Dunia Rafi

Fairus dan Si Kucing

Ditulis dalam Intermezo oleh wiratara pada November 26, 2008

funny-cat

 

Fairus pada dasarnya tidak menyukai kucing. Ia semakin benci ketika istrinya memelihara seekor kucing. Fairus merasa istrinya jadi lebih perhatian pada kucingnya daripada dirinya. Suatu hari Fairus memutuskan untuk membuang kucing tersebut secara diam-diam.

Ketika istrinya sedang mandi, ia pamit pergi keluar sebentar dan dibawanya si kucing. Setelah Fairus bermobil sekitar 10 km dari rumah, ia pun membuang kucing tersebut. Anehnya ketika ia sampai di rumah, si kucing sudah ada di sana. Fairus heran bercampur berang.

Sore harinya ia pergi lagi. Kali ini si kucing dibuangnya lebih jauh lagi. Namun tetap saja, sesampainya di rumah, kucing istrinya tersebut telah berada di sana. Fairus berusaha membuangnya lebih jauh lagi, lebih jauh lagi, tapi tetap saja si kucing bisa kembali ke rumah mendahului dirinya.

Suatu hari ia tidak saja membawa si kucing pergi jauh, tapi juga berputar-putar dulu. Fairus belok kanan, belok kiri, belok kanan, belok kanan lagi, berputar-putar sebelum akhirnya membuang kucing yang dibawanya.

Beberapa jam kemudian ia menelepon istrinya :
“Tik, kucingmu ada di rumah? ” Tanya Fairus.

“Ada, kenapa? Tumben nanya di si Manis segala,” jawab istrinya agak heran.

“Panggil dia Tik, aku mau tanya arah pulang. Aku kesasaar…! “

 

Taken from Andrie Wongso

Ditandai sebagai:, , , , ,

Kawin Silang

Ditulis dalam Intermezo oleh wiratara pada November 26, 2008

 

ketela_pohon_manihot_esculenta

 

Seorang guru bertanya kepada muridnya tentang pelajaran biologi. Kali itu, yang dibahas adalah soal tumbuh-tumbuhan.

Guru :”Aneka jenis tanaman ini, jika dikawinsilangkan akan menghasilkan berbagai jenis tumbuhan yang unik dan kadang mahal harganya.”

Murid :”Wah… ibu saya juga berhasil menggabungkan dua jenis tanaman jadi sebuah spesies baru yang laku dijual Pak…”

Guru :”Hebat sekali ibumu. Lantas… apakah tanaman yang dikawinsilangkan oleh ibumu?”

Murid :”Ketela dan kelapa Pak”

Guru : “Wah…itu penemuan baru. Hebat sekali. Memang ibunya ahli biologi ya?”

Murid :”Bukan Pak…”

Guru :”Lantas, apakah beliau ahli tanaman?”

Murid :”Bukan juga Pak…”

Guru :”Lantas…sebenarnya apa profesi ibumu sehingga bisa mengawinkan ketela dan kelapa?”

Murid :”Ibu saya jualan getuk Pak…”

Guru  : ???

 

Taken from Andrie Wongso

Tusuk Gigi

Ditulis dalam Intermezo oleh wiratara pada November 26, 2008

 

toothpick1

 

Seorang pembantu di omeli oleh oleh majikannya. ” Nem, kamu ini bagaimana, masa setiap hari tusuk gigi selalu habis separuh, kamu apakan sih ?”.

Inem, dengan santai menjawab:” Bu, sumpah mati , bukan saya yang membuang buang tusuk gigi ibu, ini mesti anak ibu si sinyo yang melakukannya “. 

” Atas dasar apa kamu menyalahkan anak saya itu ?”, bentak majikannya.

” Wong kalau saya, tusuk gigi yang habis saya pakai saya taruh kan kembali lho bu, tidak pernah saya buang !”.

“Ha”, si ibu majikan kaget .  ” Jadi selama ini tusuk gigi yang saya pakai ……………………….????” .

 

Taken from Andri Wongso

Syukur itu…

Ditulis dalam CelotehAyah&Mama oleh wiratara pada November 26, 2008

syukur

 

Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu. Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar.
Bersyukurlah untuk masa-masa sulit. Di masa itulah kamu tumbuh…
Bersyukurlah untuk keterbatasanmu. Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang.
Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru. Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu.
Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat. Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga.
Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih. Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan

 

 

taken from Alhakim

Telaga Hati

Ditulis dalam CelotehAyah&Mama oleh wiratara pada November 26, 2008

 

watersplash1

 

Suatu hari seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang dirundung masalah. Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung menceritakan semua masalahnya.

Pak tua bijak hanya mendengarkan dgn seksama, lalu Ia mengambil segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan,

 “Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya “, ujar pak tua

“Pahit, pahit sekali “, jawab pemuda itu sambil meludah ke samping

Pak tua itu tersenyum, lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke tepi telaga belakang rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampai ke tepi telaga yg tenang itu. Sesampai disana, Pak tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke telaga itu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya.

“Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah.” Saat si pemuda mereguk air itu, Pak tua kembali bertanya lagi kepadanya,

“Bagaimana rasanya ?”

“Segar”, sahut si pemuda.

“Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu ?” tanya pak tua

“Tidak, ” sahut pemuda itu

Pak tua tertawa terbahak-bahak sambil berkata:

“Anak muda, dengarkan baik-baik. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam serbuk pahit ini, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnyapun sama dan memang akan tetap sama. Tetapi kepahitan yg kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkannya. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu yg kamu dapat lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya itu, luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu”.

Pak tua itu lalu kembali menasehatkan:

“Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yg mampu menampung setiap kepahitan itu, dan merubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian. Karena Hidup adalah sebuah pilihan, mampukah kita jalani kehidupan dengan baik sampai ajal kita menjelang? Belajar bersabar menerima kenyataan adalah yang terbaik”

Penulis: Anonymus

 taken from alhakim

 

Diemen, 26-11-08