Play safe vs Risk Taking: It’s just a matter of choice!

Being saved like the big fish in the aquarium box or taking risk like the small fish in the great lake? it is just a matter of choice…but with a different destination!
Ayahrafi in Action: Kompilasi foto rupa-rupa Bag. II


Ayah (saat masih di IOM) diatas geladak USNS Mercy yang sedang merapat di Pelabuhan Ule Lhue untuk kegiatan pengobatan, bawah foto Kapal USNS Mercy.

Ayahrafi (baju merah) dan dr.Roland Iqbal (baju putih), dan penyiar (berjilbab) saat sedang On-Air di Radio Flamboyan Banda Aceh untuk acara Talkshow Kesehatan Reproduksi.

Ayahrafi (saat masih di IRC) santai sejenak setelah keliling survei dengan UNICEF untuk pemilihan lokasi pembangunan Posyandu Plus.

Ayahrafi (CARE International) sedang sibuk mengerjakan laporan.

Ayahrafi saat memberikan pelatihan kepada staf CARE International mengenai Flu Burung. Foto diambil dikantor CARE di Lamteumen, Banda Aceh.

Ayahrafi (baju krem) saat masih di IOM bersama dr.Afvan Kurniawan (sekarang PPDS bedah Unair). Foto diambil di Tapaktuan, Aceh Selatan.
Sebenarnya masih banyak koleksi foto-foto Ayah, cuma tersebar dan agak ribet nyarinya. Untuk sementara sekian dulu ya.
salam,
Amsterdam, 24 Jan 09.
Ayahrafi in Action: Kompilasi foto rupa-rupa Bag. I

Foto Ayahrafi (baju biru pegang mic) saat pelatihan Flu Burung bagi Poskeswan Banda Aceh dan Aceh Besar. Foto diambil di Aula Dinas Peternakan Propinsi NAD.

Ayah dan mama rafi di Sijori Resort, Batam. Foto diambil saat ayah mengikuti pelatihan Logical Famework approach dan Project Management.

Ayahrafi (baju ungu duduk) dan Risang Rimbatmaja dari Koalisi untuk Indonesia Sehat-KuIS (baju biru kotak2 duduk). Training Behavioral Change Communication, Green Paradise Banda Aceh.

Ayahrafi (tengah baju putih) Saat Studi Banding di Puskesmas Cipendawa, Cianjur, Jawa Barat.

Ayahrafi (pegang mic) menyampaikan sepatah dua patah kata penutupan pelatihan Flu Burung untuk staf Surveilans Dinkes Banda Aceh dan Aceh Besar. Disebelah, dr. Media Yulizar, MPH (dulu Kasubdin P2P Dinkes NAD, sekarang Kadiskes Kota Banda Aceh).
End of part I
Ayah rafi: Foto kenangan

Foto ayah dan sebagian teman2 seangkatan selepas yudisium akhir dan setelah rapat panitia wisuda dan sumpah dokter berpose di depan gedung baru dekanat FK UNDIP. Ayah rafi berdiri di lapis ketiga ditengah-tengah dan diapit dua cewek. Hmm..dah mirip Don Juan belum ya…miss you guys! (btw, ayah rafi ketua panitia lho..)
Diemen, Amsterdam 18-1-09
Ibuku dan material bangunan…

(berdiri ki-ka: Ayu (adik), Sasa kecil (adik), Dewi (adik), Yayat (penulis). Duduk ki-ka: Bapak, alis (anak kakak), Ibu)
Judul yang aneh ya..
Tapi hal ini tiba2 saja terlintas dalam benakku saat tadi aku random blog walking..
Begini ceritanya:
Kala itu kalau saya tidak salah saya masih SMA. Kami sedang melakukan renovasi rumah, dan kebetulan ada bahan yang kurang dan harus kami beli. Tipikal ibu saya, tidak mau beli didekat rumah, katanya mahal, mendingan beli di Gubug aja [kota kecamatan] lebih murah dan banyak pilihan. Yah udah lah, mau gimana lagi. Akhirnya aku dan ibu pergi naik sepeda motor Kaze-R tercintaku. Selang 30 menit kemudian sampailah kami di toko bangunan yang dituju. Setelah pilih-pilih barang dan cas cis cus, akhirnya kami memutuskan pulang. Adapun material yang kami beli adalah Seng untuk talang air satu gulung, cat, kuas, dan beberapa material kecil lain yang dibungkus dalam kantong plastik. Karena gulungan sengnya cukup berat, maka kami memutuskan saya yang dibelakang dibonceng sambil megangin kantong plastik dan seng tersebut.
Nah, ibu kemudian bersiap mengendarai sepeda motor, dan gulungan seng yang cukup berat dan kantong plastik tadipun segera aku naikkan keatas sadel sepeda motor. Kemudian saya pun bersiap untuk naik membonceng. Tanpa dinyana dan tanpa diduga, belum sempat saya naik sadel boncengan, tiba-tiba ibu sudah tancap gas dan ngacir begitu saja. Sejenak saya tertegun..[speechless], selang beberapa detik kemudian aku pun berteriak2 seperti orang kesurupan..ibu..ibu..ibuuuu….saya ketinggalan….Tak hanya saya, orang2 yang melihat kejadian itupun tak kalah sibuknya dengan saya memanggil-manggil..bu…bu…anaknya ketinggalan tuh… Entah apa dibenak ibu waktu itu, beliau tetap ngacir dengan santainya sambil memboncengkan segulung seng dan sekantong cat yang dikira adalah puteranya.
Geli bercampur malu, akhirnya saya meninggalkan tempat tersebut berjalan kaki, dengan harapan ibu tidak kenapa-kenapa. Selang 10 menit kemudian saya lihat ibu berbalik dari arah berlawanan…tapi kali ini tanpa seng dan tanpa kantong plastik. Ibuuuuuuu….teriak saya sekuatnya…ibuuuuuu…setelah teriakan kedua baru beliau melihat. “Alhamdulillah nang, kirain kamu tadi jatuh dimana…saya tanya orang-orang apa lihat anak yang saya bonceng tadi..eh, orang2 cuman bilang katanya ibu cuman boncengin seng..”kata ibu. “Yah, ibu, orang dari tadi belum naek kok..” sergahku. “Pantesan saja tadi sepanjang jalan ibu ajak ngobrol nggak ada jawab…”timpal ibu. Speechless saya……ibu, alhamdulillah kita masih diselamatkan Alloh, andaikan ada apa2 waktu itu, pasti kenangmu ini akan merasa sangat berdosa.
Ah, lucu kalau mengenang waktu itu….
Diemen, Amsterdam 18-1-09
Matahari di atas ranting..

