepsi terhadap “untung dan rugi” ini berhubungan dengan status sosial ekonomi dan kondisi psikologis seseorang. (gak penting kali ya topik studinya..he..he..)
Merasa diperlakukan tidak adil??
“Ah…atasan saya tidak adil..saya selalu diberikan tugas lebih berat dari pada teman2 yang lain, padahal teman saya yang posisinya sama dengan saya bisa nyantai setiap hari…..”
Sering kita jumpai atau bahkan kita alami sendiri; pengalaman, keluhan, sumpah serapah (#@^^##sdad %#@!) atau sebagainya. Mungkin anda menganggap nasib anda jelek, kurang beruntung, apes atau apalah. Tapi tahukah anda; kenapa atasan anda melakukan hal tersebut??
Saya pernah dalam posisi seperti itu (jadi bawahan) dan saya pernah juga berada diposisi yang memberikan tugas (pura2nya atasan). Nah, saya akhirnya baru tersadar dan mensyukuri bahwa atasan dulu memberikan beban kerja yang cukup tinggi kepada saya hingga membuat saya di kemudian hari menjadi pribadi yang lumayan bandel/kuat, tenang, dan dapat diandalkan (itu kata orang2, tingkat kebenaran dan validitas masih dapat dipertanyakan). Saya terkadang tertawa geli mengingat kejadian2 dimana saya mengumpat, mengeluh atau bahkan menceritakan kejelekan2 atasan (subyektif menurut versi saya) kepada teman2 lain yang kebetulan setali tiga uang dengan saya. Saat itu mata saya begitu tertutup dan tidak bisa mencerna sesuatu yang sebenarnya gamblang; bahwa atasan saya memberikan beban kerja berlebih kepada saya karena dia percaya bahwa saya bisa dan juga kedua karena dia ingin saya berkembang!
Ya, kalau tidak atas dasar percaya, seorang atasan tidak akan menyerahkan begitu saja tugas (apa lagi yang penting) kepada seorang karyawan (ingat: seorang pimpinan juga butuh mikir kepada siapa tugas akan diberikan). Jadi anda dianggap dapat dipercaya dan kapabel.
Saya pernah punya beberapa staf yang saya sukai. Rajin, mampu dijadikan lawan diskusi dan juga punya inisiatif tinggi. Saya suka sekali menyerahkan tugas2 yang cukup penting kepada mereka dengan deadline tentunya dan mereka bisa tuh. Memang agak berat awalnya. Saya masuk di NGO saya sebagai staf baru dan anggota tim saya rata2 sudah bekerja diatas 2 tahun. Saat masuk saya kenalkan diri saya dan tentunya style kepemimpinan saya. Dalam 3 bulan pertama, kelihatan mereka kurang bisa mengikutinya, mungkin karena transisi dari pemimpin sebelumnya yang ABS dan “ndoroni” ke saya yang cenderung ”egaliter, mandiri, dan terbuka”. Dari awal saya tekankan, bahwa saya bukan atasan dan mereka bukan bawahan, tetapi kami adalah tim, dengan posisi dan peran masing2 yang saling terkait. Setelah 6 bulan bekerja mereka mampu menyesuaikan (sebagaimana saya juga menyesuaikan terhadap mereka). Tim kami yang tidak begitu besar, dikenal solid dan mumpuni. Event2 besar kami percayakan hanya pada 1 atau 2 orang saja sebagai PJ. Lain halnya dengan tim lain yang nampak begitu kerepotan kalau ada acara kecil sekalipun.
Terkadang memang saya merasa kasihan karena mereka harus mengikuti irama kerja saya. Tetapi akan lebih kasihan lagi kalau saya biarkan mereka bekerja hanya ”seadanya”. Saya ingin mereka dan saya sama2 menjadi pribadi2 yang tangguh dan mampu diandalkan disegala posisi dan kondisi. Walaupun hasil yang kami capai masih jauh dari yang diharapkan, tetapi setidaknya kami memperoleh sebuah pembelajaran yang berharga.
Dunia Memang Sempit!

Ungkapan bahwa dunia selebar daun kelor mungkin sudah sering kita dengar…namun sadarkah kita bahwa ungkapan itu memang hampir mendekati benar adanya???
Jaman dahulu (<1990), untuk mencari informasi tentang segala sesuatu yang kita butuhkan atau yang ada diluar sana (dunia) amatlah sulit…paling2 radio, tivi (itupun UHF masih jarang, masih pake parabola…itupun bila mampu…) dan hanya terbatas. Jaman berubah, teknologi berkembang, penemuan demi penemuan bermunculan, internet yang semula hanya dikonsumsi oleh segelintir orang (private good) berubah menjadi komoditas khalayak (meskipun tetap private good). Tua, muda, bahkan anak TK sekarang udah mahir pake internet. Via PC, laptop, HP, hingga blackberry…pake kabel (LAN), wireless, atau portable device (gak tau namanya)…wuih…jaman bergerak jauh lebih cepat. Sekat2 informasi mulai terkuak. Jarak, ruang dan waktu bukan lagi barrier yang bermakna. Hmm…dalam hitungan sepersekian detik mr.Google bisa mencari lebih dari sejuta artikel yang kita kehendaki…dalam sepersekian detik kita bisa mencari data seseorang tanpa harus repot2..tinggal ketik key words…enter..pufff….mr.Google segera menampilkannya…
Teknologi streaming juga semakin menceriakan suasana…bagaimana tidak, teleconference yang dulu hanya dipakai kalangan elit, kini sudah dapat dinikmati khalayak dengan murah meriah..seiring dengan munculnya YM, Skype, Voip de-el-el. Wuahhh..dunia semakin meriah! dan semakin sempit! Bahkan tanggal 27 feb kemarin kawan saya nikah jarak jauh via video konferens (cewek di Jepang, cowok di Pekalongan)..opo ora tumon!
Nah, kalau sudah begini, ungkapan dunia selebar daun kelor mungkin ada benarnya juga….(tentunya kontekstual bung!).
Salam,
leave a comment