Sebuah foto yang diambil di sebuah pagi di Diemen. Ah alangkah indahnya matahari ini menyembul dari rindang daun nan hijau. Apakah ini matahari yang sama yang dulu kunikmati tiap pagi dengan isteri tercinta dan si bujang ku yang lucu di nanggroe darussalam?…Yah, mungkin saja. Selamat bertemu kembali di belahan bumi yang lain. Mudah2an beberapa jam yang lalu kau sudah menemui isteri dan anakku di belahan bumi timur sana. Sampaikan salamku pada mereka dan kuwakilkan kehangatan pelukanku untuk mereka dengan belain lembut cahyamu. Selamat pagi matahari, selamat berjumpa kembali…
Diemen, 18-1-09
Hidup adalah pilihan…

Ya, judul yang sudah lazim mungkin kita dengar bersama…semua orang tahu dan semua orang ngerti. Laiknya iklan politik yang kerap ditayangkan ditivi bahwa pesan terbukanya: Hidup adalah perbuatan! [pesan terselubungnya: Pilih saya untuk 2009..]. Hah!..satu lagi pelajaran yang coba dibenamkan kepada benak kita dari iklan ini, bahwa hidup adalah benar-benar sebuah perbuatan, bukan dibuat-buat, bukan juga tanpa berbuat [jadi jangan golput nanti, pilih siapa saja bebas] itu maksudnya. Termasuk pengiklannya yang memilih mengeluarkan uang milyaran supaya dikenal publik untuk kemudian ujungnya dipilih menjadi presiden. Nah makin jelas kan..
Btw, menjauh sejenak dari dunia perpolitikan yang gila dan nggilani. Ayah dan mama rafi sekarang ini sedang memasuki masa2 kritis memilih jalur hidup, mau kemana kah kami nantinya. Apakah ayah akan menekuni bidang yang sekarang sedang dirintis ini? ataukah ayah menggunakan momen ini hanya sebagai stepping stone untuk melompat lebih tinggi?? yah sekali lagi, hidup harus memilih..
Mama rafi juga sedang bimbang, apakah keputusannya untuk sekolah lagi sudah berada di jalur yang benar? ataukah masih harus berfikir lagi apakah pilihannya sudah tepat atau memang harus berubah? Yah, sekali lagi kami dihadapkan kondisi harus memilih.
Dalam setiap detik, setiap hembusan nafas, setiap kedipan mata, setiap denyutan nadi dan detakan jantung, kita selalu dihadapkan pada pilihan2 hidup. Mulai dari yang paling sederhana misalnya:
1. Saya mau tidur jam berapa malam ini? apakah jam 10 malam dengan konsekuensi tugas belum selesai tetapi bisa bangun pagi, ataukan menyelesaikan tugas sampai jam 3 pagi tapi telat masuk kuliah karena bangun kesiangan?
2. Baju apa yang saya pakai hari ini, apa warna celana panjang setelannya, sepatu kulit atau sneaker, naik sepeda motor atau naik bus, bawa mobil atau naik taksi?
Hingga pilihan yang cukup rumit:
1. Jurusan kuliah apa yang mau saya ambil untuk seterusnya menjadi jalan hidup saya?
2. Gadis manakah yang akan saya nikahi untuk saya jadikan pendamping hidup sampai maut menjemput dan menjadi ibu bagi putera puteri kami..
Tidak ada yang mudah! Ya, meskipun pilihan itu nampaknya sederhana, tetapi tetap memerlukan olah pikiran dan juga pemahfuman. Dan hasilnya adalah sebuah ketetapan hati dan sebuah pilihan, dengan hasil dan konsekuensi yang dikandungnya..entah manis atau entah pahit…suka atau tidak…siap atau tidak…harus kita terima.
But, that is life! we must choose or we will loose..
Diemen, 18-1-09
leave a comment